Mengentas Kemiskinan dengan Penerapan Syariat Islam

Oleh: Candra Windiantika

Penamabda.com - Sungguh miris, seorang ibu tega membunuh ketiga anak kandungnya sendiri yang masih balita. Kasus pembunuhan sadis itu terjadi di Dusun 2, Desa Banua Sibohou, Kecamatan Namohalu Esiwa, Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara.(Kompas.com,15/12/2020)

Pembunuhan dilakukan oleh seorang ibu berinisial MT (30) kepada ketiga anaknya yang diketahui berinisial YL (5), SL (4), dan DL (2).

Usai membunuh ketiga anaknya, pelaku sempat berusaha melakukan upaya bunuh diri dengan menggorok lehernya sendiri dengan parang namun digagalkan oleh suaminya. Setelah sempat dirawat dirumah sakit akhirnya pelaku menghembuskan nafas terakhir disebabkan penyakit lambung karena tidak mau makan.

Adapun penyebab pembunuhan sadis yang dibarengi dengan percobaan aksi bunuh diri itu karena diduga terhimpit masalah ekonomi.

Kasus seorang ibu membunuh anak kandungnya tersebut bukan satu-satunya. Di Dusun Sanggrahan Desa Mojotengah Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung, seorang ibu berinisial P (42) tega membunuh anak kandung yang baru dilahirkannya.(Tribunnews.com,17/12/2020)

Sementara sang ibu kandung, P (42) telah ditetapkan sebagai tersangka dengan dugaan membekap mulut dan hidung korban hingga tewas. Sementara suami tersangka TH(42) bahkan menguburkan jasad anaknya sendiri karena mengira itu adalah anak kambing. TH mengaku tidak mengetahui kalau istrinya sedang hamil.

Korban merupakan anak ke-4 dari pasangan P dan TH. Kasus tersebut hingga kini masih dalam penanganan Unit Reskrim Polsek Kedu bersama Satreskrim Polres Temanggung. Menurut hasil penyelidikan dan penyidikan ada motif malu dari pihak pelaku dan ada problem ekonomi.

Naluri seorang ibu adalah melindungi anaknya. Seorang ibu pun rela bertaruh nyawa demi melahirkan anaknya ke dunia. Ia seperti malaikat di dunia nyata. Namun, bagaimana bisa seorang ibu tega membunuh buah hatinya sendiri? Padahal seekor induk ayam pun akan menyerang ketika anaknya didekati.

Lagi-lagi urusan perut membuat orang gelap mata bahkan seorang ibu tega membunuh anaknya. Lantas, apa yang menyebabkan angka kemiskinan masih tinggi? Padahal jika kita melihat, Indonesia adalah negara yang sangat kaya dengan sumber daya alamnya.

Yang membuat kemiskinan masih merajalela adalah sistem pengelolaan perekonomian Indonesia yang masih menggunakan Sistem Kapitalis.

Sistem kapitalisme menghendaki seluruh kekayaan alam di kuasai oleh kaum swasta atau kaum pemodal. Sehingga apabila negara tidak mampu mengelolanya maka siapapun yang memiliki modal berhak untuk mengelolanya. Padahal kekayaan alam tersebut harusnya dimiliki dan dinikmati oleh rakyat. Dari sini dapat ditarik kesimpulan, sistem kapitalisme yang dianut yang menjadi penyebab terjadi nya kemiskinan dan mengapa tidak, bila kita mulai melirik sistem lain, yaitu sistem Islam.

Di dalam Islam, seseorang dikatakan tidak miskin apabila kebutuhan pokoknya terpenuhi. Kebutuhan pokok itu mencakup sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan. Sistem Islam mempunyai beberapa cara untuk mengentaskan kemiskinan.

Pertama yaitu secara individual, Allah SWT memerintahkan setiap Muslim yang mampu untuk bekerja mencari nafkah untuk dirinya dan keluarga yang menjadi tanggungannya. Rasulullah saw. bersabda:

طَلَبُ الْحَلالِ فَرِيضَةٌ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ

Mencari rezeki yang halal adalah salah satu kewajiban di antara kewajiban yang lain (HR ath-Thabarani).

Kedua, secara jama’i (kolektif) Allah SWT memerintahkan kaum Muslim untuk saling memperhatikan saudaranya yang kekurangan dan membutuhkan pertolongan. Rasulullah saw. bersabda:

مَا آمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ وَ جَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَ هُوَ يَعْلَمُ

Tidaklah beriman kepadaku siapa saja yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan, padahal ia tahu (HR ath-Thabrani dan al-Bazzar).

Ketiga, Allah SWT memerintahkan penguasa untuk bertanggung jawab atas seluruh urusan rakyatnya, termasuk tentu menjamin kebutuhan pokok mereka. Rasulullah saw. bersabda:

فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Pemimpin atas manusia adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus (HR al-Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Sudah saatnya kita mencampakan sistem selain Islam yang telah jelas mendatangkan musibah demi musibah kepada kita. Sudah saatnya kita kembali pada syariah Islam yang berasal dari Allah SWT. Hanya syariah-Nya yang bisa menjamin keberkahan hidup manusia. Lebih dari itu, penerapan syariah Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan adalah wujud ketakwaan yang hakiki kepada Allah SWT. 

Wallahu a’lam bish-shawwab.


banner zoom