1000 Wajah Baru AS Tapi masih Demokrasi, Harapan Perubahan Haqiqi Hanya Ilusi

Penamabda.com - Biden akhirnya dinyatakan sebagai Presiden Amerika yang membuat Trump ketakutan. Trump menyindir bahwa Biden telah mencuri pemilu. Sementara para senior Partai Republik menjauhkan diri dari upaya Trump untuk tetap menjabat. Dalam hal ini, Biden berjanji “akan menjadi presiden yang berusaha untuk tidak memecah belah, tetapi menyatukan” (nbcnews.com, 8/11/2020). Akankah usaha nanti akan maksimal dan janjinya akan bisa membuat umat tentram? Atau malah cuman menjadi sosok baru Trump versi mulus dan bermain aman. 

Di pusat pemenangan pemilunya, Biden berbicara kepada kerumunan pendukungnya dan berkata, “untuk membuat kemajuan, kita harus berhenti memperlakukan lawan kita sebagai musuh kita. Mereka bukanlah musuh kita. Mereka orang Amerika”. “Ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan penyembuhan di Amerika,” imbuhnya. Biden juga berjanji akan “bekerja dengan sepenuh hati untuk mendapat kepercayaan semua rakyat dan masyarakat” (nbcnews.com, 8/11/2020).

Karna politik dalam Demokrasi memang tidak ada musuh yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan yg abadi, bisa jadi hari ini mereka bersahabat bagaikan ulat lalu berubah menjadi kupu-kupu dilain waktu juga bisa menjadi musuh bebuyutan yang seakan saling angkat senjata. 

Dalam kampanyenya, Joe Biden berjanji kepada umat muslim, jika menang dan resmi terpilih jadi Presiden Amerika Serikat 2020, akan memperlakukan agama Islam sebagaimana mestinya. Pernyataan ini ia sampaikan melalui kanal YouTube miliknya. "Saya berjanji kepada Anda sebagai presiden, Islam akan diperlakukan sebagaimana mestinya, seperti keyakinan agama besar lainnya. Saya sungguh-sungguh bersungguh-sungguh," kata Joe Biden.

Secara mengejutkan dalam video tersebut, Biden juga mengutip hadist Nabi Muhammad SAW. "Hadist Nabi Muhammad memerintahkan siapa pun di antara kamu melihat kesalahan biarkan dia mengubahnya dengan tangannya jika dia tidak mampu, maka dengan lidahnya jika dia tidak mampu, maka dengan hatinya," kata Joe Biden.

Jangan senang dulu dengan rayuan manis bak madu tapi berbalut tuba yang membunuh, Kita tahu perubahan tidak mungkin terwujud melalui demokrasi kapitalis sekuler karena sistem ini sistem kufur buatan manusia yang hanya berlandaskan hawa nafsu manusia, standar salah dan benar menurut manusia demi meraih keuntungan semata. Berbanding terbalik dengan Islam yang bukanlah agama yang hanya mengajarkan masalah ibadah ritual saja, namun Islam adalah agama yang  memiliki seperangkat aturan yang harus diterapkan dalam kehidupan. Mulai dari aturan untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat hingga negara dan semua tercantum dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

Meliriklah ke sejarah bahwa Rasulullah saw diutus oleh Allah untuk menyebarkan risalah Islam ke penjuru dunia. Berkat dakwah dan perjuangan beliau lah Islam tersebar luas bahkan hingga tegak sebagai sebuah institusi, Daulah Islam di Madinah Al-Munawarah. Di saat itulah sistem Islam menjadi pengatur dalam kehidupan manusia. Syariat Islam diterpakan secara kaffah dalam setiap sendi-sendi kehidupan manusia. Sehingga dengannya lah manusia terikat oleh satu ikatam. Yakni ikatan akidah saja. Bukan ikatan nasionalisme apalagi kesukuan yang sebelumnya mengakar di Madinah. 

Sejak itulah, cahaya Islam memancar ke seluruh negeri. Karena sistem Islam meniscayakan terlaksananya dakwah dan jihad ke seluruh penjuru dunia. Pasca wafatnya Rasulullah Saw, kepemimpinan Islam diteruskan oleh para Khulafa’ur Rasyidin. Yakni Umar Bin Khattab, Ustman Bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Hingga masa-masa setelahnya dilanjutkan oleh para Khalifah yang banyak, mulai dari kekhilafahan Umayyah, Abasiyah, hingga Ustmaniyah yang beribukota di Istambul, Turki.

 Buka lah mata dan hati wahai umat untuk melihat bagaimana kemenangan Biden akan menyembuhkan rakyat Amerika khususnya umat islam hanya Ilusi semata. Biden, seperti para pendahulunya, akan bekerja untuk memastikan supremasi liberalisme baik di dalam maupun luar negeri, dan ini kemungkinan besar akan memicu bentrokan kekerasan antara kaum konservatif dan liberal yang berpotensi menyebabkan perpecahan permanen politik dan masyarakat Amerika. Tidak diragukan lagi, ini akan menyebabkan kontraksi keunggulan Amerika di seluruh dunia, dan memberikan peluang kepada negara-negara besar lainnya untuk memanfaatkan keadaan domestik Amerika.

Saatnya mencampakkan sistem buatan manusia dan menggenggam Sistem Islam yaitu Khilafah, satu-satunya sistem yang berasal dari Sang Pencipta manusia yang akan menjamin kebahagian yang hakiki dunia dan akhirat. Sistem yang akan memberikan kebijakkan-kebijakkan sesuai fitrah manusia dan standar perbuatan halal dan haram menjadi pedoman dalam setiap keputusan penguasa, karena semua keputusan harus bersumber pada Al Qur'an dan As-Sunnah bukan yang lain apalagi kehendak pribadi maupun pemilik modal.

Kini saatnya kita menuju perubahan yang hakiki dengan mengganti sistem rusak ini dengan sistem Islam, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

 اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَ نْفُسِهِمْ 

 “...Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri..."(QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 11).

Jadi berubahlah, bergeraklah wahai agen pembawa perubahan, siapa lagi kalau bukan para pemuda untuk menuju ke arah perbaikan diri, keluarga, lingkungan bahkan dunia. Kita juga tidak bisa bergerak sendirian, sebab diri kita ini rentan. Kita butuh tim, maka butuh pula menggerakkan orang lain dengan berdakwah untuk sama-sama berubah. Dengan demikian akan kokoh perjalanan perubahan kita, menyongsong bisyarah Nabi_Nya bahwa Islam akan kembali berjaya.

Oleh : Nora Putri Yanti (Aktivis Dakwah Kampus)
banner zoom