Hallyu Jangan Jadi Candu

Oleh: Rindoe Arrayah

Penamabda.com - Beberapa waktu lalu, sempat ramai diberitakan media online, Wakil Presiden Ma’ruf Amin, mengeluarkan pernyataan yang mengharapkan tren K-Pop dan drakor di Indonesia menjadi inspirasi anak muda. 

Menurut Wakil Presiden Ma’ruf Amin, budaya Korea yang didiseminasi di Indonesia melalui K-Pop (musik pop Korea) dan K-Drama (film drama Korea) memiliki potensi untuk meningkatkan kreativitas generasi muda Indonesia dalam membawa budaya Indonesia untuk ‘go international’.

“Saat ini, anak muda di berbagai pelosok Indonesia juga mulai mengenal artis K-Pop dan gemar menonton drama Korea. Maraknya budaya K-Pop diharapkan juga dapat menginspirasi munculnya kreatifitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri,” ujar Wapres Ma’ruf Amin pada acara Peringatan 100 Tahun Kedatangan Warga Korea di Indonesia melalui konferensi video di kediaman Wapres, Jakarta, Minggu (Kumparan.com, 20/9/2020).

Selama lebih dari enam tahun terakhir ini, hallyu atau K-Wave (Koren Wave)  menjadi candu bagi masyarakat Indonesia sebagai akibat dari pesatnya arus globalisasi yang memudahkan akses ke berbagai informasi tanpa dibatasi waktu maupun wilayah. Hallyu atau K-Wave adalah fenomena tersebarnya budaya Korea di seluruh belahan dunia, mulai dari drama, musik, pakaian hingga makanan. Hallyu sudah memiliki tempat tersendiri di kalangan masyarakat Indonesia, terutama kaum hawa dan remaja. Tersebarnya hallyu di Indonesia diawali dengan masuknya drama korea, yang kini tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia karena sudah banyak judul drama yang ditayangkan oleh beberapa stasiun televisi swasta. 

Sekarang adalah masa jaya drama Korea, karya seni ini begitu digemari oleh berbagai kalangan mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua. Salah satu daya tariknya adalah genre drama yang disajikan beragam, mulai dari romace, sejarah, magic, fantasi dan komedi dengan alur cerita yang unik membuat penontonnya kecanduan untuk menontonnya lagi dan lagi. 

Membahas tentang hallyu tak lengkap rasanya jika melewatkan musik K-Pop. Berkembangnya drama korea secara global menjadi pintu masuk bagi K-Pop ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Berawal dari soundtrack yang menjadi pengiring tayangan drama korea membuat penonton penasaran dengan penyanyinya hingga berlanjut menikmati musik-musik korea lainnya.

Nah setelah kalian jatuh cinta, kalian akan kasmaran. Jika dulu menganggap tayangan drama sekedar tontonan waktu luang. Maka kini kamu bisa semalaman begadang menonton maraton satu musim drama. Tidak hanya itu, jika merasa bahwa aktor yang kamu suka punya akting bagus, pelan-pelan kamu akan mencari film-film terdahulu. Produk Korea yang satu ini memang punya dampak serupa candu.

Fenomena fandom  akan idola tersebut telah ada sejak dahulu kala, termasuk era The Beatles atau pun Elvis Presley. Namun, faktor "kelanggengan" dan bisnis yang kental terasa dalam fenomena ini membuat sebagian ahli kejiwaan menyamakan K-Pop dan drakor dengan narkoba. Masyarakat jadi nagih. Dibuat 'sakau' kalau tidak melihat. Jika sudah seperti itu, minimal pulsa yang terkorbankan.

Beberapa kisah fanatisme yang tak biasa banyak ditemui dalam K-Wave ini, seperti mulai dari mengejar idola hingga rela menginap satu hotel, mengeluarkan ratusan juta untuk membeli album demi kesempatan dapat tanda tangan, hingga merasa 'tidur bersama idola' hanya karena ada posternya mengarah ke tempat tidur (CNNIndonesia.com, 3/2/2019).

Walau habis waktu berjam-jam untuk menunggu dan berlari ke sana ke mari, hallyu  itu akhirnya puas bisa menyambut datangnya sang idola ke Indonesia. Sekali pun mereka cuma bisa dadah-dadah atau menjerit histeris demi bisa menarik perhatian idola yang lama ditunggu.

Kehebohan fans idola Korea memang tak pernah diragukan lagi. Dari bandara hingga konser digelar, euforianya begitu membahana. Di lokasi konser, jumlah fansnya tentu berkali-kali lipat lebih banyak dari mereka yang menyambut di bandara.

Sejumlah aksi fanatisme hallyu lainnya pun pernah terekam dalam pemberitaan, baik di Indonesia maupun di negara lain, mulai dari rela menunggu berjam-jam untuk menyambut kedatangan idola, hingga menyakiti diri sendiri kala idolanya meninggal dunia.

Dilansir dalam CNN Indonesia, Mira Amir, seorang Psikolog menyampaikan bahwa kecanduan akan suatu hal, termasuk menyaksikan drama Korea dapat kemungkinan disebabkan oleh hormon dopamine, salah satu zat kimia di otak (neurotransmiter) yang berperan mempengaruhi emosi, gerakan, sensasi kesenangan dan rasa sakit.

Mira mengungkapkan bahwa hal tersebut dapat terjadi karena ada daya tarik dan unsur kedekatan.

"Biasanya yang paling mudah, apa yang disaksikan orang dari drama Korea karena pemainnya cakap, suasananya dibangun menyenangkan, dan itu mengaktifkan stimulasi ke hormonnya. Afeksi emosionalnya meningkat, karena dilibatkan secara emosi. Ketika emosi ditampilkan dalam drama, para penonton  merasa itu menjadi representasi dari dirinya. Permasalahan di drama seolah jadi perpanjangan dirinya," ungkap Mira.

Suatu hal yang membahayakan jika situasi itu telah menjadi suatu bentuk candu.

"Hiburan itu bentuknya macam-macam ya, ada seni, mainan, atau olahraga. Dan itu perlu waktu yang seimbang dengan istirahat serta produktivitas pekerjaan. Kalau buat enggak tidur 24 jam, enggak makan, itu kegiatan yang bermasalah," jelasnya.

Telah tampak kerusakan yang dimunculkan dari hallyu ini.  Masihkah kita menganggap keberadaan K-Pop dan drakor menginspiras anak negeri? Sungguh ironis, jika nasib generasi bangsa harus mengekor pada Korea. Sementara di satu sisi, para generasi ‘good looking’ yang ingin menjadi ‘agent of change’ dilabeli negatif . Sungguh, sebuah fenomena yang jungkir balik.

Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barang siapa menyerupai suatu kaum, dia termasuk dari mereka.”(HR. Ahmad 
dan Abu Daud)

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah SAW  bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا
“Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi no. 2695)

Mengapa sampai kita dilarang meniru-niru orang kafir secara lahiriyah? Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

أَنَّ الْمُشَابَهَةَ فِي الْأُمُورِ الظَّاهِرَةِ تُورِثُ تَنَاسُبًا وَتَشَابُهًا فِي الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَلِهَذَا نُهِينَا عَنْ مُشَابَهَةِ الْكُفَّارِ

“Keserupaan dalam perkara lahiriyah bisa berpengaruh pada keserupaan dalam akhlak dan amalan. Oleh karena itu, kita dilarang tasyabbuh dengan orang kafir” (Majmu’ Al Fatawa, 22: 154).

Dalam sebuah hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh, kalian akan mengikuti langkah orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta. Kalaupun mereka menempuh jalur lubang dhabb (binatang sejenis biawak), niscaya kalian akan menempuhnya.” Kami mengatakan, “Ya Rasulullah, apakah jalan orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. al-Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 4822 dari sahabat Abu Sa’id al- Khudri radhiyallahu ‘anhu)

Di dalam riwayat hadits Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan terjadi hari kiamat, hingga umatku mengambil langkah generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta.” Lalu dikatakan kepada beliau, “Ya Rasulullah, apakah bangsa Persi dan Romawi?” Beliau bersabda, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. al-Bukhari no. 6774)

Kabar  dari Rasulullah SAW ini sesungguhnya sebagai pemberitahuan akan terjadinya sikap meniru orang kafir dalam semua lini kehidupan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Berita ini menggambarkan sebuah kenyataan yang akan terjadi sekaligus sebagai celaan atas orang yang mengerjakannya. Beliau pun memberitakan apa yang akan dilakukan oleh manusia mendekati hari kiamat, berupa tanda-tanda kedatangannya berikut segala perkara yang diharamkan. Maka dari itu, diketahui bahwa Allah SWT  dan Rasul-Nya  mencela umat ini apabila menyerupai Yahudi, Nasrani, Persi, dan Romawi. Inilah faedah yang dicari.” (Iqtidha’ ash-Shirathil Mustaqim hlm. 44)

Allah SWT  telah melarang keras kaum muslimin meniru mereka, sebagaimana firman-Nya, “Dan janganlah kalian seperti orang musyrik. Orang-orang yang telah memecah belah agama mereka sehingga mereka berkeping-keping dan setiap kelompok menyombongkan diri atas yang lain.” (QS. Ar-Rum: 31—32)

Teladan hidup, sungguh sangat dibutuhkan setiap saat, lebih-lebih ketika generasi saat ini sedanga dilanda krisis keteladanan. Tentu saja teladan yang tidak mengecewakan kita. Tentu pula teladan itu adalah orang-orang yang terdidik, suci dan bersih, terbaik, terhormat, orang yang jujur, amanah, bertakwa kepada Allah  SWT, taat beribadah kepada Allah  SWT, serta memiliki sifat-sifat mulia dan agung lainnya. Apakah ada pendidikan yang lebih tinggi daripada pendidikan Allah  SWT melalui wahyu-Nya? Adakah orang yang lebih baik dari utusan dan kepercayaan Allah  SWT dalam hal mengemban amanah risalah-Nya? Adakah yang paling lurus hidupnya daripada orang yang telah didekatkan oleh Allah  SWT  kepada-Nya? Adakah orang yang lebih selamat daripada seseorang yang telah dipilih oleh Allah  SWT untuk menapaki jalan-Nya sekaligus sebagai imam dalam hal ini? Adakah yang lebih jujur, amanah, dan lebih takut kepada Allah  SWT  selain para Nabi dan Rasul, serta orang-orang sholih? Tentu kita akan memberikan jawaban, “Tidak ada.”


Oleh karena itu, dalam Al-Qur’an Allah  SWT sering menampilkan sosok manusia yang bisa dijadikan teladan di dalam hidup, teladan yang tidak akan mengecewakan. Mereka adalah orang-orang yang telah teruji dalam segala kondisi. Mereka telah berjuang dengan segala kemampuan, siang dan malam, tanpa mengenal lelah dan patah semangat. Mereka telah berkorban dengan segala yang dimilikinya, tanpa mengharapkan imbalan dari manusia sedikit pun. Mereka hanya mengejar ridha Allah  SWT yang mengutus mereka. Allah SWT telah menceritakan sosok Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Muhammad SAW, dan orang-orang sholih seperti Luqman serta yang lain. 


As-Sa’di RA mengatakan, “Tidaklah setiap orang bisa menjadikan mereka teladan. Yang mendapatkan kemudahan untuk meneladani mereka adalah orang yang mengharapkan Allah  SWT  dan ganjaran pada hari akhirat. Keimanan dan harapan akan pahala bisa memudahkan setiap hamba menghadapi segala kesulitan dan mengurangi beban hidup yang banyak. Selain itu, keimanan akan mendorong untuk meneladani hamba-hamba Allah  SWT yang sholih, para Nabi dan Rasul. Dia pun akan melihat dirinya sangat membutuhkannya.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 794)
Kapitalisme yang telah dijadikan sebagai aturan dalam kehidupan ini tanpa terasa telah menyeret generasi negeri untuk meneladani sosok-sosok yang tidak Islami. Berbeda halnya dengan Islam yang memiliki konsep dan aturan yang jelas. Islam telah meletakkan jurang pemisah antara kekafiran dan keimanan, kesyirikan dan ketauhidan, kebatilan dan kebenaran. Jurang pemisah ini sesungguhnya menjadi ujian besar bagi manusia dalam hidup. Maukah mereka tunduk pada aturan itu atau mereka lebih memilih kebebasan dari semua tuntutan itu? Islam adalah agama yang sempurna. Sebagaimana firman Allah SWT:

“ … Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agama-mu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” (Al-Maa’idah: 3)

Kesempuranaan Islam telah nyata adanya sebagaimana firman-Nya di atas. Sehingga, tak selayaknya kita sebagai umat Islam mengadopsi aturan kehidupan yang lainnya. Dengan kembali kepada syari’at Ilahi Robbi, kita bisa menyelamatkan nasib generasi bangsa ini untuk meluruskan teladan yang pantas dijadikan sebagai panutan.

Wallahu a’lam bishshowab.
banner zoom