Seberapa Greget Kamu Benci Islam?

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
(Institut Literasi dan Peradaban) 

Penamabda.com - Selama ini yang lekat dalam ingatan adalah masuknya Islam melalui pedagang dari Gujarat, India. Dan keberadaan Walisongo di sebagian masyarakat Indonesia lebih lekat dengan mistis atau kekuatan Supra natural. 

Ternyata, pada tanggal 20 Agustus lalu, tepat di peringatan tahun baru Hijriyah, 1 Muharram 1442, semua terbuka dengan jelas bin gamblang dari diputarnya film dokumenter sejarah yang fenomenal bertajuk Jejak Khilafah di Nusantara. Film yang digawangi duo sejarahwan muda, Nicko Pandawa dan Septian AW. 

Secara akademis ilmiah, pelajaran sejarah yang memusingkan karena musti CLBK Dengan masa lalu, semua dikemas dengan ringan melalui tayangan audio visual yang kreatif, inovatif canggih bin spektakuler. Kapan lagi ada momen seperti ini? Dan siapa yang berani memulai selain mereka orang-orang yang iklas dan yang sungguh-sungguh ingin sejarah dan kebenaran itu tak kabur dan dikubur?

Walhasil bisa kita simpulkan bahwa peradaban hari ini di Nusantara berpadu dengan keragaman budayanya adalah hasil dari campur tangan negara adidaya ketika itu, Daulah Islam . Mau diingkari atau ditolak, sejarah sudah terlanjur melekat, meninggalkan jejak sebagaimana seseorang lahir meskipun tak ada dokumen resmi namun para tetua akan lancar menceritakan kronologis hadirnya seseorang itu ke dunia. 

Lantas, jika ada pihak yang seperti kebakaran jenggot, mengatasnamakan " mengganggu urusan negara" kemudian mengadakan pemblokiran berulang kali hubungannya dimana? Dan kerugiannya apa?

Sejarah tak bisa didaur ulang, ia tetap ada bersama masa lalu seseorang, bahkan hingga negara sekalipun. Pasti memiliki sejarah yang panjang. Maka jelas masalahnya disini bukan dari sejarahnya, tapi dari aroma kesadaran yang mulai mengudara dan menimbulkan gejolak perjuangan di setiap benak pemirsanya,  inilah kekuatan yang menakutkan.

Tentu belum lepas pula di ingatan bagaimana jika Islam kembali memimpin. Meskipun mereka tak akan dibantai, namun nafsu menjajah dan mengekploitasi kekayaan milik kaum muslim, merusak generasi demi kapitalisasi, mengaburkan arah pandang kehidupan demi eksistensi kekufurannya akan jelas tertolak. Tak ada ruang bagi mereka para pembenci Islam, semua akan tunduk di bawah syariat mulia.

Lantas, pertanyaannya sekarang, seberapa greget engkau wahai para pembeli Islam dalam mengupayakan kehancuran Islam, ajaran dan simbol-simbolnya? Semakin dipersekusi justru akan semakin gencar aksi, semakin ditekan malah justru akan semakin gratis ngiklan. Gak percaya?

Dalilnya berikut ini: 
“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya” ( QS Ali Imran 3:54).

Wahai para pembenci Islam, yang kau tantang adalah Allah SWT pencipta manusia termasuk dirimu dan alam semesta ini, hendak kau buat seperti apa makarmu ketika janji telah tertulis maka para pejuang kalimat-kalimat tauhidnya tinggal menjemput.  

Wallahu a' lam bish Showab.
banner zoom