New Normal Bikin Panik Total?


Oleh : Haura

Penamabda.com - Sudah satu bulan ini, kita berada dalam kondisi new normal atau tatanan kehidupan baru, new normal merupakan kebijakan dibukanya tempat publik, seperti perkantoran, sekolahan, perbelanjaan, pelabuhan, bandara, tempat ibadah, dan tempat wisata  dengan tetap menerapkan protokol kesehatan seperti mencuci tangan, menjaga jarak, memakai masker dan menghindari kerumunan.

Namun, apakah dengan kondisi new normal ini Indonesia mampu menekan angka kasus corona? Data per Senin, 29 Juni 2020 bertambah 1.082, penambahan itu menyebabkan kini ada 55.092 kasus covid di Indonesia, terhitung sejak kasus pertama diumumkan Presiden Jokowi pada tanggal 2 Maret 2020. (Tribunbatam.id)

Jika kita melihat negara lain seperti Vietnam yang sudah sukses melawan covid 19 dengan catatan nol kasus kematian virus corona, telah melakukan new normal dengan tetap melakukan protokol kesehatan. berbeda dengan Indonesia, kasus corona semakin meningkat dan belum ada tanda-tanda melandai.

Menurut Kementerian Koordinator  Perekonomian, alasan Indonesia perlu menerapkan new normal adalah terkait dampak pandemi  terhadap ekonomi yang dianggap sudah begitu mengkhawatirkan. Sehingga bila tak segera diterapkan akan ada lebih banyak pekerja yang menjadi korban.

'Kenapa kita butuh ini segera? Melihat angka indikator ekonomi kita sudah separah itu. Dan perlu diketahui pekerja di Indonesia itu 55-70 juta dari 133 juta itu adalah pekerja informal sehingga mereka ini yang paling terdampak di dalam COVID-19,' ujar Sekretaris Kementerian Koordinator Perekonomian (Sesmenko) Susiwijono Moegiarso. (Detikfinance)

Melihat hal ini pemerintah seolah-olah hanya memikirkan kondisi ekonomi yang menurun, sedangkan kondisi kesehatan masyarakat kurang diperhatikan. Seharusnya ditekan dulu penyebaran virus dengan benar-benar melakukan lockdown dan menjamin seluruh kebutuhan rakyat.

Sebagaiman yang diutarakan oleh pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran dr. Panji Fortuna Hadisoemarto, beliau menilai pemerintah seharusnya fokus pada menekan angka kasus virus corona dahulu, ketimbang berpikir melonggarkan aturan demi ekonomi. (CNNnasional)

Situasi wabah corona ini juga membuat banyak orang merasa sangat panik dan  stres. kebijakan new normal membuat kasusnya semakin bertambah. Rakyatpun melakukan penjagaan mandiri, agar bisa menekan penyebaran virus covid 19  dengan melakukan pemblokiran jalan di wilayah masing-masing, agar tidak sembarang orang berlalu lalang memasuki wilayah mereka.

Kebijakan new normal terbukti bukanlah solusi. Terbukti dengan angka penambahan penularan yang cukup signifikan setiap hari. Hal ini tentu berbahaya mengingat akan banyak rakyat menjadi korban.

Begitulah jika watak kapitalisme sudah mendarah daging pada tubuh sistem saat ini. Hanya memikirkan lajunya perekonomian, meski nyawa rakyat menjadi taruhan. 

Berbeda dengan Islam yang memberikan penjagaan terhadap rakyatnya. kala terjadi wabah, penguasa dalam sistem Islam mengeluarkan kebijakan yang tepat berdasarkan tuntutan syariat.

Saat itu wilayah Syam tepatnya terkena wabah tha'un, sejenis penyakit kolera.
Dipimpin oleh Umar bin Khaththab, beliau meminta seorang ahli bernama Amr bin Ash. Beliau adalah seseorang yang terkenal cerdik dalam mengatasi masalah-masalah yang rumit. menyarankan agar melakukan karantina kepada masyarakat karena penyakit tha'un menular. maka orang-orang tidak boleh berkumpul, sehingga saran yang tepat untuk tidak berkemurun, agar dapat memutus rantas penyakit menular tersebut. 
Saat itu Khalifah langsung memerintahkan untuk berpisah dan berpencar,. Ada yang pergi ke gunung, lembah, dan ke tempat-tempat lainnya.  hasilnya hanya berselang beberapa hari, jumlah orang yang terkena wabah itu mulai sedikit dan wabah pun lenyap.

Seharusnya hal ini juga dapat di contoh oleh pemerintah, agar kasus wabah ini tidak semakin meningkat  dan rakyat terselamatkan dengan cara yang tepat.

Wallahu'alam
banner zoom