-->

Membiasakan Anak Berbagi Sejak Dini

Oleh: Najah Ummu Salamah

Penamabda.com - Islam adalah agama yang mengajarkan peduli sesama. Banyak ajaran Islam yang mengajarkan kepedulian dengan berbagi. Ada yang bersifat wajib seperti zakat fitrah dan zakat mal. Ada pula yang bersifat Sunnah seperti infaq dan sedekah Sunnah. Allah SWT memberikan balasan yang besar bagi hamba yang berinfaq di jalannya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Baqoroh yang artinya:

"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah ibarat sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai tersebut ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui. (TQS Al-Baqoroh : 261)  

Allah SWT memerintahkan kita berbagi semata sebagai bentuk syukur atas nikmat Rizki yang Dia beri. Rizki berupa harta, kesehatan, ilmu, kesempatan dan lain sebagainya.  

Bahkan Al-Qur'an mengkisahkan ruh di akhirat nanti akan memilih amal bersedekah jika di beri kesempatan kedua di dunia.

Begitu dahsyatnya amal sedekah bagi manusia. Keberkahan sedekah terasa di dunia hingga akhirat sana. Oleh karena itu, penting bagi para orangtua membiasakan anak bersedekah sejak kecil dengan mengajarkan berbagi.

******

Pada umumnya anak usia dini masih memiliki ego yang tinggi. Rasa ke "aku" an mereka sangat besar. Anak-anak justru cenderung sulit berbagi. Di usia balita, kita menjumpai anak-anak merebut mainan saudara atau temannya. Tidak mau meminjamkan mainan atau barangnya kepada orang lain. Jika hal ini dibiarkan maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kikir dan pelit.

Maka, tugas orangtualah yang membimbing dan mengarahkan buah hati. Membiasakan mereka berbagi agar tumbuh menjadi pribadi dermawan. Peduli sesama sejak dini.

Beberapa hal bisa dilakukan orangtua, diantaranya:

Pertama, menyampaikan ke anak bahwa Allah SWT memerintahkan kita berbagi. Allah SWT menyayangi anak yang suka berbagi. Orang yang suka berbagi mendapat kebaikan di dunia dan Jannah. Orangtua juga bisa membacakan kisah Nabi Muhammad SAW yang suka berbagi. 

Kisah-kisah  Sahabat-sahabat Nabi semisal Abu Bakar as-Shidiq ra, Utsman bin Affan ra, Abdurrahman bin Auf ra yang luar biasa dalam berbagi. Selain itu juga ada sosok sohabiyah semisal bunda Aisyah, bunda Zainab yang bergelar si tangan panjang, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh tauladan dalam berbagi.

Kedua, membiasakan anak berbagi makanan kepada saudara atau temannya. Meskipun berupa snack atau jajanan ringan.

Ketiga, mengajarkan meminjamkan barang atau mainan kepada saudara dan temannya. 

Keempat, meminta tolong anak mengantarkan bingkisan dan hadiah kepada kerabat atau tetangga dekat. Hal ini agar anak juga melakukan praktek langsung berbagi.

Kelima, mengajak anak menyisihkan uang tiap pekan untuk infaq di kotak masjid, mushola atau sekolahnya. Meskipun sekedar  seribu atau duaribu, sesuai kemampuan.

Keenam, mengajak anak mengirim zakat fitrah atau mal kepada Mustahik zakat. Supaya anak melihat langsung tauladan berbagi dari orangtuanya.

Perlu juga ditekankan ke anak bahwa berbagi itu tidak di nilai dengan nominal yang banyak. Tapi keihlasan yang muncul dari kebiasaan akan mendapat ganjaran yang besar di sisiNya. Allah SWT tidak melihat jumlah tapi Dia melihat keihlasan hambanNya. 

Menanamkan kebiasaan baik kepada anak butuh proses, pengulangan, kebiasaan dan tauladan. Semoga dengan membiasakan anak berbagi sejak dini, mereka menjadi pribadi yang Sholih. Pribadi yang dijauhkan dari sikap egois dan indivisualistis. Pribadi yang mengutamakan dan mencintai orang lain.

Dari pribadi yang suka berbagi menjadi generasi yang peduli umat. Generasi pejuang dan pengisi peradaban Islam yang gemilang.  

Wallahu a'lam bi ash-showab