Curhatan atau Tebar Kebodohan?

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
(Institut Literasi dan Peradaban) 

Penamabda.com - Curhat alias curahan hati adalah ungkapan seseorang terkait isi hati terdalam. Dan biasanya kepada seseorang yang sangat dipercaya, sehati seia sekata. Seiring dengan perkembangan zaman, teman yang dipercaya bergeser kepada buku harian lalu media sosial. Yang terakhir, terjadi pada era milenial, di saat teknologi media informatika melaju pesat melampaui batas pemikiran manusia. 

Salah satu media sosial yang kerap digunakan curhat adalah Facebook. Dan kejamnya, semakin diluar nalar bahkan jahiliyah malah semakin  viral. Semakin dicari, diada-adakan sebab mendatangkan keuntungan materi. Gosip, makin digosok makin sip. Dan sudah bukan rahasia jika media televisi atau cetak meraup guyuran rupiah dari tingkatan rangking gosip sang artis atau publik figur.

Salah satu topik curhatan yang biasanya dibuat status Facebook adalah kekecewaan karena tidak bisa menonton konser. Seperti salah satu status Facebook bocah yang bahkan sampai rela menjual matanya, menjual ginjal, bahkan ibu kandungnya untuk menonton konser BTS (Liputan6.com, 26/6/2020). 

Memang benar jika ada pepatah lidah tak bertulang, bisa mengatakan apapun. Disambung lagi kini hidup di era kebebasan tanpa batas atas nama hak asasi manusia . Setiap orang boleh berkata-kata, inilah bagian dari keyakinan orang-orang sekulerisme. Agama yang berusaha mereka pisahkan dari kehidupan telah menjadikan pemikiran manusia lebih baik dari hukum Allah. Astaghfirullah...

Secara teori setiap orang akan berperilaku sesuai dengan pemahamannya. Maka Islam mewajibkan setiap kali hendak bertindak harus tahu lebih dulu ilmu dan hukumnya. Sebab, lisanpun kelak dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. Tidak pada sistem demokrasi yang menjamin dengan Undang-undang empat kebebasan, yaitu berperilaku, beragama, berpendapat dan memiliki. 

Maka, berkata-kata asbun ( asal bunyi) pun adalah bagian dari apa yang dibolehkan dalam sistem Demokrasi, landasan mendasarnya adalah sekulerisme. Pemisahan agama dari kehidupan. Beragama hanyalah urusan individu dan Tuhannya, tidak berefek dalam kehidupan sosial mereka apalagi dijadikan sebagai solusi, tidak sama sekali. 

Lebih disayangkan lagi, ini menjadi gaya hidup anak muda, generasi penerus bangsa. Fokus mereka bukan pada masa depan bangsa dan agama, melainkan berputar pada diri mereka sendiri yang penuh dibalut dengan syahwat. Mengidolakan opa-opa Korea tanpa tahu maknanya dan konsekwensinya. 

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47

Inilah akibat jika tak ada andil negara dalam penjaminan akal inilah yang akhirnya membentuk karakter setiap anak lebih cinta kehidupan dunia lupa kampung akhirat. Apa yang anak- anak lihat setiap hari berbeda 180 derajat dengan kurikulum pendidikan yang mereka terima di sekolah. Porsi penguatan iman lebih sedikit daripada yang ditunjukkan oleh aturan masyarakatnya. Pornografi, pornoaksi, hedonisme, liberalisme kental berpengaruh di dalamnya tak pernah mendapat larangan khusus dari negara. 

Akibatnya, akidah anak jauh dari takut kepada Allah Sang Penciptanya. Malah mengejar sesuatu yang samasekali tak akan pernah mereka miliki sekalipun mereka mengorbankan nyawa mereka sendiri. Justru terus menerus mereka masuk perangkap setan, untuk kelak bersama-sama menjadi penghuni neraka. Lantas, apa yang bisa diharapkan pada generasi yang demikian? Didunia menjadi duri dalam daging pembangunan bangsa yang berkarakter di akhirat menjadi pemberat amal buruk para orangtua dan pemimpin. 

Wallahu a' lam bishh showab.
banner zoom