Puncak Covid-19 Belum Lewat, PSBB Tak Ketat

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
(Muslimah Penulis Sidoarjo) 

Penamabda.com - Kesan terburu-buru dan mendesak kini yang tertangkap oleh masyarakat dari kebijakan New Normal Life yang diwacanakan pemerintah. Padahal banyak pihak mengecam dan meminta pemerintah memikirkan kembali kerugian yang justru akan di dapat dari kebijakan itu, diantaranya makin memburuknya kondisi Indonesia akibat makin banyak warganya yang positif Covid-19.

Namun alih-alih menarik kebijakan, justru pemerintah tak menggubris pendapat siapapun selain pendapatnya sendiri dan mulai mensosialisasikan protokol baru, hidup normal dengan Covid-19. Padahal puncak Covid-19 saja belum kita lewati, sudah melonggarkan PSBB. Perang melawan Covid-19 saja belum kita hadapi sudah ada wacana berdamai. 

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dr Hermawan Saputra mengkritik persiapan pemerintah menjalankan kehidupan new normal. Menurut dia belum saatnya, karena temuan kasus baru terus meningkat dari hari ke hari.
"Saya kira baru tepat membicarakan new normal ini sekitar minggu ketiga/empat Juni nanti maupun awal Juli. Nah, sekarang ini terlalu gegabah kalau kita bahas dan memutuskan segera new normal itu," ujar Hermawan.

Terlalu dini, maksud Hermawan adalah wacana new normal ini membuat persepsi masyarakat seolah-olah telah melewati puncak pandemi Covid-19, namun kenyataan belum dan perlu persiapan-persiapan dalam new normal tersebut. Dampak dari perbincangan new normal belakangan ini buat masyarakat alami pandangan, kebebasan tanpa melihat potensi penyebaran virus corona (permisivisme).

"Jadi, new normal ini adalah sesuatu yang akan dihadapi, namun berbincang new normal ini banyak pra syaratnya. Pertama, syaratnya harus sudah terjadi perlambatan kasus. Dua, sudah dilakukan optimalisasi PSBB," sebutnya. Ketiga, masyarakatnya sudah lebih memawas diri dan meningkatkan daya tahan tubuh masing-masing. Keempat, pemerintah sudah betul-betul memperhatikan infrastruktur pendukung untuk new normal ( merdeka.com, 25 /5/2020).

Lantas, atas dasar apa pemerintah melakukan kebijakan yang berbahaya ini? Dilansir dari TEMPO.CO, 18 Mei 2020, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abra Tallatov memperkirakan salah satu pertimbangan pemerintah merencanakan pelonggaran pembatasan sosial berskala besar atau PSBB adalah dunia usaha. Terlebih, kata dia, dunia usaha diperkirakan hanya tahan 4-5 bulan saja pada kondisi saat ini.

Dengan situasi tersebut, Abra mengatakan muncul dorongan dari dunia usaha, misalnya Kamar Dagang dan Industri alias Kadin Indonesia agar pemerintah melonggarkan bahkan membuka PSBB. Apalagi, dorongan itu dibarengi dengan prediksi akan adanya lonjakan pengangguran apabila pembatasan tidak segera dilonggarkan.

Sungguh jika ini benar terjadi, kita sebenarnya tidak sedang akan memasuki New Normal Life sebagaimana yang direncanakan pemerintah. Dimana ada perubahan budaya salah satunya adalah hidup berdamai dengan virus mematikan seolah-olah ia tak berbahaya. Tapi kita sedang menuju budaya Herd Immunity alias upaya bunuh diri massal plus konyol. Sebab pemerintah tak segan-segan mengorbankan jiwa rakyat hanya demi pertumbuhan ekonomi. 

Padahal, signifikankah pelonggaran PSBB, matinya rakyat sia-sia karena kelalaian penguasa dengan pertumbuhan ekonomi? Henry Kissinger mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat saja begitu yakin bahwa jikapun ekonomi mampu ditanggulangi, namun dampak yang dirasakan oleh negeri-negeri Kapitalis tak sebentar. Bahkan dia memprediksi akan munculnya peradaban baru jika keadaan ini terus tak menentu.

Direstuinya kebijakan ini jelas makin mengokohkan bahwa pemimpin negeri ini tak pernah peduli rakyat. Lihat saja bagaimana pendapat Mahfud MD yang mengatakan bahwa korban Covid-19 jumlahnya tak lebih banyak dari korban kecelakaan, sungguh ini keterlaluan! Allah SWT sang Pencipta manusia, alam semesta dan kehidupan begitu mengharamkan kematian satu nyawa tanpa alasan yang Haq, apalagi ini akibat kelalaian penguasa. Sungguh sebuah dosa yang besar. 

New Normal Life yang benar adalah ketika kita yang Muslim bisa hidup dalam alam penerapan syariah kaffah. Halal haram jadi standar perbuatan dan seluruh persoalan diselesaikan dengan satu-satunya sumber hukum di dunia ini yaitu Alquran dan As-Sunnah.  Jika yang demikian yang terjadi, tak hanya kaum Muslim yang bisa menikmati namun seluruh alam akan juga menjadi bagian yang mendapatkan Rahmat, sebab Islam datang memang untuk Rahmatan Lil Aalamin. 

Wallahu a' lam bish showab.
banner zoom