Polemik Kedatangan 500 TKA China Di Konawe

Oleh: Dewi Tisnawati, S. Sos. I

Penamabda.com - JAKARTA, TELISIK.ID - Akhir pekan ini publik Indonesia digegerkan dengan kabar rencana masuknya 500 Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China ke Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra). Kabar tersebut lantas menyita semua orang, karena waktu kedatangan mereka di masa pandemi COVID-19. 

Sebagaimana dikutip dalam Liputan6.com, Kendari - Sebanyak 500 TKA China dikabarkan akan masuk di wilayah Sulawesi Tenggara, 5 April 2020. Kedatangan mereka menuai sorotan dari mayoritas anggota DPRD Sulawesi Tenggara dan anggota DPD RI.

Anggota DPD-RI Dapil Sultra, Wa Ode Rabia Al Adawia Ridwan menegaskan, menolak kedatangan 500 Tenaga Kerja Asing (TKA). Apalagi, kedatangan mereka rencananya mulai pekan ini secara bertahap. 
"Saat ini, pemerintah kita harusnya fokus penanganan pandemi Covid-19, abaikan yang bisa menimbulkan polemik," ujar Rabia, Minggu (3/5/2020).

Tidak sedikit yang mengaitkan rencana kedatangan 500 TKA China ini dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko-Marvel) Luhut Binsar Pandjaitan (LBP). Sayangnya, dugaan publik itu dibantah dengan keras oleh Juru Bicara Kemenko-Marvel Jodi Rahadi bahwa, tidak ada kaitan antara Luhut dengan ratusan pekerja China itu. 

Namun, penjelasan Jodi Rahadi itu dipatahkan oleh Bupati Konawe Kery Saiful Konggoasa saat hadir di acara “Apa Kabar Indonesia Pagi” di salah satu Tv swasta beberapa waktu kemarin. Dalam penjelasannya, Ia mengakui Menteri Luhut janji akan memenuhi apa-apa yang dibutuhkan oleh dirinya. Seperti dikutip, dalam video unggahan kanal YouTube Talk Show Tv One, Jumat (1/5/2020). 

Adapun Kementerian ketenagakerjaan mengaku tidak mampu menolak kedatangan TKA yang telah diajukan dua perusahaam nikel, alasannya Peraturan Menteri Hukum dan HAM no 11 tahun 2020 pasal 3 ayat (1) huruf f, menyebutkan: 
‘Orang asing yang akan bekerja pada proyek srategis nasional tidak dilarang masuk Indonesia dalam pandemi covid 19.’ (liputan 6.com)

Sungguh ironis, PHK di depan mata, pekerja dirumahkan, mudik dilarang, ternyata 500 TKA dibiarkan masuk untuk bekerja di perusahaan tambang nikel yang ada di Konawe, Sulawesi Tenggara. Apalagi datangnya ditengah pandemi covid 19 sebagai pusat awal munculnya virus ini. Parahnya, kedatangan TKA tersebut tidak lepas dari kebijakan pemerintah dan campur tangan seorang pejabat negara.  

Kebijakan ini sangat melukai hati rakyat. Saat mereka kesulitan mencari kerja sebab lock down dan dialihkan kerja di rumah, mudikpun dilarang tapi TKA China didatangkan atas bantuan pejabat negara dan kebijakan yang diterapkan. Sekelas negara tidak mampu membatalkan sesuatu yang membahayakan rakyat dan negaranya, pertanda negara itu tidak berdaulat atau negara itu sangat bergantung kepada negara lain.

Nikel adalah salah satu SDA milik negara yang semestinya dikelola untuk kepentingan rakyat. Rakyat pun bisa menjadi tenaga kerja untuk mengeksplorasinya, namun diserahkan kepada asing.

Tampak bahwa pemerintah bekerja untuk kepentingan para pemilik modal, bukan untuk mensejahterakan rakyatnya. Hal ini menunjukkan kebobrokan dari sistem yang diterapkan di negeri ini yaitu sistem kapitalis. Inilah wajah sesungguhnya dari pemerintahan demokrasi, yang tidak bisa diharapkan, sehingga butuh sistem pengganti yang solutif yaitu sistem Islam.

Islam adalah sistem yang berdasarkan halal haram, menjadikan pemimpin wajib bertanggungjawab dan amanah terhadap segala urusan rakyatnya. Jabatan di dalamnya dipahami sebagai amanah yang kelak dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT. Sehingga jika amanah itu disia-siakan atau lalai maka negara akan menindaknya secara tegas. 

Dalam Islam juga, negaranya berdaulat, tidak bergantung pada negara manapun. SDA milik umum dikelola oleh negara dan hasilnya diserahkan untuk kesejahteraan rakyat. Lapangan pekerjaan pun disediakan negara seluas-luasnya untuk rakyat. Kepentingan dan kemaslahatannya diprioritaskan. Beginilah pengaturan dalam sistem Islam, kesejahteraan yang akan dirasakan baik muslim maupun non muslim.

Namun, hal ini tidak akan terwujud dalam sistem kapitalis saat ini kecuali dalam sistem Islam. Maka inilah saat yang tepat untuk saling bersinergi, berjuang bersama demi terterapkannya sistem Islam itu, yang in sya Allah sebentar lagi hadir, sebab itu adalah janji Allah SWT. 

Wallahu a'lam bish shawab.
banner zoom