MERAIH RIZKI YANG BERKAH DAN MULIA

Oleh: Ummu Afif (Aktivis Muslimah dan Ibu Rumah Tangga dari Kota Malang) 

Penamabda.com - Rizki adalah segala pemberian dari Allah. Hanya Allah yang berhak memberikan rizki kepada setiap yang bernyawa. Jika Allah berkehendak memberikan rizki yang melimpah kepada seseorang, maka Allah pun juga kuasa menahan rizki untuk yang lainnya. Tak ada satupun makhluk yang bisa memberi atau menahan rizki kepada makhluk yang lainnya, kecuali hanya Allah semata. Ini yang harusnya dipahami dan diyakini oleh manusia.

"Tidak ada satu makhluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin ALLAH rezekinya." (Surah Hud : 6).

Tidak ada satupun kehidupan yang tak diberi rizki oleh Allah. Bahkan cacing di dalam tanah, atau cicak yang seringkali kita lihat menempel di dinding, ternyata juga punya rizkinya. Meski terlihat lemah, hanya bisa merayap dan tak bisa terbang, nyatanya cacing dan cicak tetap bisa mendapatkan makanannya. Mereka tak kelaparan. Lalu darimana mereka bisa hidup, padahal tak seorangpun memberi makanan? 

Allah memang sudah menjamin rizki setiap hambaNya semenjak dalam kandungan. Selama manusia masih hidup dan bernafas di bumi, maka selama itu pula Allah menjamin rizki untuknya. Selama hayat masih di kandung badan, maka rizkiNya akan terus didapatkan.
Tak perlu khawatir kekurangan atau kehilangan rizki, karena setiap jiwa punya porsinya masing-masing. Rizki bukanlah tentang seberapa banyak atau sedikit yang diperoleh. Kadangkala rizki yang sedikit bisa dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan. Tapi tak jarang pula uang yang banyak justru terasa kurang. Sebenarnya bukan rizkinya yang kurang, melainkan syukurnya yang perlu ditambah.

Sikap qona’ah, menerima dan mensyukuri berapapun rizki yang Allah berikan akan mendatangkan berkah. Salah satu perwujudannya adalah rasa kecukupan, tidak khawatir atau gelisah karena kekurangan. Meski sedikit, namun rizki tersebut membuatnya tetap bersyukur dan tenang menjalani hidup. Bahkan bisa jadi tak merasa kesempitan atau kekurangan, justru malah menjadikan diri semakin bertakwa kepada Allah. 

Ia mendapatkan rizkinya dengan cara yang halal. Ia manfaatkan rizki yang diperolehnya untuk yang dihalalkan pula. Berupaya untuk selalu taat PadaNya, meski godaan dunia sungguh menggiurkan. Tetap bersyukur dalam kondisi susah ataupun senang, dalam kesempitan atau kelapangan. Inilah tanda jika rizki tersebut berkah bagi pemiliknya.
Kadangkala besar kecilnya rizki yang didapat tak selalu berbanding lurus dengan besarnya usaha yang dikeluarkan. Banyak orang yang sibuk kerja, berangkat pagi pulang petang, banting tulang tapi rizkinya sedikit. Ada juga yang lagi santai-santai di rumah, tapi rizkinya melimpah. 

Atau bisa juga sebaliknya. Ada faktor-faktor lain yang bisa membuka atau menutup pintu rizki. Ini menunjukkan bahwa hanya Allah yang berhak menentukan rizki seseorang.

Bekerja adalah salah satu ihktiyar untuk mendapatkan rizki. Sementara banyak cara lain untuk mendapatkan rizki, misal melalui pemberian, hadiah, warisan atau yang lainnya. Bekerja adalah ibadah, sedang rizki adalah urusan Allah. Jadi, salah bila memaknai rizki itu hanya dari usaha/ kerja saja. Yang terpenting adalah bagaimana kita selalu mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangannya dalam ikhtiyar mencari rizki. 

Sebaliknya, rizki yang didapatkan dengan cara yang diharamkan oleh Allah, bisa menjadikannya kurang atau bahkan tak mendatangkan berkah. Ia akan merasa selalu kekurangan, meski hartanya berlimpah. Sulit bagi lisannya mengucap syukur, justru banyak mengeluh ini-itu. Hatinya dengki melihat kesenangan orang lain. Iri jika ada saudaranya yang mendapat kenikmatan. 

Apalagi di jaman medsos seperti sekarang, dimana gaya hidup yang penuh dengan pencitraan bertebaran disana. Postingan yang memperlihatkan keduniawian seperti menarik untuk diikuti. Belum lagi di dunia nyata, lingkungan sekitar yang seolah mengutamakan harta dan penampilan. Bagi mereka yang tak kuat iman, pasti akan terseret hingga terikut untuk gaya hidup mewah yang bisa jadi tak sesuai budget di kantong.

Hanya demi memenuhi keinginan untuk dipandang “wah” akhirnya menempuh jalan pintas. Berhutang sana-sini, atau parahnya lagi melakukan tindakan illegal, seperti menipu, merampok, korupsi dan sejenisnya. Yang jelas diharamkan oleh Allah. Gaya hidup yang berlebihan justru malah menyengsarakan diri dan mendapat murka Allah. 

Tak jarang mau berlelah-lelah demi mendapatkan harta dunia yang tak seberapa, sampai berani meninggalkan kewajiban kepada Allah. Inilah realita sekarang. Kondisi semacam ini banyak dialami oleh manusia di seluruh dunia. Ini tak bisa dilepaskan dari adanya penerapan sistem yang hanya mementingkan materi (manfaat). Kapitalisme memaksa manusia untuk menjauhkan hidupnya dari agama.
Hakikatnya, rizki berasal dari Allah semata. Rizki bukan dari majikan, bos, atasan atau manusia yang lainnya. Mereka hanya perantara rizki itu datang. Tak patut kiranya menggantungkan rizki kita kepada makhluk. Jika kita merasa rizki sempit, maka mintalah kepada Allah. Mendekatlah kepada Allah. Cukuplah Allah sebaik-baik pelindung dan pemberi pertolongan.

Rizki yang kita dapat dengan jalan apapun, hendaknya harus kita pastikan kehalalannya. Jangan sampai memperolehnya dengan cara yang diharamkan oleh Allah. Selain itu tidak berkah, kelak juga akan dihisab Allah di hari akhir. Pun juga cara kita memanfaatkannya, haruslah sesuai dengan apa yang Allah perintahkan. 
Karena rizki hak pakai, maka  halalnya akan di hisab. Haramnya akan di azab. Makanya manusia harus memperhatikan cara mendapatkan dan membelanjakannya sesuai aturan Allah.

Manusia juga harus menyadari bahwa rizki tidak hanya berbentuk uang saja. Kita sehat itu juga rizki. Kita memiliki teman yang saling mengingatkan tentang akherat itu juga rizki. Punya ilmu dan waktu, sehingga bisa berdakwah juga merupakan rizki. Mempunyai pasangan dan anak yang sholih/ sholihah itu juga rizki. 

Maka, hendaknya kita selalu bersyukur kepada Allah atas nikmat yang Ia berikan. Baik rizki berupa harta, kesehatan, kesempatan, apapun itu yang sudah Allah berikan kepada kita. Mensyukurinya selalu dengan taat padaNya. Syukur akan membuat hati tenang dan tentram. Syukur juga akan membuka pintu rizki yang lainnya.

Sebagaimana firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 7:   

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Dan perlu kita ketahui bahwa rizki terbesar yang Allah janjikan adalah surga. Seperti yang tertulis dalam surat Saba’ ayat 4: 

“Agar Dia (Allah) memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).”  

Untuk itu mari kita gunakan rizki yang kita miliki hanya untuk di jalan Allah semata. Baik yang berupa harta maupun kesempatan, untuk mendapatkan ridhoNya, meraih ampunanNya, dan mendapatkan surgaNya. 

Wallahu a'lam bish-shawab[]
banner zoom