Menuju "New Normal" Yang Sesungguhnya

Oleh: Aini Oeni (Pengajar Dan Pembelajar)

Penamabda.com - Pandemi covid-19 yang tengah melanda, merubah wajah bumi dan penghuninya. Pola kehidupan dan kebiasaan manusia mengalami perubahan. Hidup bersih dan teratur menjadi suatu keharusan sebagai upaya menghindarkan diri dan keluarga dari virus ini. 

Bukan hanya kebiasaan yang dirubah, gaya hidup dan pergaulan sosial juga ikut mengalami penyesuaian. Dengan seruan untuk lebih banyak di rumah saja, membuat interaksi langsung dengan yang lainnya semakin berkurang drastis. Pembatasan kerumunan dan aktivitas di ruang publik untuk meminimalisir penyebaran covid-19 mengalihkan manusia kepada interaksi secara online. 

Mulai dari belajar, bekerja, pertemuan, rapat, bahkan lebaran juga dilakukan di rumah secara online. Itu semua adalah sebagian dari penyesuaian aktivitas manusia di tengah wabah.

Interaksi langsung yang semakin minim, di satu sisi menguntungkan karena mengurangi dampak negatif dari pergaulan sosial yang bebas. Terutama bagi anak-anak dan remaja. Sebagaimana yang kita tahu bahwa masa kini, sistem pergaulan yang ada sudah sangat liberal, begitu bebasnya. Masyarakat kita semakin permisif dikarenakan tidak adanya sanksi sosial yang tegas diterapkan. Sebagai konsekuensinya nilai, pemikiran, perilaku dan segala hal yang negatif dari luar (asing) sangat mudah menyebar di kalangan generasi muda kita.
Salah satu pemikiran asing yang berbahaya dan mengancam generasi muda kita adalah LGBT. Gerakan ini berasal dari pemikiran Barat yang tak sesuai dengan norma lokal, apalagi norma agama. LGBT adalah gerakan yang sesat dan menyesatkan.

Sampai sebelum wabah covid-19 ini melanda dunia, gerakan kaum Sodom ini sangat massif menyebarkan pahamnya. Mereka sangat berani tampil di tempat umum menunjukkan eksistensinya. Tanpa malu mereka membuka identitas asli mereka sebagai kelompok penyuka sesama jenis.  Bahkan tanpa sungkan meminta agar keberadaan mereka dihormati dan dilegalkan dengan UU. 
Para orang tua jelas khawatir akan keselamatan anak-anaknya terhadap maraknya gerakan LGBT. Karena ternyata para pemuja LGBT sudah menyebarkan jaring-jaringnya hingga masuk ke lingkungan pertemanan sekolah dengan membuat grup di sosmed. 

Mencengangkannya lagi, ribuan siswa sekolah banyak yang menjadi anggota grup tersebut. 
Ancaman kaum menyimpang ini sudah berada di tengah generasi muda kita sebegitu parahnya. Dan bahayanya bukan main-main, karena sekali terjerat, maka masa depan remaja kita bisa hancur.
Keluarga menjadi institusi yang terancam karena serangan kaum homo ini. Keluarga yang rapuh akan menjadi target empuk kaum homo. Anak-anak yang tak mendapat perhatian dari orang tua akan mencari pelampiasan di luar. Saat itulah, kaum homo ini memainkan siasat liciknya untuk menjerat anak-anak malang ini. Mereka sangat lihai mencari celah untuk bisa memasang perangkap pada korbannya. 

Kondisi seperti ini tak terlepas dari penerapan sistem yang “tak normal” yaitu kapitalisme. Dalam sistem ini peran ibu sebagai pendidik generasi kian pudar, karena harus ikut menanggung nafkah keluarga. Para ibu terpaksa harus ikut terjun langsung bekerja memenuhi kebutuhan keluarga. Yang tak jarang dari pagi hingga sore, bahkan malam. 

Terforsirnya ibu dalam ranah publik membuat perhatian kepada anak menjadi minim, bahkan hilang. Akibatnya anak-anak menjadi terlantar, tak mendapat hak akan pengasuhan dan pendidikan yang berkualitas dari sang ibu. Hingga akhirnya mencari pelampiasan dan perhatian dari teman atau lingkungan luar keluarga. Padahal ancaman dari grup-grup sosmed kaum gay selalu mengintai setiap saat, yang jelas sangat merusak akhlak bahkan aqidah.

Belum lagi pekerjaan para LGBT yang dekat sekali dengan seks komersil membuat kerawanan dari sisi kesehatan. Bisa dibayangkan kerusakan yang diakibatkan jika generasi muda kita terjerat oleh kaum menyimpang ini.
Namun, dengan merebaknya wabah yang diikuti perubahan pola hidup membuat orang lebih perhatian terhadap masalah kesehatan. Termasuk juga kaum LGBT, mereka ternyata cemas dan ketakutan akan ancaman virus covid-19. Bukan hanya takut tertular, tetapi juga khawatir homophobia akan meningkat. 

Sebuah contoh yang terjadi di Korea Selatan, kaum gay disana kini semakin ketar-ketir. Terlebih lagi setelah Otoritas kesehatan Korea Selatan (Korsel) melaporkan puluhan kasus baru infeksi Covid-19 terkait dengan kelab malam dan bar di Itaweon. Laporan tersebut memicu ketakutan di kalangan komunitas lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) setempat untuk menjalani tes.

Mereka takut dites virus corona baru; SARS-CoV-2, penyebab Covid-19, karena keberadaan LGBT tabu di negara itu dan berpotensi memicu homofobia yang meluas. Pihak berwenang bekerja keras untuk mencegah gelombang baru infeksi Covid-19 di Seoul, yang diyakini terkait dengan distrik pesta gay; Itaewon. (sindonews.com, 13/05/2020).

LGBT memang suatu ketidaknormalan yang terjadi akibat penerapan sistem kehidupan yang menyalahi fitrah manusia. Namun karena wabah covid-19 ini, ternyata suara mereka kini semakin meredup (dan semoga saja menghilang). Padahal sebelum pandemi, dengan begitu bangganya memamerkan diri dan komunitas mereka. 

Sebaliknya, pola hidup bersih dan sehat yang telah diajarkan dalam Islam makin banyak diterapkan masyarakat dari berbagai kalangan di saat pandemi ini. Islam memang lekat dengan keteraturan, kerapihan, kebersihan, bukan hanya jasmaninya saja, tetapi juga secara ruhani. Kebiasaan menjaga kebersihan dan kesehatan menjadi bagian dari kehidupan seorang muslim. 

Islam juga sangat menjaga dalam pergaulan sosial. Tatacara bergaul dengan lawan jenis sangat diperhatikan. Tidak saling bersentuhan antar kulit atau tidak bersalaman dengan lawan jenis yang bukan mahram juga merupakan ajaran Islam. Dan kini banyak diterapkan oleh orang-orang, meski dengan alasan untuk mencegah penularan virus. Inilah hikmah dari wabah covid-19.

Wabah covid-19 ini menyingkap banyak hal negatif dari sistem kehidupan yang berlaku, sebanyak perubahan pola hidup umat manusia kini. LGBT yang merupakan gaya hidup “jorok” dan “kotor” nyatanya kian tersingkap keburukannya. Gaya hidup yang bukan hanya tak bersih dan tak sehat dari sisi jasmani, tapi terlebih lagi dari sisi moralitas dan agama.

Sebagai manusia beriman, tentunya melihat segala sesuatu yang terjadi bukan hanya dari yang nampak semata. Allah turunkan wabah ini jelas ada tujuannya. Setiap kejadian pasti selalu ada pelajaran yang diambil. Selalu ada hikmah di setiap musibah. Beginilah seharusnya kita memandang wabah covid-19 ini. 
Hikmah lainnya adalah keluarga punya waktu lebih banyak untuk berkumpul. Hubungan kekeluargaan antar anggota juga semakin erat. Semakin merasakan kebutuhan mereka akan keberadaan keluarga. 

Di masa pandemi ini, banyak keluarga yang semakin belajar akan tugasnya masing-masing. Para orang tua yang meskipun bekerja di rumah, tetap bisa memperhatikan aktivitas anak-anak. Orang tua juga bisa lebih ikut aktif dalam pendidikan anak (berbasis home schooling).  Yang mana sebenarnya merupakan tugas orangtua untuk mendidik anak-anak mereka sesuai ajaran Islam. Dan semua ilmu itu sebenarnya sudah kita dapatkan sejak 14 abad silam.

Dengan “new activities” tersebut, sebenarnya kita sedang menuju "new normal" yang sesungguhnya. Kehidupan normal sebagaimana di masa 14 abad yang silam. Kehidupan normal, dimana keluarga mengetahui peran dan fungsinya. Saling menjaga dari hal-hal yang membahayakan jiwa dan aqidah. Dimana para orang tua mengontrol pendidikan dan aktivitas anak-anaknya. Kehidupan normal dimana kelurga terdiri dari ayah dengan jenis kelamin laki-laki, dan ibu yang berjenis kelamin perempuan. 

Tentu saja new normal yang seharusnya ini tidak akan sempurna dan berjalan dengan normal tanpa adanya ‘new system'. Sistem yang sama dengan 14 abad silam. Sistem yang berasal dari Sang Pengendali Kehidupan, Sang Pencipta covid 19, yaitu Allah SWT. Itulah Sistem Islam yang akan membawa rahmat bagi seluruh alam. 

Wallahu ‘alam bish-showab. [] 

banner zoom