KRISIS IDENTITAS GENERASI MILENIAL

Oleh : Riska Malinda (Ibu Rumah Tangga Peduli Generasi)

Penamabda.com - Apa itu krisis identitas? Apa penyebabnya? Dan mengapa hal ini bisa terjadi?

Hedonisme seolah telah meracuni jiwa-jiwa yang haus akan kebebasan. Bius-bius hedonisme juga telah melenakan kehidupan kaum milenial. Bagaimana tidak? Begitu banyak aktivitas-aktivitas remaja yang dihabiskan hanya untuk tik-tokan, menonton drama, bermain game atau prank unfaedah.

Semangat keingintahuannya yang besar nampaknya hari ini mendorong para remaja melakukan aktivitas sesuka hati. Ingin menang sendiri dan tak mau diatur oleh batasan-batasan syari'at. Kebusukan ide kebebasan kemudian diagung-agungkan demi memuaskan hasrat senang-senang.

Para remaja sejatinya adalah generasi peradaban dan agen-agen perubahan. Menurut Dr. Estiningtyas P., seorang Dokter sekaligus Aktivis Dakwah ini menyimpulkan beberapa faktor-faktor internal maupun eksternal yang mendorong remaja berperilaku demikian.

1. Hilangnya Prinsip Hidup
Seorang remaja muslim haruslah memiliki prinsip hidup yang jelas. Prinsip hidup akan mengarahkan setiap individu untuk tidak latah mengikuti trend terkini yang unfaedah. Seperti halnya seekor burung Elang yang hidup mulia karena ia hidup layaknya seekor elang. Ia terbang dan menjadi pemangsa udara paling ditakuti. Sama halnya ketika remaja Islam mau hidup dengan berprinsip pada aturan-aturan Islam. Ia akan hidup mulia, berwibawa dan disegani, silahkan berkaca kepada Muhammad Al Fatih.

Setiap apapun yang seorang remaja muslim lakukan, hendaknya tak meniru-niru gaya hidup peradaban lain. Karena Islam sudahlah lengkap mengatur gaya hidup sarat akan kemuliaan. Gaya hidup yang memanusiakan manusia.

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031)

2. Tak Memiliki Batasan
Senada dengan ide tidak adanya batasan dalam berekspresi membuat para remaja muslim latah. Mereka tanpa sadar telah menggadaikan identitas dirinya sebagai seorang muslim. Harus dipahami bahwa setiap aturan yang ada dalam Islam bukanlah pengekangan. Ia merupakan bentuk kasih sayang Sang Maha Pengatur kehidupan. Karena Dialah yang menciptakan manusia, maka sejatinya hanya Dialah yang mengetahui kadar dan batasan-batasan yang ada dalam diri manusia.

3. Mengambil Keuntungan Materialistis
Tidak dapat dipungkiri. Sistem Kapitalis hari ini berperan sebagai induk dari kebebasan. Remaja-remaja hari ini lahir dari sistem yang rusak sekaligus merusak. Keuntungan perkapita (uang) dan kebermanfaatan sesuatu di jadikan pedoman hidup. Contoh : seorang youtuber memuat konten-konten tak bermanfaat, membagi-bagikan sembako berisi batu, dilakukannya hanya untuk mendapatkan keuntungan rupiah saja. Atau ada juga seorang remaja muslim yang menjual kehormatannya untuk menolong warga yang terdampak COVID-19. Subhanallah. Ada apa dengan para remaja Islam saat ini?

4.  Adanya Inflasi Kebudayaan Barat
Perlu disadari oleh remaja-remaja muslim bahwa ini adalah salah satu jebakan musuh-musuh Islam, untuk melemahkan kekuatan Islam melalui agen-agen perubahannya. Semakin seorang terlena kepada kebebasan semakin mereka terjebak dalam siasat musuh-musuh Islam.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669)

5. Adanya Penghalang Eksternal
Kondisi eksternal ternyata juga mendorong seorang remaja menjadi malas untuk hijrah. Dan ini pula yang digaung-gaungkan oleh musuh-musuh Islam. Ada stigma yang dibuat oleh musuh islam. Semisal ungkapan bahwa yang ngaji sok suci, yang ngaji sok mau masuk surga sendiri, yang hijrah kemudian dijauhi. Stigma-stigma negatif dari luar inilah yang kemudian menyurutkan langkah mereka untuk mengkaji Islam secara kaffah.

Wallohua'lambisshowab.

banner zoom