Bobroknya Generasi Muda, Tak Lagi Biasa

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih (Muslimah Penulis Sidoarjo) 

Penamabda.com - Era media sosial memang kini makin merajai dunia interaksi antar manusia. Seperti misalnya Facebook. Pengalaman pribadi yang tak terlupakan, awalnya dulu ada beberapa teman yang menanyakan mengapa saya menggunakan aplikasi bigo. Jelas saya terheran-heran, sebab mendengar namanya saja baru dari mereka.
    
Ternyata bigo adalah aplikasi penyedia konten live porno dan tak pantas ditonton. Artinya Facebook saya diretas. Tak bisa berbuat apapun , hanya mampu meminta maaf jika ternyata ketidakpantasan itu muncul di beranda mereka. 
    
Berikutnya, muncul notifikasi di messenger, aplikasi yang terhubung erat dengan Facebook. Mereka adalah orang-orang yang meminta pertemanan. Setelah saya add, mereka sebagian masuk pula ke messenger dan mengacau. Show up sesuatu yang sangat-sangat tak pantas, maaf" alat kelamin" atau video tak senonoh.
    
Jelas saya merasa terhina, apakah saya terlihat sama seperti mereka sehingga mereka tak segan berkirim konten tak layak? Ternyata itulah perilaku exhibionis. Dalam The Encyclopedia of Sexual Behaviour yang disunting oleh Albert Ellis dan Albert Abarbanel (1961), dicatat tentang maraknya perilaku tersebut di Australia dan Selandia Baru kala itu. Kejadian-kejadian itu banyak ditemui di kereta.
    
“Ekshibisionis termasuk salah satu gangguan kepribadian di mana orang yang bersangkutan mendapatkan kesenangan dan kepuasan dengan menunjukkan alat kelaminnya kepada orang lain di muka umum," ujar psikolog klinis Nirmala Ika.
   
Namun jika berusaha mencari akar persoalannya, semua karena liberalisasi di"Legalkan". Kebebasan tanpa syarat  telah menjadi budaya masyarakat. Pemerintah sendiri  menanganinya setengah hati. Bagaimana tidak, semakin hari korban pelecehan seksual, perkosaan, insect dan sebagainya makin marak. Korban berjatuhan, namun pejabat pemerintahannya dengan lantang mengakui penyuka tayangan pornografi. Dan bangga!
    
Upaya pemblokiran akun pelaku sebagaimana yang saya lakukan tak berguna samasekali, sebab hal itu justru bak menyuburkan tumbuhnya jamur di musim hujan. Akun bisa dibuat kapan saja dan dibuat lebih dari 10 tak masalah. Perlu upaya tegas dari pemerintah. Sekaligus pencontohan perilaku sehat dan terhormat. 
    
Psikolog keluarga Elly Risman mengaku prihatin dengan perkembangan anak-anak di era digital. Alasannya, pornografi telah meyerang habis-habisan kepada generasi penerus bangsa ini. “Pornografi itu jelas bisa membuat otak rusak,” ucapnya. Menurutnya, apabila otak rusak maka otaknya akan seperti binatang yang kemudian berpengaruh pada perilaku mereka.
    
Dan memang bobroknya Generasi muda tak lagi bisa disebut biasa. Sebab, mereka tak peduli apakah perilaku mereka berpengaruh buruk atau tidak pada orang lain. Mudahnya peredaran video porno, gambar dan konten-konten keji lainnya tak lepas dari bagaimana cara pandang bangsa ini dalam mengatasi persoalan pornografi. Yang jika dibiarkan terus menerus akan menghilangkan jati diri bangsa, tak lebih daripada bangsa penyuka bucin. Apa bedanya dengan hewan, padahal seharusnya manusia lebih mulia sebab ia berakal.
    
For your information, dampak Corona tak beda dengan pornografi jika telah menyentuh generasi muda yang rentan menjadi korban bahkan pelaku. Kerusakan otak permanen akan melumpuhkan amal baik dan produktif. Yang seharusnya mereka memimpin peradaban malah diperbudak nafsu. 
    
Sayangnya tak ada perlindungan dalam sistem sekulerisme kapitalis untuk tidak terpapar. Sebab sebagaimana benda maka tubuh adalah komoditi bebas eksplore. Perlindungan hanya didapat dengan Islam. Akal merupakan karunia agung yang diberikan Allâh Azza wa Jalla kepada bani Adam. Ia adalah pembeda antara manusia dengan hewan, dengannya mereka dapat terus berinovasi dan membangun peradaban, dan dengannya mereka dapat membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya sesuai jangkauan akal mereka.
    
Karena besarnya karunia akal ini, Islam menggariskan banyak syariat untuk menjaga dan mengembangkannya dengan mengharamkan apapun yang dapat menghilangkan akal, baik makanan, minuman, ataupun tindakan. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    
"Semua yang memabukkan itu adalah khamer dan semua yang memabukkan itu adalah haram"[HR. Muslim]
    
"Selain itu Rasulullah juga bersabda" Tidak boleh (haram) membahayakan diri sendiri maupun orang lain" (HR Ibn Majah dan Ahmad).
    
Jika kita peduli supaya kerusakan tidak bertambah parah, tentu lebih bijak jika kita mulai mengajak semua umat bersatu menjadikan syariat Allah tak sekedar retorika tapi jelas diterapkan. 

Wallahu a' lam bish showab. 
banner zoom