Bersyukurlah Dan Jangan Menjadi Kanud

Oleh : Aya ummu Najwa

Penamabda.com - Allah sungguh telah mencela orang yang disebut kanud, yaitu orang yang tidak mensyukuri nikmat.  Sebagaimana dalam firmanNya,

إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ

“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya.” (QS. Al-‘Adiyat: 6).

Al-Hasan Al-Bashri mengatakan mengenai ayat ini, orang yang kanud adalah orang yang terus menerus menghitung musibah demi musibah, lantas melupakan berbagai nikmat yang telah Allah beri.

Hidup di zaman kapitalis seperti saat ini, sedikit banyak membuat orang susah untuk mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan. Tuntutan kebutuhan hidup yang kian meningkat terus menggerus kesadaran manusia bahwa telah banyak sekali nikmat yang Allah turunkan untuk manusia. 

Dunia semakin dikejar semakin kurang, maka segala cara dibuat untuk mencapainya, korupsi, menipu, mencuri, merampok, hingga jual diri. 

Negara yang tidak berhukum dengan Islam, sedikit demi sedikit telah menjauhkan manusia dari Allah. Padahal negeri ini begitu melimpah kekayaan alamnya, tetapi karena tidak disyukuri dengan menerapkan aturanNya, dan malah menerapkan sistem kufur, yaitu demokrasi liberal, maka bukan kerahmatan yang diraih, tapi bencana demi bencana yang terjadi. Musibah demi musibah terus melanda negeri ini.

Ada beberapa hal yang harus diketahui mengenai rasa syukur, agar kita terhindar dari sifat kanud;

Yang pertama, Syukur Bukan Hanya dengan Mengucapkan Alhamdulillah

Syukur yang tepat, bukan hanya pandai mengucapkan alhamdulillah. Sudah semestinya, syukur itu diwujudkan dalam amalan. Menrapkan aturanNya dalam segala aspek, adalah tanda syukur yang paling nyata.

Syukur, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah,

الشُّكْرُ يَكُوْنُ : بِالقَلْبِ : خُضُوْعاً وَاسْتِكَانَةً ، وَبِاللِّسَانِ : ثَنَاءً وَاعْتِرَافاً ، وَبِالجَوَارِحِ : طَاعَةً وَانْقِيَاداً .

“Syukur itu dengan hati, dengan tunduk dan merasa tenang. Syukur itu dengan lisan, dengan memuji dan mengakui. Syukur itu dengan anggota badan, yaitu dengan taat dan patuh pada Allah.” (Madarij As-Salikin, 2:246)

Kedua, bersyukur berarti meninggalkan maksiat. Termasuk membuang hukum hukum anti Islam, dan menggantinya dengan dengan Islam.

Syukur akan terus menambah nikmat dan membuat nikmat itu terus ada. Hakekat syukur adalah melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat.

Mukhallad bin Al-Husain mengatakan,

الشُّكْرُ تَرْكُ المعَاصِي

“Syukur adalah dengan meninggalkan maksiat.” (‘Iddah Ash-Shabirin, hlm. 159)

Ibnu Abid Dunya menyebutkan hadits dari ‘Abdullah bin Shalih, ia berkata bahwa telah menceritakan padanya Abu Zuhair Yahya bin ‘Athorid Al-Qurasyiy, dari bapaknya, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَرْزُقُ اللهُ عَبْدًا الشُّكْرَ فَيَحْرُمُهُ الزِّيَادَة

“Allah tidak mengaruniakan syukur pada hamba dan sulit sekali ia mendapatkan tambahan nikmat setelah itu. Karena Allah Ta’ala berfirman,

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Jika kalian mau bersyukur, maka Aku sungguh akan menambah nikmat bagi kalian.” (QS. Ibrahim: 7) (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, 4:124)

Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Sesungguhnya Allah memberi nikmat kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Jika seseorang tidak mensyukurinya, maka nikmat tersebut berbalik jadi siksa.”

Ibnul Qayyim berkata, “Oleh karenanya orang yang bersyukur disebut hafizh (orang yang menjaga nikmat). Karena ia benar-benar nikmat itu terus ada dan menjaganya tidak sampai hilang.” (‘Iddah Ash-Shabirin, hlm. 148)

Sudah seharusnya rasa syukur terus dilatih dan dilakukan, agar setiap nikmat yang telah Allah berikan tidak menjadi musibah.

Karena, Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Katsir berkata, sebagai penduduk Hijaz berkata, Abu Hazim mengatakan,

كُلُّ نِعْمَةٍ لاَ تُقَرِّبُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَهِيَ بَلِيَّةٌ.

“Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah, itu hanyalah musibah.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:82)

Wallahu a'lam
banner zoom