Ada Yang Beda (Part 2)

Oleh : Nur Kasih, S. Ag

Penamabda.com - "Ah, bosan, sekolah di rumah saja, puasa ramadanpun tak bisa tarawih bareng di masjid," ujar Mufida sambil hentakkan kaki pelan di lantai rumahnya yang asri.
Bundanya melihat putri semata wayangnya yang beranjak remaja, tepatnya 14 tahun di bulan April kemaren. Ia membesarkannya tanpa sang suami membersamai. Semenjak ayah Mufida berpulang ke Haribaan Ilahi Rabbi, saat usia Mufida 5 tahun, karena kecelakaan kerja. 

Tapi, bundanya Mufida tetap sabar dan tabah menghadapi semuanya. Sebab ia dan Mufida tinggal di lingkungan yang nuansa shilah ukhuwahnya sangat bagus. Sehingga banyak teman dan tetangga yang selalu ada untuk mereka. Kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan Mufida ditopang dari tabungan dan santunan perusahaan tempat ayahnya Mufida bekerja. Pun gajinya sebagai konsultan Manajemen Pendidikan masih bisa dan cukup untuk menyambung hidupnya dan putri tunggalnya.
.
Allah sangatlah tahu kebutuhan hambanya. Bundanya Mufida dianugerahi rizki meski suami tak lagi di sisinya. Ditambah lagi, Mufida, putrinya beberapa kali mendapatkan beasiswa dari sekolah dan hadiah dari beberapa perlombaan yang diikutinya.
.
Ramadan kali ini bagi Mufida dan bundanya banyak berbeda dengan ramadan-ramadan sebelumnya. Sebab semua aktifitas hampir seluruhnya dikerjakan di rumah. Hingga makin bertambah membosankan saja bagi Mufida yang kesehariannya aktif di sekolah dan kajian remaja di luar aktifitas sekolah.
*****
"Mufida, kita bikin agenda yang bermanfaat yuk, agar ramadan kali ini tidak hanya rebahan di rumah", ajak Ayesha pada sohibnya.
.
Tapi tiba-tiba datang Agya untuk mempengaruhi mereka berdua agar beraktivitas di rumah dengan tiktok-an via medsos. Untuk menghilangkan kepenatan dan keboringan.
*****
"Ngapain sih, bikin agenda yang buat capek nguras fikiran, mendingan kita rebahan sambil tik tok kan", ujar Agya nyolot. 
"Kan kita memang sekarang dianjurkan untuk stay at home dan rebahan aja di rumah, gimana sih!" lanjut Agya yang masih tetap nyolot dibarengin mata yang melotot.
.
Mufida dan Ayesha saling berpandangan. Mereka heran dengan ucapan Agya yang tanpa fikir dulu. 
.
"Hai Agya sadar nggak yang kamu ucapin tadi," ? ujar Mufida geram.
"Iya nih," sahut Ayesha ikutan geram. "Sadar kok," jawab Agya tak mau kalah. "Ngapain juga sih, kita capek-capek buang waktu, fikiran dan tenaga, hidup kan cuman sekali, nikmatin aja lah girls."
.
"Justru karena hidup hanya sekali maka harus dimanfaatkan sebaik mungkin agar kelak, tidak merugi, baik di dunia maupun di akhirat." jawab Mufida dengan sabar.
.
Mereka bertiga nampak bersitegang, karena adu argumen tentang harusnya ngapain dikondisi  pandemi virus sicoro ini. Yang mana aktivitas bersama tidak bisa dilakukan lagi. Hingga akhirnya, pelan-pelan Agya pergi meninggalkan mereka berdua. Sebab ia merasa tidak cocok lagi, sambil masih nyerocos seperti mercon.
.
"Udahlah kalau gitu kita jalan masing-masing, mumpung lagi stay-at-home jadi rebahan aja dulu lah, nikmati suasana yang ada." ucap Agya ketus.
"Aku akan bebas ngembangin bakat tik tok an." gumam Agya dalam hati.

*****
bersambung...
banner zoom