Aceh, Ukhuwah dan Khilafah

Oleh : Najah Ummu Salamah

Penamabda.com - Puluhan warga Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara, Aceh, nekat menyelamatkan 94 imigran Rohingya, Kamis (25/6) lalu. Rakyat Aceh melansir, kapal tersebut sempat tertahan karena tak diperbolehkan mendarat oleh petugas keamanan setempat. Penarikan kapal itu merupakan bentuk kepedulian warga Lancok kepada muslim Rohingnya. Kemudian, spontan warga juga mengutip sumbangan dari masyakarat yang berada di lokasi pantai untuk membeli nasi dan minum serta roti untuk warga etnis Rohingya tersebut. (Serambi news.com, 26/6/2020)

Kisah heroik masyarakat Aceh patut di acungi jempol. Di tengah situasi wabah covid-19 rasa kepedulian mereka sangat luar biasa. Padahal beberapa negara melakukan penolakan atas kehadiran etnis Muslim Rohingnya.

Semangat warga Aceh tentu tidak hanya di dasari oleh rasa kemanusiaan saja. Namun lebih dari itu warga Aceh masih memiliki rasa ukhuwah yang kental. Ukhuwah adalah rasa persaudaraan seiman dan seaqidah. Merasa senasib sepenanggungan. Ukhuwah adalah ajaran Islam yang mulia. Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (TQS. Al-Hujurat:10)

Dan dalam salah satu Hadist yang disampaikan oleh Baginda Nabi SAW: 

"Perumpamaan orang mukmin dalam menyayangi dan mengasihi ibarat sebuah tubuh. jika salah satu anggota terasa sakit, maka sakit itu akan menjalar ke seluruh tubuh. seperti demam dan tidak bisa tidur"( HR. Bukhori dan Muslim)

Kuatnya ukhuwah yang di implementasikan warga Aceh tidak lepas dari faktor sejarah. Aceh disebut sebagai serambi Mekkah. Hal ini dikarenakan Aceh adalah wilayah yang pertama kali memperoleh dakwah Islam di Nusantara. Sekaligus rute utama perjalanan haji umat Islam Nusantara pada masa lalu. Buya Hamka berpendapat Islam masuk ke Aceh sejak abad pertama Hijriah (ke-7 atau 8 M) namun ia menjadi sebuah agama mayoritas pada abad ke-9 seperti pendapat Ali Hasjmy.

Pemikiran dan perasaan masyarakat Aceh telah lama menyatu dengan Islam. Berbagai adat dan kebiasaan sehari-hari mereka berdasarkan syariat Islam. Keterangan Marco Polo yang singgah di Perlak pada tahun 1292 menyatakan bahwa negeri itu sudah menganut agama Islam. Begitu juga Samudera-Pasai, berdasarkan makam yang diketemukan di bekas kerajaan tersebut dan berita sumber-sumber yang ada seperti yang sudah kita uraikan bahwa kerajaan ini sudah menjadi kerajaan Islam sekitar 1270. (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Aceh)

Berdasarkan catatan sejarah, kerajaan-kerajaan Islam di Aceh juga memiliki hubungan erat dengan Khilafah Turki Utsmani. Seorang sejarawan bernama Farooqi menemukan sebuah Arsip Utsmani yang berisi sebuah petisi dari Sultan Alaudin Ri'ayat Syah kepada Sultan Sulayman Al-Qonuni yang dibawa Huseyn Effendi. Dalam surat tersebut, Aceh mengakui penguasa Utsmani sebagai Khalifah Islam. Selain itu, surat ini juga berisilaporan tentang aktivitas militer Portugis yang menimbulkan masalah besar terhadap para pedagang muslim dan jama'ah haji dalam perjalanan ke Mekkah. Karena itu bantuan Utsmani sangat mendesak untuk menyelamatkan kaum muslim yang terus dibantai Farangi(Portugis) kafir. (Farooqi, "Protecting the Routhers to Mecca", hal 215)

Dari sini kita bisa memahami sedemikian kuat rasa ukhuwah dalam benak masyarakat Aceh. Hal ini semata karena dorongan aqidah dan contoh tauladan dari nenek moyangnya. Masyarakat Aceh adalah masyarakat yang terlahir dari generasi yang pernah merasakan naungan peradaban mulia. Peradaban Islam dalam bingkai syari'ah dan Khilafah. 

Dahulu Sultan Aceh meminta bantuan Khalifah untuk mengusir penjajah di Selat Malaka. Hari inii warga Aceh menyelamatkan muslim Rohingnya dengan rasa Ukhuwah yang tersisa.

Wallahu a'lam bi ash-showab
banner zoom