Semua Bermula Darimu Ibu

Oleh : Aya Ummu Najwa 

Penamabda.com - Setiap pernikahan pasti menginginkan mendapatkan keturunan, dan setiap orang tua pasti menginginkan mempunyai keturunan yang shalih, qurrata a'yun. Akan tetapi, terkadang keinginan tinggal keinginan, bahkan tak jarang manusia hanya berharap namun tidak tahu bagaimana mendapatkan keturunan yang shalih atau shalihah, hingga akhirnya kekecewaan yang didapat. 

Banyak cara yang di tempuh manusia untuk mendapatkan anak yang shalih, dari sekolah ke madrasah, sekolah Islam terpadu, hingga dimasukkan ke pesantren. Orang tua lebih fokus kepada masalah anak, bagaimana caranya anak menjadi baik, tapi tidak melihat bahwa diri merekalah yang mempunyai pengaruh besar dalam pembentukankan karakter, tingkah laku dan kepribadian anak. Sebagai contoh, banyak orang tua ingin mempunyai anak hafidz Qur'an, tapi dia sendiri tidak mau mengenal dan bergaul dengan Al Qur'an.

Jadi, bagaimanakah seseorang bisa mendapatkan anak yang shalih?

Ternyata semua itu berawal bukan sedari mendidik anak ketika telah lahir. Namun faktor utama adalah pada istri yang shalihah. Karena istri adalah madrasah awal di rumah. Dari istrilah semua bermula.

Jika suami salah memilih atau membina istri, maka keadaan anak ikut serba salah. Ibunya akan mendidik anaknya dengan pola pikir dan pola sikap yang salah, bahkan bisa jadi bertentangan dengan agama, dan akhirnya menjadi generasi yang jauh dari Tuhannya. Namun, jika suami menyerahkan pendidikan anak pada istri yang shalihah, maka, anaknya akan ikut shalih. Dia paham bahwa anak adalah tiket menuju surganya Allah, sehingga ia akan mempersiapkannya dengan sebaik-baik bekal yaitu dengan keimanan dan ketaqwaan yang kokoh, hingga generasi cemerlang nan Sholih lah yang akan dihasilkan. Inilah yang terjadi, karena yang sehari-hari bertemu dengan anak di rumah adalah ibunya. Maka ada ungkapan dalam masyarakat Arab yang mengatakan;

الأُمُّ هِيَ المدْرَسَةُ الأُوْلَى فِي حَيَاةِ كُلِّ إِنْسَانٍ

“Ibu adalah sekolah pertama bagi kehidupan setiap insan.”

Karena seorang anak akan lebih sering bersama ibunya, dari ketika dia masih dalam kandungan pendidikan sudah harus dimulai, benih-benih keimanan harus sudah ditanamkan oleh orangtuanya, terutama ibunya. Sering diperdengarkan bacaan Alquran dari ibunya, lantunan dzikir dari ibunya adalah asupan nutrisi keimana pertama untuk sang buah hati. Dan Ini hanya bisa dilakukan oleh ibu uang beriman.
Allah Ta’ala berfirman,

وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ

“Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.” (QS. Al-Baqarah: 221)

Jika istri shalihah yang dipilih pasti akan mendapatkan keberuntungan. Karena Rasulullah shalallahu alaihi wassallam telah bersabda;

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi”. (HR. Bukhari, no. 5090 dan Muslim, no. 1446; dari Abu Hurairah)

Istri juga harus baik akhlaknya dan benar-benar berpegang pada agamanya, karena akhlak adalah buah dari akidah, ketika akidahnya kuat dan kokoh, maka akan menghasilkan akhlak yang mulia. Cobalah lihat penilaian kaum Maryam kepada Maryam ketika ia melahirkan Isa tanpa bapak,

يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا

“Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.” (QS. Maryam: 28)

Maksud ayat tersebut adalah bapak Maryam itu adalah orang shalih, tak mungkin anaknya adalah orang yang berperilaku jelek. Ibunya pun wanita shalihah, tak mungkin anaknya menjadi wanita pelacur.

Jadi, awalnya dari orang tua anak itu menjadi baik. Berawal dari pendidikan dan pola asuh di rumah. Bagaimana orang tua menanamkan nilai-nilai keimanan kepada anak, itulah yang akan menjadi pondasinya ke depan dalam mengarungi kancah kehidupan. Namun, bagi yang sudah terlanjur, tinggal memperbaiki diri. Dengan harapan istri menjadi baik, keadaan anak pun menjadi baik.

Namun sebenarnya bukan hanya dari istri, suami juga ikut memegang peranan. Suami hendaklah yang baik, karena suamilah pemimpin keluarga, dia akan ditanya tentang apa yang menjadi tanggungjawabnya. Maka dia berkewajiban sentiasa mendidik dirinya dan istrinya untuk bertaqwa kepada Allah, menghidupkan cahaya keimanan di rumahnya, sehingga keduanya akan mendapatkan anak yang shalih shalihah.

Tentang tanggung jawab suami dalam menjaga keluarganya, Allah berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Semoga Allah memberkahi keluarga kita menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah.

Wallahu a'lam
banner zoom