Kebijakan Masuk Sekolah Kembali di Tengah Wabah, Nasib Siswa dan Guru Jadi Taruhan

Oleh: Mira Sutami H (Pemerhati Sosial dan Generasi)

Penamabda.com - Masa-masa sulit di tengah wabah dirasakan oleh seluruh generasi termasuk anak-anak. Kebosanan anak disaat belajar di rumah karena tugas yang terlalu banyak. Mereka juga ingin belajar di sekolah dan bertemu dengan teman dan guru mereka. Tentu saja harapan besar anak-anak adalah bersekolah kembali seperti situasi normal sebelum ada wabah seperti sekarang ini. 

Begitupun orangtua banyak yang kewalahan ketika mendampingi anak belajar di rumah. Banyak para ibu yang tak paham terhadap tugas yang diberikan pada anaknya. Ini terjadi di daerah-daerah pinggiran yang para ibunya mempunyai tingkat pendidikan yang kurang memadai. 
Belum lagi banyak keluhan dari orangtua belajar di rumah dengan sistem online banyak menghabiskan biaya untuk membeli paketan data. Apalagi kondisi ekonomi rakyat yang tidak stabil akibat hidup berdampingan dengan virus yang tak tahu kapan akan sirna dari bumi lndonesia ini. Untuk makan saja banyak yang kekurangan, dan saat ini ditambah untuk beli paketan untuk menjalankan sekolah online. 

Jika tidak mengikuti prosedur belajar online yang ditetapkan pemerintah, bagaimana pembelajaran anak-anak mereka, terlebih lagi pendidikan saat ini orientasi pada nilai. Ya kalau hanya punya satu anak, jika punya 3 anak  dan semua masih sekolah. Kiranya berapa dana yang harus dikeluarkan oleh orangtua agar pendidikan buah hati mereka lancar.

Pemerintah mungkin juga banyak mendengar keluh kesah dari rakyatnya tentang beratnya para orangtua dan beban anak terhadap tugas para pelajar yang menumpuk kala belajar di rumah. Akhirnya pemerintah memunculkan ide untuk membuka kembali sekolah di bulan juli. Dengan anggapan wabah telah mengalami penurunan pada bulan Mei.  

Hal tersebut diutarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bahwa akan ada rencana membuka kembali sekolah pada pertengahan Juli 2020. " Kita merencanakan membuka sekolah mulai awal tahun pelajaran baru, sekitar pertengahan Juli," ujar Plt. Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud Muhammad Hamid kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Sabtu (9/5).

Hamid mengatakan nantinya kegiatan sekolah akan menggunakan protokol kesehatan di area institusi pendidikan yang sudah ditentukan pemerintah. Dan diwajibkan memakai masker. (CNNlndonesia.com,09/05/2020) 

Ide untuk membuka kembali sekolah pada pertengahan bulan Juli ini mendapat sorotan dari masyarakat tentunya. Salah satunya dari wakil sekertaris jendral FSGl Satriwan. Dia mengkhawatirkan nasib guru dan murid bila masuk sekolah di tengah wabah yang masih melanda negeri ini. Ia meragukan koordinasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang terlihat tak sinkron dalam penanganan corona.

"Kalau ingin membuka sekolah di tahun ajaran baru, oke itu kabar baik. Tapi [datanya] harus betul-betul [tepat], mana [daerah] yang hijau, kuning, merah," tuturnya kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Sabtu (9/5).

Ia menjelaskan pembukaan sekolah harus disinkronkan dengan data kasus dan penyebaran corona di setiap daerah. Jangan sampai ketika siswa dan guru kembali beraktivitas ternyata wilayah tersebut dalam pengawasan. (CNNlndonesia,09/05/2020)

Pertimbangan pemerintah untuk membuka kembali sekolah tersebut adalah bagian dari upaya pemulihan kondisi sosial ekonomi. Namun sayang ide ini dilakukan tanpa diiringi pemastian bahwa penyebaran virus tak ada lagi. Serta yang telah terinveksi sudah diisolasi. 

Faktanya untuk memastikan siapa saja yang terinfeksi melalui tes masal juga belum dilakukan. Karena terkendala masalah kekurangan alat yang menjadi jargonnya. Kalau hal ini terjadi lalu bagaimana mungkin para pelajar dan guru harus masuk sekolah bila tidak ada jaminan keselamatan dan tidak terinfeksi dengan wabah ini? Ini menunjukkan watak rezim ruwaibidhah.

Jelas sudah bahwa sistem penganut kapitalis itu telah gagal untuk menjamin keselamatan generasi dan rakyatnya. 
Makanya rakyat harus paham betul bahwa sistem yang diterapkan saat ini tak bisa menyelesaikan masalah mereka secara tuntas. Mereka harus kembali kepada aturan yang berasal dari wahyu Allah yang mampu untuk menyelesaikan seluruh probematika umat dengan tuntas. 

Sistem lslam yang aturannya berasal dari Allah ini bila diterapkan secara kaffah oleh khalifah maka seluruh problem dari manusia akan terurai. Salah satu contoh masalah wabah dan sosial ekonomi ketika sedang menghadapi wabah.
Di masa wabah maka seorang khalifah akan segera mengambil kebijakan pertama lockdown untuk wilayah yang terdampak wabah. Ini dimungkinkan untuk menghambat penyebaran wabah. Kemudian menyediakan tenaga medis yang terbaik, obat-obat terbaik juga diberikan, penyediaan perlengkapan medis yang memadai. 

Memastikan ketersediaan pangan, sandang, perumahan bagi penduduk wilayah yang terkena dampak wabah. Jadi penduduk yang berada di wilayah wabah merasa tenang karena kebutuhannya terpenuhi dan terjamin. Sehingga bisa taat terhadap aturan lockdown dan bisa lebih mendekatkan diri pada Allah. Tak harus seperti sekarang ini umat diminta tinggal di rumah tapi tak ada jaminan hidup maka PSBB juga tidak bisa berjalan dengan baik.
Yang kedua mendorong para ilmuan untuk menemukan vaksin atau obat yang dapat menyembuhkan wabah tersebut. Dan bagi seseorang yang mampu menemukan obat atau vaksin maka akan diberikan hadiah. Dengan cara seperti ini dimungkinkan agar wabah segera teratasi.

Lockdown tidak akan dibuka sebelum wabah benar-benar hilang. Khalifah melakukan hal ini untuk menjaga seluruh umatnya agar tidak terjangkit wabah. Karena lslam telah memberikan jaminan kepada umatnya berupa jaminan sandang, papan, pangan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan bagi tiap individu. Jadi tidak akan ada kasus seperti sekarang ini dimana sekolah akan dibuka sementara wabah belum dipastikan telah hilang. Sehingga jaminan kesehatan tak didapat oleh generasi dan juga oleh guru. 
Seorang khalifah akan terus berupaya melakukan pelayanan kepada seluruh umatnya dalam masa pandemi atau dalam kondisi aman. Karena sejatinya seorang khalifah adalah pemimpin dan pelayan umat. Dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Khalifah melakukannya atas dasar kasih sayang, keimanan dan ketakwaan kepada Allah tentunya.
banner zoom