Cinta Kepada Allah dan RasulNya

Oleh : Netty Susilowati (Revowriter malang) 

Penamabda.com - Arti cinta Allah kepada hambaNya  adalah ampunan, ridha dan pahala. Al Baidhawi berkata ketika menafsirkan firman Allah : 

“Niscaya Allah akan mencintaimu dan memberikan ampunan kepadamu (TQS Ali Imran :31) 

Maksudnya pasti Allah akan ridha kepadamu. Al Azhari berkata, “Cinta Allah kepada hambaNya adalah memberikan kenikmatan kepadanya dengan memberi ampunan”. Allah berfirman : 

“Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir (TQS Ali Imran : 32) 

Maksudnya, Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Sufyan bin Uyainah berkata, ”Arti dari niscaya Allah akan mencintaimu adalah akan mendekat kepadamu". Cinta adalah kedekatan. Arti Allah tidak mencintai orang-orang kafir adalah Allah tidak akan mendekat kepada orang kafir".  Al Baghawi berkata, “ Cinta Allah kepada kaum mukmin adalah pujian, pahala dan ampunanNya bagi mereka". Al Zujaj berkata, “ Cinta Allah kepada makhlukNya adalah ampunan dan nikmatNya atas mereka, dengan rahmat dan ampunanNya, serta pujian yang baik kepada mereka. 

MasyaAllah siapakah yang tidak ingin dicintai oleh Allah? Mendapatkan pujian, ampunan, pahala dan dekat dengan Allah? Tentu sebagai seorang mukmin tentunya kita semua ingin dicintai oleh Allah.  Ingin dekat dengan Allah. Ingin mendapat pahala, ampunan serta pujian Allah. Jika kita ingin dicintai oleh Allah, maka mari melayakkan diri untuk dicintaiNya. Dengan apa? Memberikan cinta kita juga kepadaNya. 

Al Azhari berkata, “Arti cinta seorang hamba kepada Allah dan RasulNya adalah menaati dan mengikuti perintah Allah dan RasulNya".  Al Baidhawi berkata,”Cinta adalah keinginan  untuk taat.” Ibnu Arafah berkata, “Cinta menurut istilah orang Arab adalah menghendaki sesuatu untuk meraihnya.” Al  Zujaj berkata,”Cintanya manusia kepada Allah dan RasulNya adalah menaati keduanya dan ridha terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah saw. 

Cinta Allah dan RasulNya adalah sebuah kewajiban. Dan ia adalah jenis cinta yang terikat dengan mafhum syar’i (pemahaman yang benar terhadap hukum syara) yang telah diwajibkan oleh Allah. Seseorang yang telah paham apa saja yang dilarang dan apa saja yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya akan senantiasa terikat dengan perintah dan larangan tersebut karena kecintaan kepada Allah. 

Mari kita tengok bagaimana para sahabat berbicara tentang cinta kepada Allah dan RasulNya. Dalam sebuah tindakan nyata. Bukan sekedar kata-kata tanpa makna. 

Pada saat perang Uhud, diriwayatkan dari Anas ra, ia berkata : 
Ketika perang Uhud kaum Muslim berlarian meninggalkan Nabi saw. Abu Thalhah sedang berada di depan Nabi saw, melindungi beliau dengan perisainya. Abu Thalhah adalah seorang pemanah yang sangat cepat lemparannya. Pada saat itu ia mampu menangkis dua atau tiga busur anak panah. Kemudian ada seorang lelaki yang lewat. IA membawa setumpuk tombak kemudian berkata, ”Aku akan menebarkannya untuk Abu Thalhah”. Kemudian Nabi beralih kepinggir melihat orang-orang. Maka Abu Thalhah berkata, “Ya Nabiyullah, Demi bapak dan ibuku, engkau jangan pinggir, nanti anak panah orang-orang akan mengenaimu. Biarkan aku yang berkorban jangan engkau (Mutafaq ‘Alaih).

Qais berkata : “Aku melihat tangan Abu Thalhah menjadi lumpuh karena dengan tangannya itulah ia telah menjaga Nabi pada saat perang Uhud (HR Bukhari).

MasyaAllah hari ini kita tidak diminta berperang. Hari ini kita tidak diminta melindungi nyawa Rasulullah. Hari ini pembuktian cinta kita kepada Allah dan RasulNya cukup dengan menegakkan hukum-hukum Allah yang telah dicampakkan. Cukup dengan mengetahui  seluruh hukum-hukum yang ada dalam Al Qur’an. Cukup dengan terikat seluruh aturan Islam. Tanpa terkecuali. Tanpa memilih. Tanpa memilah mana yang bermanfaat mana yang tidak. Tanpa ada sebuah keberatan, tanpa ada sebuah keraguan sesuaikah ini dengan zaman.

Hari ini adalah moment yang tepat untuk membuktikan cinta kita kepada Allah dan RasulNya. Saat kita taat berpuasa ramadhan, saat kita taat membayar zakat, sudah taatkah kita untuk berjilbab? Sudah taatkah kita untuk bergaul sesuai Islam? Sudah taatkah kita berekonomi Islam? Sudah taatkah kita berpendidikan Islam? Sudah taatkah kita berpolitik Islam?

Mari kita renungkan sebuah hadits dari Anas ra, ia berkata: telah bersabda Rasulullah saw : 

“Tidak beriman seorang hamba hingga aku lebih dicintainya daripada keluarganya, hartanya, dan seluruh manusia yang lainnya (Mutafaq ‘Alaih) 

Allahuma sholli ‘ala Muhammad
banner zoom