Aku Berharap Bahagia

Oleh: Aya Ummu Najwa 

Penamabda.com - Siapa yang tak ingin bahagia? Setiap orang pasti ingin bahagia. Tak ada manusia satu pun yang ingin menjalani hidupnya dengan kesedihan dan kepiluan.

Di era milenial yang serba kapitalis ini, ketika semua orang mengarahkan semua upayanya untuk mendapatkan materi, menganggap materi adalah sumber kebahagiaan, sungguh di satu sisi kebahagiaan seakan sesuatu yang sangat susah untuk didapatkan. Manusia terus berlomba mengejar dunia, menjadikan dunia adalah tujuannya. Namun mereka merasa semakin dahaga, jiwa mereka semakin gelisah, hidup mereka semakin gersang, kering tanpa makna. 

Tak sedikit orang menganggap ketika mendapatkan lebih banyak materi, maka hidup akan bahagia. Mereka beranggapan dan berharap harta dan kekuasaan mereka bisa membawa kebahagiaan pada hidup mereka, sehingga merekapun mengerahkan semua tenaga, waktu, dan fikiran mereka hanya untuk mengejar materi. Seakan materi adalah sumber dan puncak kebahagiaan. Namun sejatinya banyak sekali dari mereka merasa semakin gersang dan kosong, hingga mengalami berbagai krisis kepribadian dan depresi tak berujung, dan memilih untuk bunuh diri.

Betapa kita bisa melihat, para penganut materialisme, yang mengagung - agungkan uang, berujung pada penyakit mental dan bunuh diri. Jiwa mereka kosong, kering, dan gersang. Harta yang mereka puja, tak memberi manfaat sama sekali, semakin dia haus akan dunia semakin merana jiwa mereka. Sungguh ironis dan miris.

Padahal, dalam Islam kebahagiaan itu sangat mudah didapat, mudah diraih, dan digapai, yaitu dengan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Seperti Firman Allah dalam Al quran, bahwa ketenangan akan diraih jika manusia senantiasa mau mengingatNya di setiap saat, di setiap urusannya. Dan ketenangan jiwa adalah kunci kebahagiaan.

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati-hati mereka menjadi tenteram dengan berdzikir (mengingat) kepada Allah. Ingatlah, hanya dengan berdzikir (mengingat) kepada Allah-lah, hati akan menjadi tenteram." (QS. Ar Ra’d : 28). 

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu’ah Al-Fatawa 8:453, sebab bahagianya seorang hamba adalah:

Pertama adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah Subhanahu wata'ala, 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat : 56).

Dengan keimanan yang kokoh, maka manusia akan menyadari arti penciptaan dirinya, sehingga dengan kesadaran itu ia akan menjadi taat. Pun dengan mengetahui tujuan untuk apa dirinya diciptakan, maka hal tersebut akan semakin menambah keimanannya kepada Allah.

 Kedua adalah menerima takdir, 

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)

Allah adalah pencipta segala sesuatu termasuk manusia dan Allah tau yang terbaik untuk hambanya. Maka segala ketetapanNya adalah yang terbaik untuk hambanya. Ketika Allah telah menetapkan hukum maka itu yang terbaik untuk manusia, tidak pantas manusia menolak atau bahkan membencinya. Walaupun terkadang serasa sulit, tetapi dengan menyadari bahwa semua datang dari Dzat yang Maha Tinggi, maka ia akan sabar dan menerimanya. Dan ini adalah sebagai bukti keimanan seorang hamba. Maka, dengannya ia akan merasa ikhlas dan bahagia.

Wallahu a'lam.
banner zoom