Tradisi-tradisi Ramadan yang Ditiadakan

Oleh: Tawati (Muslimah Pelita Revowriter Majalengka)

Penamabda.com - Sejumlah ritual dan ibadah Ramadan di Kabupaten Majalengka ditiadakan. Hal itu diatur dalam SE Bupati Nomor 400/646/Kesra tentang Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1441 H di tengah pandemi wabah Covid-19. 

Salah satu tradisi di bulan Ramadan yang umum dilakukan di Majalengka adalah berbuka puasa bersama di musala dan masjid. Namun, dalam situasi pandemi corona, buka puasa termasuk dalam item tradisi Ramadan yang perlu ditinggalkan.

"Salat tarawih dilakukan secara individu atau berjamaah bersama keluarga inti di rumah. Tadarus Alquran dilakukan di rumah masing-masing," demikian isi SE tersebut.

Selain itu, hari turunnya Alquran atau nuzulul quran yang biasanya diperingati cukup meriah dalam bentuk tablig, juga ditiadakan. Begitu juga itikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan, khusus untuk tahun ini ditiadakan. 

”Pelaksanaan Salat Idul Fitri yang lazimnya dilaksanakan secara berjamaah, baik di masjid atau di lapangan ditiadakan," demikian terkait panduan Salat Idul Fitri mendatang. (Sindonews, 18/4/2020)

Memang Ramadan tahun ini akan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Namun, janganlah bersedih, tetaplah bersuka cita menyambutnya. Menjalani Ramadan dengan penuh kekhusyuan. Beribadah dan beraktifitas di rumah, dapat mengurangi dari kemaksiatan di luar.

Berbuka puasa bersama keluarga tercinta tetap terasa nikmat. Kita pun tidak akan hilang kesempatan dalam bersedekah, jika biasanya kita selalu berkirim makanan tuk berbuka ke musala atau masjid, kita bisa mengirimnya ke rumah-rumah tetangga.

Salat tarawih yang dilaksanakan di rumah meski lebih santai, tetaplah sesuai jadwal, hanya tempat yang berubah, namun ibadah tetap dilaksanakan. Saat berbuka janganlah kekenyangan, sampai-sampai membuat tak mampu berdiri dan tidak bisa mengikuti salat berjamaah di rumah bersama anggota keluarga yang lainnya. Karena salat berjamaah lebih baik ketimbang salat sendirian.

Tadarus Al-quran bersama keluarga, saling menyimak dan mendengarkan bacaan anggota keluarga kita, bisa dilakukan secara bersama-sama dalam membaca Al-quran, bisa juga saling bergiliran. 

Saat malam nuzulul quran, kita pun bisa berlomba kebaikan dalam mengkhatamkan Al-quran. Untuk saling memotivasi tidak mengapa saling memberi reward berupa hadiah atau pujian.

Saat i'tikaf memang harus dilakukan di masjid jika memungkinkan namun tetap harus menjaga jarak, tidak berkerumun dan menjaga kebersihan.

Pelaksanaan Salat Idul fitri, jika memungkinkan aparat setempat mengizinkan mengadakan kita bisa mengikuti. Adapun tradisi bersalaman itu harus dihindari. Berkunjung kepada kerabat dekat saja, untuk kerabat jauh bisa dengan alternatif lain, misal melakukan video call, atau panggilan telpon di Hp.

Tradisi ziarah kubur saat hari raya juga tidak dilakukan, mendoakan tidak mesti selalu di tempat pemakaman. Apalagi tradisi di beberapa kampung dengan adanya sawer, itu malah merusak kuburan sekitar, ada yang menginjak, dan hilanglah adab, itu tidak dibenarkan.

Tradisi membangunkan sahur seperti "obrog" pun tidak akan ada. Insya Allah, setiap kita punya jam nya masing-masing untuk bangun sahur, saat mengetahui ada keberkahan di dalam sahur, dan merugi bagi siapa yang tidak bangun saat sahur itu tiba.

Kita pun bisa mengisi malamnya dengan salat tahajud terlebih dahulu. Karena saat Ramadan adalah waktu terijabahinya doa, mari kita perbanyak berdoa agar Allah segera mengangkat dan menghilangkan wabah ini. Aamiin Ya Mujiba Sailin.
banner zoom