Mengeruk Untung Dari Wabah Corona

Oleh : Teniazahra

Dunia dan khususnya Indonesia saat ini sedang mengalami kondisi  abormal. Ibarat manusia, Bumi saat ini sedang sakit. Begitupun negara negara lain di dunia juga sakit itulah gambaran mudah kondisi saat ini. Wabah Corona telah mengubah wajah dunia ini menjadi sepi penghuni. Setiap orang tidak melakukan aktivitas seperti biasa. Dunia berubah,iklim berubah situasi juga berubah. 

Di tengah kondisi maraknya wabah covid-19, setiap negara seharusnya memberikan perhatian penuh dalam upaya mengatasi dan mencegah penyebaran kasus covid -19. Di Indonesia data terakhir sampai Sabtu,4 April 2020 tercatat ada Positif 2.092, Sembuh 150,dan meninggal 191 (www.covid.go.id). Jumlah ini selalu bertambah dari hari ke hari. Rata,hampir semua lapisan masyarakat ada yang tekena infeksi ini. Mulai dari kalangan rakyat kecil-menengah,pejabat,artis,dan juga tenaga kesehatan. Minimnya Alat Pelindung Diri (APD) membuat para tenaga medis lebih rentan tertular covid-19. 
 
Dalam situasi yang semakin tidak terkendali, pemerintah Indonesia terkesan bersikap tidak serius dalam mengatasi persoalan ini.  Pemerintah menunjukkan sikap seolah lebih sayang pada keuntungan bisnis dibandingkan keselamatan rakyatnya. Seperti yang disampaikan Mentri Ekonomi Sri Mulyani setelah mendampingi Presiden Jokowi mengikuti Telekonferensi  Tingkat Tinggi Luar Biasa (KTT LB)  G-20 di Istana Bogor yang lalu, mewabahnya virus Corona dan maraknya kebutuhan akan kebutuhan APD, memberikan peluang yang besar bagi ekonomi Indonesia. Hal itu di karenakan Indonesia memiliki pabrik dan infrastruktur untuk memproduksi barang tersebut.

Faktanya Indonesia merupakan negara yang memang sudah memproduksi kebutuhan APD sendiri, namun hasil produksi ini malah diexpor keluar negeri, seperti yang diberitakan di Tempo.co 25 Maret 2020 terkait APD yang diimpor dari China bertuliskan Made Indonesia. 

Sungguh tega dan mengiris hati. Meskipun Pemerintah mengklaim kebutuhan alat pelindung diri (APD) dapat dipenuhi dri dalam negeri. Masyarakat dalam negeri justru menemui kelangkaan APD. Sebagai contoh, masyarakat saat ini kebingungan mendapatkan masker yang standart,apotik banyak yang kehabisan jikapun ada harganya sudah dibatas kewajaran. Beberapa Tenga kesehatan juga hanya menggunakan alat seadanya seperti mantel hujan. 

Realitas ini menyadarkan masyarakat bahwa pemerintah saat ini hanya mementingkan kepentingan finansial dibandingkan kepentingan rakyat.  Meskipun kondisi dalam negeri sedang membutuhkan namun pemerintah justru tidak memprioritaskan kepentingan masyarakat. 

Sebuah negara seharusnya menjadi Ibu bagi rakyatnya. Ibu akan mendahulukan kepentingan anak-anaknya dibandingkan kepentingan pribadinya. Tidak masalah dirinya kelaparan asalkan anak-anaknya kenyang. Tidak masalah dirinya sakit,asalkan anak-anaknya sehat. Namun,dalam sistim kapitalis sekuler saat ini kondisi ideal seperti itu layaknya mimpi. Kepentingan ekonomi negara menjadi yang utama. Negara tidak lagi berperan sebagai pelayan,tetapi sebagai pengusaha. Selalu menghitung untung rugi dalam setiap kebijakan nya. 

Berbeda jauh ketika negara khilafah Islam ada di dunia. Negara selalu hadir dan memberikan solusi terbaik bagi rakyatnya. Negara memposisikan sebagai pelayan bukan pengusaha. Islam telah memberikan solusi sempurna dalam seluruh masalah kehidupan. Penyelesaian kasus wabah telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat. Metode karantina telah ada sejak zaman mereka. 

Ketika ada wabah,negara khilafah akan secara cepat mengisolasi wilayah yang terkena wabah. Tidak boleh ada keluar masuk manusia dari lingkungan tersebut.Negara khilafah juga akan memenuhi semua kebutuhan pasien dan warga di wilayah yang terkena wabah. Yang sakit dirawat dan yang sehat bisa tetap beraktivitas seperti biasa. Di dalam negara kapitalis saat ini, perekonomian menjadi terganggu, masyarakat dibuat jenuh oleh pemerintah dengan mengharuskan mereka tinggal di rumahnya meskipun dalam keadaan sehat.

Demikianlah Islam sebagai sebuah agama sekaligus ideologi menjadi solusi dalam persoalan manusia. Berasal dari zat yang menciptakan manusia,yang lebih memahami yang terbaik bagi manusia. Sudah saatnya kita kembali kepada aturan ya dalam naungan negara Daulah khilafah Islamiyyah. 

Wallahu’alam.
banner zoom