Aku [bukan] Orang Baik

Oleh : Shafiyya Khaira (Mahasiswi, Aktivis Dakwah)

Penamabda.com- Hari itu, Aku dan Caca masih sibuk mengulang materi untuk olimpiade. Mengingat seminggu menuju hari-H, menjelajah bank soal terus kami gencarkan. Meraih gelar sebagai pemenang tidak terlalu kami harapkan, bukannya pesimis sebelum pertarungan hanya saja tak ingin menaruh harap yang akhirnya membawa pada kekecewaan. Fokus mengupayakan sesuai kemampuan, tentunya dengan niat ingin memperdalam ilmu pengetahuan dan menambah pengalaman. 

“Aku tinggal sholat dulu ya Kak” Caca sambil merapikan bukunya yang penuh dengan angka.

“Iya De, sholat dulu aja” Jawabku sambil mencuri pandangan pada satu soal yang belum bisa kami pecahkan.

Di sudut kecil selasar Mushola Sekolahku menjadi tempat favorit kami untuk saling bertukar pikiran, rindangnya pepohonan ditambah cuaca yang tidak terlalu terik cukup membuat aku tidak terusik. Tak lama kemudian terdengar langkah mendekat, ternyata Kayla dan Tania yang datang.

“Tuh bener kan masih adakan Ais di sini, soalnya masih ada sepedanya di parkiran” Kata Kayla bangga.

“Iya, iya kamu yang bener. Aku tinggal dulu ya mau sholat” Ucap Tania sembari melepas sepatu kesayangannya.

Kayla adalah temanku satu SMP dulu dan Tania satu SMA denganku sekarang. Kayla dan Tania lumayan akrab karena mereka sering ketemu kalau Tania kerja kelompok dengan Fathin.

“Dari mana Kay, kok bisa sama Tania?” Ungkapku setengah penasaran.

“Ada yang dicari tadi, males sendiri jadi ngajak Tania deh” jelas Kayla.

“Oowh, gitu” pandanganku masih tertuju pada soal fluida. 

“Ais, kalau aku liat kamu tuh gimana ya? Sosok yang tenang, baik, pinter, hidupmu kayak nggak ada masalah. Beda banget sama aku. Pengen deh jadi kamu Is” Ungkapnya tanpa ragu. 

Dunia seakan menertawakanku, ingin rasanya menangis tapi air mata tak mampu menampakkan beningnya. Bibir ini membisu, layaknya orator yang kehilangan narasi. Keringat dingin mulai berkawan dan seakan aliran darah tak bisa rasakan. Deg-degan lebih dari gugup ketika harus presentasi di depan teman-teman. Pujian yang tak bisa aku banggakan, bahkan malu untuk disematkan pada diri yang basah akan kesalahan. Dekapan masa lalu membuatku sesak dan hampir menyerah, tapi ku coba bangkit menelisik lagi langkah yang sudah di mulai.

Kisah lama yang coba aku hapus nyatanya masih membekas. Tinta hitam sudah terlanjur digores menghantui setiap masa hingga akhirnya hanya air mata penuh sesal membawa berita. Aku memisahkan Kayla dengan pacarnya, tepatnya sosok pria yang aku suka. 

Namanya Ryan, teman satu sekolahku.Tak ada dasar yang jelas aku menyukainya, anehnya mampu mengubah hari-hariku. Melihat senyum yang entah  ia cipta untuk siapa, menjadi salah satu sumber kebahagiaan bagiku, dan juga sebaliknya jika dalam satu hari tak bertemu ada sesuatu yang kurang dalam episode di hari itu. Humoris, sederhana, pintar dan juga sholeh di kaca mata ku saat itu. Salah satu anak basket andalan sekolah, organisatoris dan siswa teladan juga.

Aku tak menyangka ketika mendengar kabar dari Fathin kalau Ryan jadian dengan Kayla, kabar yang tak ingin aku dengar dan sungguh membuatku hancur. Fathin menceritakan dengan polosnya karena ia juga tidak mengetahui kalau aku menyimpan rasa dengan Ryan. Aku berusaha berpikir positif dan mengira itu adalah kali pertama ia pacaran dan memikirkan cara untuk menyadarkannya, karena saat itu aku sudah mulai memahami kalau pacaran itu sebenarnya tidak diperbolehkan dan Allah nggak akan ridho. Sebelum hijrah itulah dunia percintaan ala remaja yang pernah aku lalui. Layaknya seorang pemeran utama yang tertindas dan perlu dibela, tak punya salah dan kemenangan layak dipunya.

Ryan mengajukan syarat waktu mereka jadian adalah tidak boleh ada orang yang mengetahui hubungan mereka. Pada akhirnya mereka berpisah karena pertengkaran kecil, yaitu masuknya email dari seseorang yang mengingatkan Ryan kalau langkah yang ia ambil salah, artinya ada seseorang yang mengetahui hubungan mereka.

Sosok dibalik pesan itu adalah aku, dengan dalih melakukan itu untuk kebaikan mereka. Nyatanya aku yang tidak menerima akan cinta yang tak bisa dirasa. Tak bisa dibayangkan bagaimana malunya aku dipuji oleh seseorang yang hatinya aku sakiti. Rasanya ingin jujur saja saat itu, hampir saja semua behind the scene terbongkar. Kembali aku pikirkan apa yang akan terjadi ketika semua ini terjadi. 

“Setiap orang pasti punya masalah, Kay” Jawabku sambil menghela nafas. 

“Allah nggak bakal ngasih cobaan yang kita nggak mampu melewatinya. Dan aku bukan orang yang baik, banyak kesalahan yang aku lakukan. Hanya saja Allah menutup aibku sehingga kamu bisa menilai seperti itu” Sambungku sambil menahan bulir bening yang hampir bertamu.

Meski bulan terus berganti dan permintaan maaf sudah disampaikan pada mereka walaupun masih bersembunyi dibalik tokoh lain. Layaknya narator papan atas yang mampu membuat cerita negeri dongeng, bahwa yang bersalah adalah temanku dan ia menyampaikan maaf lewat diriku. Walaupun mereka sempat penasaran, lagi-lagi jiwa seni memainkan peran dalam diri ini berhasil meyakinkan mereka untuk melupakan sosok itu.

Setetes tinta yang terlanjur menghilangkan kemurnian air, khilaf yang membuatku sempat berfikir untuk meninggalkan dunia ini. Alhamdulillah drama itu terjadi setelah diri mulai mengkaji Islam, sehingga menyadari lebih baik tetap di sini toh resiko terburuknya hanya malu karena cemoohan daripada pergi dengan sayatan di dunia dan sengsara juga di hari pertanggungjawaban.

Mengumpulkan taburan hikmah yang berserakan, menjadikan kesalahan sebagai motivasi untuk terus berbuat kebaikan, bisa bersahabat dengan istighfar dan dinding untuk menyelimuti diri dari kesombongan karena sudah bertabur dengan dosa yang mulai ditinggalkan.

Kejadian yang syarat hikmah bagi pemeran. Dari sana aku menyadari bahwa Allah membimbingku agar beralih haluan, jalan kebaikan tak akan bersanding dengan kebaikan. Berharap mendapatkan Pangeran Sholih dari jalan pacaran adalah sebuah kemustahilan sebab jelas tak selaras dengan tujuan. 

***

“Perbuatan yang tidak ingin orang lain mengetahuinya bisa jadi itu adalah sebuah kemaksiatan” pesan bu Intan sebelum mengakhiri diskusi sore itu.

***

Semangat untuk terus memperkaya diri dengan tsaqofah Islam terus membara, sebab aku tak ingin mengulang hal yang sama. Drama itu tercipta ketika aku tidak mengetahui bagaimana Islam mengatur hubungan laki-laki dan perempuan. Tak ada dakwah yang motifnya karena kecemburuan. Dan merubah seseorang tak bisa dengan doktrin tanpa alasan. Nyatanya mereka kembali, melanjutkan kisah yang sempat aku halangi. 

“Santai aja Ais, aku udah sering ngalami hal gini” jawaban yang tak pernah aku kira dari sosok laki-laki yang pernah jadi idola. Artinya, hal ini pernah ia alami dengan orang yang berbeda. Lugunya diri yang berfikir ia tak sengaja menjalin asmara, nyatanya itu bukan kali pertama. 

Kepingan alasan terus aku kumpulkan sebagai bekal agar istiqomah dalam genggaman. Do’a terus dilangitkan agar Allah mengampuni kesalahan. Kali ini aku tak meminta mereka untuk berpisah. Ku titip bingkisan do’a jika mereka berjodoh agar disatukan dengan jalan pernikahan agar bisa meraih keberkahan, bukan mengambil jalan pacaran yang hanya melukis kemurkaan. 

Kini, orang yang dikira baik itu berproses mewujudkan agar tak sekedar hanya pujian, orang yang penuh maksiat yang terus berusaha untuk taat, serta fokus pada proses menuntut ilmu dan cita yang kini mulai diwujudkan. [PM] 
banner zoom