Menguak Kasus Kekerasan Pada Perempuan dan Kedok Kesetaraan Gender

Oleh : Novida Balqis

Kekerasan perempuan nyata terjadi setiap tahunnya. Tidak berkurang sama sekali kasus kekerasan yang menimpa perempuan. Justru semakin bertambah setiap tahunnya. Mengapa kasus kekerasan selalu terjadi dan selalu bertambah? Berikut fakta kasus kekerasan perempuan saat ini.

Dilansir dari nasional.tempo.co (6/3/2020), menurut data BPS dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, terdapat 33,4 persen perempuan di Indonesia yang mengalami kekerasan seksual mendapat posisi tertinggi. Kasus kekerasan pada perempuan yang paling banyak terjadi adalah inses, yaitu sebanyak 770.

Kenaikan kasus kekerasan terhadap perempuan melalui dunia cyber mencapai 300 persen menurut catatan Komnas Perempuan. Cukup signifikan, yang semula 97 kasus ditahun 2018 menjadi 281 kasus ditahun 2019. (nasional.kompas.com, 6/3/2020).

Dari beberapa fakta kasus diatas dapat dilihat betapa terpuruknya kondisi kaum perempuan. Banyak kasus kekerasan yang menimpa kaum perempuan saat ini.

Contohnya saja kasus inses, yaitu kekerasan seksual didalam rumah yang pelakunya masih memiliki hubungan darah dengan korban. Bisa jadi pelakunya adalah ayah kandung, ayah tiri, atau pamannya.

Contoh kasus inses ini sangatlah miris. Bagaimana tidak, seorang kepala keluarga seperti ayah seharusnya melindungi keluarganya dari ancaman kekerasan semacam ini. Justru malah bukannya melindungi, justru menjadi pelaku kekerasan. Jelas semacam ini tidak sesuai fitrah dalam berkeluarga.

Dan juga kasus kekerasan perempuan melalui cyber. Perempuan banyak yang menjadi korban intimidasi, yaitu berupa penyebaran foto atau video porno.

Mirisnya, pelaku penyebaran tersebut merupakan orang-otang terdekat, pasangannya, ataupun orang-orang yang berada dilingkungan terdekatnya.

Sangat menyedihkan kondisi kaum perempuan. Bagaimana tidak, kaum perempuan bagai setangkai bunga mekar yang hanya diambil sari bunganya. Setelah habis dibuang begitu saja. Seperti kata pepatah, habis manis sepah dibuang.

Artinya, kaum perempuan hanyalah sebagai objek seksual semata. Ketika sudah tidak menarik, akan dicampakkan begitu saja. Na'udzubillah min dzalik...

Penyebab Kasus Kekerasan Perempuan

Kasus kekerasan pada perempuan tidak terjadi begitu saja. Tentu ada penyebab awal terjadinya kasus kekerasan ini.

Saat ini dapat kita lihat, bagaimana sosok perempuan benar-benar di eksploitasi tubuhnya. Melalui media gambar, tulisan, tontonan, dan lain sebagainya untuk pemuas nafsu semata.

Tidak hanya itu, bahkan tubuhnya bagai seorang yang tidak berharga. Dirusak kehormatannya, keperawanannya, dan rasa malunya. Bahkan dirusak naluri kasih sayangnya. Hal itu terbukti ketika ia tega melakukan aborsi pada janinnya. Astaghfirullah...

Sangat parah kerusakan yang terjadi pada zaman ini. Satu-satunya penyebab dari timbulnya kerusakan ini adalah karena sistem yang diterapkan.

Bagaimana tidak, sistem saat ini membiarkan bahkan memfasilitasi agar perempuan dieksploitasi habis-habisan. Contohnya saja iklan di televisi. Selalu menampilkan perempuan dalam setiap iklan.

Hal itu karena perempuan dipercaya dapat mendongkrak perekonomian negara. Benarkah? Jawabannya tidak, karena pada faktanya perempuan hanya dijadikan bahan eksploitasi. Karena mempekerjakan perempuan mendapatkan untung besar. Mengapa?

Karena perempuan sangat telaten dalam pekerjaannya, namun mau digaji sedikit. Itulah mengapa, perempuan di eksploitasi habis-habisan dalam sistem demokrasi ini. Kesetaraan gender hanyalah kedok semata, agar perempuan mau bekerja diluar rumah.

Selain itu, kesetaraan gender dapat menyebabkan dampak buruk bagi perempuan, terutama keluarga. Karena jika perempuan bekerja diluar rumah, keluarga akan terbengkalai. Suami dan anaknya tak terurus. Anak kurang perhatian, dan terjadilah kenakalan remaja serta rusaknya moral pemuda saat ini. Dampak dari kesetaraan gender.

Selain itu, kesetaraan gender menyebabkan perempuan menjadi tidak patuh pada suaminya. Sebab perempuan merasa ia berhak melakukan seperti apa yang dilakukan suaminya. Hal ini sangat berbahaya, karena tidak sesuai dengan fitrah sebagai perempuan yang seharusnya memiliki kasih sayang pada suami dan anak-anaknya. Dampaknya, perkelahian suami istri tak terelakkan yang berujung cerai. Betapa memprihatinkannya dampak dari slogan kesetaraan gender ini.

Solusi Jitu Mengatasi Kekerasan Pada Perempuan

Solusi dari kekerasan perempuan jelas, bukanlah kesetaraan gender. Karena jelas, kesetaraan gender justru merusak keutuhan rumah tangga. Bahkan menjadi pemicu kekerasan dalam rumah tangga. Karena istri menuntut hak yang sama seperti suaminya.

Solusinya juga bukan dari sistem demokrasi ini, yang telah nyata mengeksploitasi perempuan. Bahkan membiarkan perempuan meninggalkan keluarganya hanya untuk mencari sesuap nasi.

Umat membutuhkan sistem yang dapat menjaga dan melindungi perempuan dari ancaman kekerasan. Sistem yang dapat menangani ekonomi dengan baik, sehingga perempuan tidak harus bekerja dirumah dan meninggalkan keluarganya.

Hanya satu sistem ini, yang dapat menjaga perempuan dan mensejahterakan umat manusia, yaitu sistem Khilafah Islam. Hanya sistem Khilafah yang dapat mengatur perekonomian dengan baik, dan menjaga fitrah perempuan yaitu mengatur keluarga dirumah.

Sehingga perempuan dapat menjadi seorang ibu yang dapat mendidik anak-anaknya menjadi sholeh dan sholehah, serta melayani suaminya dengan baik sesuai fitrahnya.

Dengan ini, terciptalah keluarga yang utuh dan harmonis, sehingga negeri pun menjadi kuat. Melahirkan generasi emas dan membangun peradaban yang kuat dan kokoh. Tidak seperti sistem demokrasi yang terbukti merusak tatanan masyarakat, sehingga melahirkan generasi rusak.

Wallahu A'lam Bisshowab
banner zoom