Mencontoh Sang Khalifah Dalam Atasi Wabah

Oleh : Dina Evalina

Hingga Senin (23/3/2020) siang jumlah pasien positif Covid-19 di Indonesia bertambah 65 orang. Total orang yang terinfeksi virus Corona menjadi 579 orang. Data tersebut merupakan akumulasi perhitungan hingga Senin siang. Menurut Juru bicara Pemerintah Indonesia, seluruh data tersebut diberikan ke kepala dinas provinsi. Kemudian kepala dinas provinsi memberikannya ke dinas rumah sakit tempat pasien dirawat, kemudian diserahkan lagi ke dinas di kota untuk melacak penularan yang mungkin terjadi dari kasus yang sedang dirawat. Dia juga mengingatkan agar masyarakat .emjaga jarak tidak terlalu dekat dengan kontak sosial dan menghindari kerumunan yang sangat memungkinkan terjadinya penularan di antara penderita dengan yang sehat.

Namun, menurut Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus bahwa penanganan Covid-19 harus dilakukan  secara komprehensif oleh setiap negara. Menurut dia, penerapan pembatasan sosial atau social distancing   tidak cukup untuk mengatasi penularan penyakit yang disebabkan oleh virus corona. Ia mengatakan, cara paling efektif untuk mencegah infeksi dan menyelamatkan jiwa adalah memutus rantai penularan. Untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan dan karantina.

Dalam penanganan virus Covid-19 Pemerintah Indonesia memberi peluang berbagai pihak seperti lembaga dunia, hingga negara tetangga untuk membantu penanggulangan. "Ibu Menlu juga menyampaikan tentang rencana bantuan dari sejumlah pihak termasuk juga Menkeu, baik World Bank, ADB, maupun negara-negara sahabat," ujar Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo, Kamis (19/3/2020).

Tak tanggung-tanggung Dana Moneter Internasional atau IMF menyatakan siap memobilisasi kapasitas pinjaman sebesar US$ 1 triliun atau sekitar Rp 15 ribu triliun untuk membantu negara anggota dalam menangani dampak virus corona.

Instrumen yang dimiliiki antara lain mencakup dana pinjaman US$ 50 miliar untuk negara berkembang. IMF juga menyediakan pinjaman US$ 10 miliar tanpa bunga bagi negara-negara miskin.
Dalam sistem kapitalisme, istilah 'tak ada makan siang gratis' terus berlaku untuk mengambil keuntungan dari negara lain. Ditengah wabah yang mencekam banyak negara. Mereka akan terus memainkan perannya sebagai kapital yang haus akan kekuasaanya. Ditambah pemerintah negeri ini yang hingga sekarang belum melakukan lockdown untuk mencegah pihak luar menambah pelik permasalahan wabah virus Covid-19 yang terus memakan korban. 

Kementerian Koordinator bidang Perekonomian mengungkapkan alasan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak menerapkan lockdown atau penguncian akses wilayah baik secara regional maupun nasional di Indonesia. Salah satunya yakni mempetimbangkan berbagai akses ekonomi.

Sekretaris Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Susiwijono mengatakan banyak hal yang harus dipertimbangkan dari sisi ekonomi ketika pemerintah memutuskan untuk melakukan lockdown. Mengingat, sebagian besar pasokan barang di DKI Jakarta masih bergantung dari luar.
Hal itu menunjukkan wajah asli rezim saat ini yang lebih mementingkan perkara ekonomi ketimbang nyawa rakyat sendiri. 

Hal itu tak lepas dari sistem sekuler kapitalis yang masih rezim restui untuk diterapkan di negeri ini. Sistem yang hanya melihat sisi keuntungan dari kebijakan yang diterapkan melahirkan pemimpin yang abai akan keselamatan rakyat. Apa susahnya pemerintah menggelontorkan dana sekian triliun untuk memenuhi kebutuhan rakyat selama masa lockdown ? Padahal BI mengeluarkan dana hampir mencapai Rp300 triliun guna menguatkan nilai tukar rupiah dari tekanan dolar AS. Sistem sekuler kapitalis telah gagal meningkatkan perekonomian negeri ini. Nilai Rupiah semakin anjlok yang dapat berujung pada krisis akan kembali membayangi. 

Berbeda dengan Sistem Islam, negara yang menerapkan sistem Islam yakni Khilafah tak tanggung-tanggung untuk memberlakukan lockdown demi keselamatan rakyatnya. Dalam Sistem Islam akan melahirkan pemimpin yang dipilih rakyat untuk mengabdi secara totalitas kepada rakyat berdasarkan hukum-hukum Islam. Seperti yang pernah dicontohkan pada masa Kekhalifahan Umar Bin Khathab. 

Dalam seuatu riwayat dikisahkan, Khalifah Umar pernah keluar untuk melakukan perjalanan menuju Syam. Saat sampai di wilayah bernama Sargh, beliau mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengabari Umar bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, "Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meningggalkan tempat itu." (HR al-Bukhari).

Kala itu Khalifah Umar mendengarkan Hadits Nabi SAW dari sahabat Abdurahman bin Auf. Selanjutnya khalifah Umar segera meminta masukan Amru bin Ash. Saran yang diberikan adalah memisahkan interaksi masyarakat agar wabah tak meluas ke masyarakat yang masih sehat.

Khalifah Umar dengan cepat mengambil keputusan untuk tidak memasuki Syam. Juga melarang masyarakat untuk memasuki daerah yang sedang terkena wabah penyakit menular. Khalifah Umar mengambil kebijakan  lockdown dengan cepat. Segera mengisolasi daerah sehingga wabah tidak menyebar. Khalifah Umar juga membangun dengan cepat pusat pengobatan di luar daerah itu. Ini tentu dimaksudkan sebagai ikhtiar untuk melayani rakyat yang sakit.

Sungguh, bencana yang Allah hadirkan saat ini berupa wabah penyakit seharusnya menjadi renungan bagi kita semua atas dosa-dosa yang selama ini kita lakukan atas hukum-hukum Allah yang masih banyak kita abaikan terlebih negeri ini masih dengan pongahnya menerapkan hukum buatan manusia yang terbukti gagal memberi berkah dan sejahtera, sudah saatnya kita semua bertobat atas segala dosa dan semakin mengencangkan perjuangan demi tegaknya Hukum Allah dalam naungan daulah khilafah. 

banner zoom