-->

Menakar Peran Ibu dalam Masa Pandemi



Oleh : Mila Afiah S.Pd

REPUBLIKA.CO.ID, Sejumlah provinsi mulai Senin (16/3) meliburkan sekolah, dari jenjang TK, SD, SMP dan SMA hingga Senin (30/3). Langkah itu diambil untuk mengantisipasi penyebaran virus corona jenis baru atau Covid-19 di lingkungan lembaga pendidikan.

Meski terlihat menyenangkan, pembelajaran di rumah bukanlah sesuatu yang mudah bagi para orang tua. Banyak para orang tua yanh mengeluhkan karena mereka merasa beban jika pembelajaran beralih di rumah karena orang tua harus siap setiap saat untuk membimbing, mengarahkan anak-anak nya untuk menyelesaikan tugas dari guru mereka secara online. Tidak kaget jika para emak-emak di rumah yang terbiasa dengan urusan dapur atau yang terbiasa bergelut dengan komputer namun kali ino beralih profesi sebagai pengajar. Mengintai dari curhatan para ibu di beberapa medsos kebayakan mereka bergumam "Ini anak-anak belajar di rumah jadi orang tua yang sibuk. Aku stres banget nih jadi pengawas. Materinya banyak banget," ujar Mesya, seorang wali murid.

Karena banyak nya aduan karena para ibu stress dengan tugas sekolah anaknya menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima aduan terkait anak-anak yang stres akibat diberi banyak tugas secara online. KPAI meminta Dinas Pendidikan melakukan evaluasi terhadap para guru.
"Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima pengaduan sejumlah orang tua siswa yang mengeluhkan anak-anak mereka malah stres karena mendapatkan berbagai tugas setiap hari dari para gurunya," kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti dalam keterangan tertulis pada Rabu (18/3/2020).

Retno menduga banyak guru tidak memahami konsep belajar dari rumah atau home learning. Hal ini membuat guru memberikan banyak tugas ke siswa. 

Tidak sepenuhnya ini semua salah guru yang tidak pernah mendapat pelatihan home learning atau mengikuti diklat. Memang tugas seorang guru adalah mendidik berbagi ilmu di sekolah, jika anak-anak sudah kembali di rumah maka mereka adalah tanggung jawab orang tua masing-masing. Maka dengan situasi yang demikian rumit karena masalah virus covid 19 ini menyebabkan pembelajaran terhambat di sekolah, maka bagaimana peran keluarga lah yang sangat diharapkan agar anak-anak tetap bisa belajar meski dirumah. Karena tanggung jawab anak sejati nya ya orang tua nya, guru hanya lah membantu para orang tua yang belum sanggup untuk mengadakan home schooling di rumah rumah mereka. 

Meskipun anak-anak kita serahkan pendidikan nya di lingkup sekolah, tetapi anak mempunyai hak untuk belajar dari orang tua nya, kewajiban ini sebagaimana dari Abdullah bin Umar radhiallahu'anhuma berkata,

أدب ابنك فإنك مسؤول عنه ما ذا أدبته وما ذا علمته وهو مسؤول عن برك وطواعيته لك

“Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.”
(Tuhfah al Maudud hal. 123).

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Hakim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما نحل والد ولده أفضل من أدب حسن

“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” 
(HR. Al Hakim: 7679).

"Namun kenyataannya peran perempuan sebagai ibu yang menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya juga sedang dipertaruhkan menghadapi pengaruh lingkungan yang tidak selalu kondusif bagi pembangunan kepribadian dan mentalitas anak. Perempuan saat ini dengan perannya sebagai ibu sering mengalami dilema dan kegalauan. Kiprah perempuan yang saat ini meluas ke ranah publik dalam aspek ekonomi, politik, sosial maupun pendidikan memiliki tuntutan tersendiri yang harus dipenuhi,  dalam hal ini ibu, ternyata mengalami pergeseran dalam tugasnya. Saat ini perempuan harus bersusah payah ikut mencari uang sampai ke luar negeri bahkan dengan taruhan nyawa. Perempuan lebih berkiprah dalam kariernya daripada mendidik anak. Terpengaruh dengan sudut pandang Barat, dengan jargon kesetaraan gender maka perempuan itu wajib bekerja, karena wanita yang tidak bekerja dikatakan tidak produktif, apalagi kalau hanya sekadar ibu rumah tangga,
kondisi itu dapat berdampak pada pendampingan dan pendidikan generasi yang akan jauh dari optimal, karena merasa cukup dengan menyerahkan pendidikan kepada sekolah formal, yang penting bisa membayar meskipun semahal apa pun.

Jadi permasalahan ibu-ibu yang mengeluh mendampingi anaknya menyelesaikan tugas sekolah adalah memang ketidak siapan seorang ibu menjadi madrosatul ula bagi anak-anak nya, sehingga mereka merasa beban jika harus beralih k profesi dirinya yang sesuai dengan fitrah seorang ibu. Bagaimanapun seorang ibu adalah kunci dari generasi maju, maka para ibu hari ini haru mengupgrade dirinya agar layak menjadi madrasah bagi anak-anak nya, jika ada beberapa kesulitam maka peran ayah juga lah yang akan mensukseskan pendidikan anak-anak di dalam rumah untuk mencari solusi nya.

Semangat para ibu yang sekarang beralih profesi sebagai madrasah bagi anak-anak kita, insyaAllah segala ujian yang datang kepada kita semua di hari ini adalah Allah hendak mengingatkan kita kepada sejatinya peran ibu.