Covid 19, Dunia Butuh Otoritas Kredibel



Oleh: Rini Syafri

Meski sudah sekitar empat bulan berlalu, yakni, akhir Desember 2019 hingga hari ini Jumat 20 Maret, namun belum terlihat tanda-tanda wabah covid 19 (coronavirus disease) akan berakhir. Bahkan dunia juga Indonesia tampak panik karena dari awal memang tidak melakukan langkah antisiptif menghadapi persoalan seperti ini. Kondisi ini tidak saja mengkhawatirkan, namun juga sangat disesalkan. Sebab, dari aspek manapun baik dari upaya preventif maupun kuratif covid 19 sebenarnya bisa dicegah, sehingga tidak mesti meluas pada 179 negara dan jumlah yang sakit serta yang terbunuh dapat ditekan sekecil mungkin. Apa akar masalahnya?

Bila ditelaah secara mendalam dan menyeluruh, semua itu berpangkal dari tidak adanya otoritas kredibel. Yakni, pihak berkuasa yang dapat dipercaya berikut perangkat sistem kehidupan yang ia terapkan untuk memimpin pelaksanaan upaya preventif maupun kuratif yang mendunia. Hal ini tampak jelas sejak dari penanganan pada pusat wabah pertama di Wuhan - China, hingga sekarang setelah pusat wabah berpindah ke Italy.

Misal, sikap peremehan kebenaran ilmu pengetahuan yang lazim pada para pengemban ideologi sekularisme ketika berhadapan dengan manfaat sesaat, membuat rezim komunis Cina pimpinan Xi Jinping berlaku tidak jujur. Hasil riset para ahli tentang karakteristik SARS-CoV- 2 penyebab Covid-19 yang dapat menular di antara sesama manusia, disembunyikan termasuk terhadap pada para dokter dan perawat yang sedang berjuang mengobati ratusan ribu pasien, sebagaimana pengakuan dokter Wuhan yang dimuat pada laman cnnindonesia.com (1)

Padahal, informasi itu begitu penting. Tidak saja untuk penjagaan kesehatan dan nyawa para dokter, namun juga pemutus rantai penularan sehingga wabah tidak meluas ke seluruh penjuru dunia. Sementara, WHO (World Health Organization) yang terlanjur diakui sebagai pemilik otoritas terhadap persoalan kesehatan dunia tidak dapat diandalkan sama sekali. Hal ini tampak dari kelambatan meriset tentang karakteristik virus dan ciri-ciri klinis yang ditimbulkannya, di tengah-ditengah berlimpahnya ketersediaan teknologi dunia dan para ahli untuk itu, padahal itu adalah langkah kunci bagi penentuan konsep pencegahan melalui pemutusan rantai penularan, demikian juga untuk keperluan pengobatan.

===

Ketidaktegasan dan ketidakmandirian WHO juga tampak dari penyikapan fakta apakah kondisi saat ini terkategori pandemi atau tidak, yang di saat bersamaan CDC sudah menyatakan sudah terpenuhi sejumlah kriteria untuk itu, yang akhirnya WHO menyatakan sudah terjadi pandemi pada 11 Maret. Sementara penetapan pandemi bukan sekadar menutut keseriusan penanganan wabah yang dilingkupi atmosfir ketulusan dunia satu sama lan. Namun pandemi lebih pada seni dari pada ilmu yang penuh muatan kepentingan yang berbuntut panjang berupa ketergantungan yang semakin besar pada lembaga rente seperti IMF dan dan bigfarmasi.

Apakah ini bukti WHO bekerja dibawah tekanan AS pada wabah covid 19? Namun, satu hal yang pasti, sudah menjadi rahasia umum, bahwa WHO bekerja lebih untuk industri dan korporasi farmasi besar daripada untuk kesehatan dan keselamatan nyawa umat manusia. Bagaimana dengan Amerika Serikat pengusung ideologi kapitalisme ini? yang selalu bersikap sebagai pihak yang paling patut memimpin dunia dan menyatakan negara yang paling siap menghadapi wabah? Mari simak apa yang dipaparkan oleh Fobes.com., berikut ini. "Di AS, ada lebih dari 3.200 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi dan lebih dari 60 kematian, menurut perkiraan dari Universitas Johns Hopkins. Ketersediaan awal tes diagnostik yang terbatas berarti bahwa jumlahnya kemungkinan jauh lebih tinggi dari itu."

Nah, bisa dibayangkan bagaimana buruknya kondisi di AS hari ini. Sebab, untuk memastikan besarnya masalah saja sudah kesulitan. Jadi. aih-alih menolong negara lain dirinya sendiri tidak terurus. Penanganan yang buruk ini juga bisa disaksikan di negara-negara Eropa seperti Inggris, Jerman, Perancis dan Italy.

===

Bagaimana di Indonesia? Kondisinya tidak jauh berbeda bahkan dalam banyak hal jauh lebih buruk lagi. Baik dari upaya pencegahan seperti belum ada kebijakan lockdown, hingga penanganan penyakit akibat keterbatasan dana, tes diagnostik, demikian juga ruang perawatan yang memenuhi standar perawatan.

Persoalan semakin pelik, ketika penyelesaian wabah yang harus cepat dan menyeluruh dilakukan dalam bingkai sekat-sekat negara bangsa dan otomomi daerah. Sebab, wabah faktanya wabah juga covid tidak mengenal sekat-sekat negara bangsa dan kedaerahan. Bukti yang paling nyata adalah, imported case (orang yang datang ke suatu negara dan sudah terinfeksi) menjadi penyebab meluasnya wabah ke seluruh penjuru dunia hari ini, karena pemerintah Cina hanya melakukan lockdown (penguncian akses masuk dan keluar) untuk negara Cina saja. Bahkan, setiap negara dituntut menyelamatkan warganya yang sedang berada di pusat wabah untuk dibawa ke negaranya masing-masing. Dan ini mendukung mendunianya wabah melalui imported case.

Dengan demikian, jelaslah merupakan kebutuhan yang mendesak akan hadirnya otoritas tulus yang compatble (sesuai) tuntutan ilmu pengetahuan pembasmian wabah, yang bersifat cepat, sistemik, lagi tidak mengenal sekat sekat nasionalisme-kedaerahan. Yaitu, otoritas yang mendunia bersifat penyelamat kehidupan, penyejahtera dan rahmat seluruh alam. Dialah kepemimpinan Islam, Khalifah berikut sistem politik Islam, Khilafah. Allahu A'lam[]

_________________________________________

Daftar Pustaka 

1.https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/situation-reports. 

2.https://m.cnnindonesia.com/internasional/20200312131002-113-482853/pengakuan-dokter-di-wuhan-yang-dibungkam-china-karena-corona

3.https://nasional.kompas.com/read/2020/03/19/05060001/tetap-waspada-pasien-covid-19-meninggal-di-indonesia-persentasenya-tinggi.

4.https://nasional.kompas.com/read/2020/03/19/15531171/update-total-pasien-covid-19-di-indonesia-kini-308-kasus

5. https://time.com/5791661/who-coronavirus-pandemic-declaration/

6.https://www.newscientist.com/article/2235342-covid-19-why-wont-the-who-officially-declare-a-coronavirus-pandemic/

7.https://www.forbes.com/sites/alexknapp/2020/03/15/how-bad-will-the-covid-19-coronavirus-epidemic-get-in-the-us-health-experts-weigh-in/

===
Sumber : Muslimah News ID 
banner zoom