TERMINOLOGI ISLAM DILISAN KAPITALIS

Oleh : Aufklarung (Pemerhati Remaja Makassar) 

Pertumbuhan ekonomi dikuartal I/2019 tidak sesuai dengan ekspektasi pemerintah yang berharap pertumbuhan dapat mendekati 5,2 persen. Nyatannya badan pusat statistik mencatat pertumbuhan ekonomi PDB  kuartal I/2019 adalah 5,07 persen pertumbuhan yang tidak beda jauh dengan kuartal I/2018 yang naik 5,06 persen bahkan lebih rendah daripada pertumbuhan ekonomi kuartal IV/2018 yang tercatat 5,18 persen ( https:// ekonomi bisnis.com).

Sejak awal jokowi menjabat sebagai presiden tahun di tahun 2014, pertumbuhan ekonomi indonesia mentok dikisaran angka 5 persen. Padahal presiden jokowi pernah menjanjikan  ekonomi Indonesia akan meroket hingga 7 persen. Nyatanya jauh panggang dari api.

Pertumbuhan ekonomi dari tahun 2014- 2019 berada dikisaran itu- itu saja bahkan terkadang menurun.

Tahun 2014
Kuartal  I : 5,21 persen
Kuartal II : 5,12 persen
Kuartal III: 5,01 persen
Kuartal IV: 5,01 persen

Tahun 2015
Kuartal  I : 4,71 persen
Kuartal II : 4,67 persen
Kuartal III : 4,73 persen
Kuartal IV : 5,04 persen

Tahun 2016
Kuartal  I: 4,92 persen
Kuartal II : 5,18 persen
Kuartal III : 5,02 persen
Kuartal IV : 4,94 persen

Tahun 2017
Kuartal  I : 5,01 persen
Kuartal II : 5,01 persen
Kuartal III : 5,06 persen
Kuartal IV : 5,19 persen

Tahun 2018
Kuartal  I : 5,06 persen
Kuartal II : 5,27 persen (kompas.com)

Sementara pertumbuhan ekonomi tahun 2019 turun jadi 5, 02 persen ( tempo.co).

Menanggapi kemandegan ekonomi atau lebih tepatnya raport merah dimasa pemerintahannya, saat bertemu dengan detik.com dan CNBC Indonesia di istana bogor, kamis ( 22/8/2019) ia berujar " setiap waktu tantangan berbeda-beda ada tim ekonomi baru dan tetap itu tantangannya berbeda. Saya sangat bersyukur karna negara lain pertumbuhan ekonominya menurun bahkan minus, kalau kita tidak bersyukur ekonomi tumbuh diatas 5 persen namanya kufur nikmat.

Pun dilansir ( https:// www.vivanews.com) rabu 5 februari 2020 " Alhamdulillah ini juga patut kita syukuri bahwa pertumbuhan ekonomi masih diatas 5 persen, 5,02 persen patut kita syukuri, yang lain-lain bukan turun, anjlok kita ini kalau enggan kita syukuri artinya kufur nikmat".

Lalu tepatkah kata kufur nikmat disematkan pada masyarakat yang mengeritisi kinerja pemerintah karna ketidakmampuannya dalam memperbaiki laju perekonomian, atau hanya dalih untuk menutupi kegagalan tentang apa yang dijanjikannya yaitu pertumbuhan ekonomi hingga 7 persen, serta banyaknya kasus yang membelit negara ini mulai dari utang yang menggunung, kasus- kasus korupsi yang tidak pernah terselesaikan bahkan terus saja bertambah, iuran bpjs yang makin meningkat, penarikan pajak hampir disemua sektor, impor yang gila-gilaan serta pembiaran aset-aset negara dan milik umum menjadi milik asing. 

Menurut Imam Al-Ghazali, kufur nikmat adalah menggunakan kenikmatan yang Allah berikan pada jalan-jalan yang tidak diridhai Allah dan enggan mengucapkan Alhamdulillah. 

Dalam surah Ibrahim (28- 30) Allah SWT berfirman:

" tidakkah kau perhatikan akan orang-orang yang mengganti nikmat Allah SWT dengan kekufuran, mereka menghalalkan kaumnya ( apa saja) yang ada didunia. mereka akan dilemparkan kedalamnya maka itulah seburuk-buruk tempat tinggal yaitu orang-orang yang menjadikan bagi Allah SWT tandingan-tandingan agar mereka bisa menghalangi manusia dari jalan Allah SWT. Katakanlah bersenang-senanglah kalian, karna sesungguhnya tempat kembali kalian adalah neraka."

Mengganti aturan hidup yang telah Allah tetapkan dengan aturan lain yang datangnya dari manusia, aturan lemah penyebab munculnya berbagai permasalahan sosial dan ekonomi, bukankah merupakan kufur nikmat itu sendiri?

Mengkriminalisasi ajaran Islam. Menghina simbol-simbolnya. Mempersekusi ulama-ulama hanif dan lurus. Memecat para Intelektual baik mahasiswa maupun dosenya dari kampus dan jabatanya hanya karna mendakwahkan Islam bukankah itu termasuk menghalangi manusia dari jalan Allah dan bukankah perbuatan tersebut adalah kufur nikmat? Lalu siapa sebenarnya yang kufur nikmat disini.
Bahkan ketua umum dewan nasional pergerakan Indonesia maju (DN-PIM) bapak Din Syamsuddin mengatakan yang mestinya tidak kufur nikmat adalah pemerintah. Sebab Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah yang seharusnya bisa dimaksimalkan untuk mensejahterakan rakyat.

Jika mencermati pernyataan bapak Din Syamsuddin dengan kata lain Negaralah yang tidak mampu mengelolah sumber daya alam dengan baik.

Pun menurut Direktur Eksekutif Riset Core Indonesia Piter Abdullah persoalannya bukan masalah kufur nikmat atau tidak melainkan ancaman yang bisa timbul jika ekonomi tumbuhnya stagnan. Dia menjelaskan dengan pertumbuhan ekonomi 5 persen artinya lapangan kerja yang tercipta tidak cukup untuk menyerap angkatan kerja yang bertambah 3 juta jiwa setiap tahunya " kalau kita hanya tumbuh sekitar 5 persen maka kita hanya bisa menyerap tenaga kerja kisaran 1.250.000 jiwa setiap tahun dengan asumsi setiap pertumbuhan ekonomi 1 persen yang bisa menciptakan lapangan kerja sekitar 250.000 jelasnya. Artinya jika pertumbuhan ekonomi dibiarkan 5 persen akan ada sekitar 1.750.000 pengangguran baru disetiap tahunnya. (detik.com)

Jadi kemandegan ekonomi dikisaran 5 persen bukanlah masalah syukur atau tidak syukur juga bukan masalah kufur nikmat. Tapi masalah utamanya adalah ketidak mampuan negara mengelolah sumber daya alam yang ada dan ketidak mampuan tersebut erat kaitannya dengan sistem ekonomi yang diterapkan dinegara ini, yaitu sistem ekonomi kapitalis.

Sistem ekonomi kapitalis adalah sistem ekonomi dimana perdangangan, industri, dan alat-alat produksi dikuasai oleh pemilik modal atau swasta dengan tujuan memperoleh keuntungan dalam ekonomi pasar. Pemilik modal dalam melakukan usahanya berusaha untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya dengan modal seminim mungkin.

Dengan sistem ekonomi batil yang dipakai mengelolah hajat hidup orang banyak tidak perlu heran jika masalah ekonomi terseok-seok bahkan jalan ditempat. Seandainya saja pemerintah mau mengganti kebijakannya dan beralih pada sistem ekonomi Islam Indonesia tidak perlu mengalami perekonomian yang lesu.

Islam satu-satunya solusi untuk setiap permasalahan hidup apapun itu termasuk ekonomi. Sebab sistem ekonomi Islam semua hukumnya bersumber dari syariah Islam yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Ada perbedaan yang sangat mendasar dalam sistem ekonomi Islam dan sistem ekonomi kapitalis. 

Dalam sistem ekonomi Islam dilarang adanya penerapan dan transaksi spekulasi, agar distribusi barang dan jasa merata disemua konsumen. Dan Islam mewajibkan sirkulasi kekayaan terjadi pada semua anggota masyarakat dan mencegah terjadinya sirkulasi kekayaan hanya pada segelintir orang. Allah SWT berfirman: ..supaya harta itu jangan hanya beredar diantara oran-orang kaya saja diantara kalian ( Qs al-Hasyr 59: 7)

Islam juga melarang transaksi secara gharar agar penentuan harga antara konsumen dan produsen terjadi secara transparan.

Rasulullah SAW melarang jual beli al-hashah dan jual beli al-gharar (HR Muslim)

Sebab sistem jual beli gharar rentan ditemukan unsur memakan atau mengambil harta orang lain dengan bathil.

Allah berfirman: 
" dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebahagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang bathil dan ( janganlah) kamu membawa( urusan )harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain dengan jalan berbuat dosa padahal kamu mengetahuinya ( al- baqarah: 188)

Islam juga melarang transaksi yang mengandung riba karna dalam islam tidak dikenal yang namanya bunga. Riba memberikan dampak negatif pada kegiatan ekonomi dan sosial. Allah SWT berfirman :

" Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa."
( al baqarah : 276)

Dalam ekonomi Islam juga tidak dikenal dengan adanya kelangkaan barang, karna Islam mengutamakan kepentingan rakyat tanpa adanya praktek penimbunan barang.

Berbeda dengan sistem ekonomi kapitalis yang dasarnya memang adalah materialisme dan sekularisme. Jadi semua yang terlarang dalam Islam adalah sah bagi sistem tersebut.

Sementara sistem ekonomi Islam berlandaskan Al-quran dan As-sunnah.

Sistem ekonomi kapitalis hanya menguntungkan pihak tertentu sementara ekonomi Islam menguntungkan semua pihak. Sistem ekonomi Islam tidak hanya berlaku untuk ummat Islam saja tapi semua ummat manusia.

Dalam sistem ekonomi Islam jika negara melihat adanya ancaman terhadap keseimbangan ekonomi didalam masyarakat, negara harus menyelesaikan ancaman tersebut. Caranya dengan menyuplai orang yang tidak sanggup memenuhi kebutuhanya. Dan dananya diambil dari baitul mal.

Lalu dalam sistem ekonomi kapitalis adakah itu diberlakukan? Tidak!! Dalam sistem ekonomi kapitalis justru jurang kesenjangan ditengah masyarakat makin menganga. Yang kaya semakin kaya yang miskin semakin menderita.

Jadi jelas bahwa sistem ekonomi kapitalislah yang menyebabkan lambatnya perekonomian bahkan mungkin akan hancur suatu saat nanti jika tidak segera beralih.

Jangan lagi menjadikan rakyat sasaran kegagalan kalian terlebih berhentilah membajak terminologi Islam untuk kepentingan kalian dan tuan-tuan kalian para kapitalis.
banner zoom