Mengatasi Pandemi

Oleh: Prof. Dr. Fahmi Amhar
(Anggota Ikatan Alumni Program Habibie)

Pada peringatan HUT-70 berdirinya, 1 Oktober 2019, Republik Rakyat Cina menggelar parade militer besar-besaran di lapangan Tianmen, Beijing. Sekitar 15.000 tentara berbagai kesatuan berbaris rapi. Diikuti oleh alutsista utama, termasuk rudal-rudal hypersonic Dong Feng DF-41 yang mampu menjangkau sasaran sejauh 12.000-15.000 Km dan membawa 10 hulu ledak nuklir.
 
Cina kini sudah menjadi kekuatan global berkat jumlah penduduknya, volume ekonominya dan militernya. Di kesempatan itu, Presiden Xi Jinping dengan jumawa mengucapkan “Kini, tidak ada lagi kekuatan yang bisa menghentikan Cina” (Koran Sindo, 2 Oktober 2019).

Namun Januari 2020 Allah menegur Cina dengan mahluknya yang kecil, yaitu virus Corona. Tiga belas kota besar Cina dengan total 41 juta penduduk diisolir. Virus mematikan yang belum ditemukan obat maupun vaksin penangkalnya itu telah menginfeksi ribuan orang, dan hingga 25 Januari 2020 telah 41 tewas. Jumlah korban ini meningkat cepat sehingga orang khawatir virus ini menjadi pandemi.

Suatu pandemi atau wabah global merupakan terjangkitnya penyakit menular pada banyak orang dalam daerah geografi yang luas. Menurut WHO, suatu pandemi dikatakan terjadi bila ketiga syarat berikut telah terpenuhi:
• Timbulnya penyakit bersangkutan merupakan suatu hal baru pada populasi bersangkutan,
• Agen penyebab penyakit menginfeksi manusia dan menyebabkan sakit serius,
• Agen penyebab penyakit menyebar dengan mudah dan berkelanjutan pada manusia.

Dalam sejarah manusia, telah terjadi banyak pandemi yang signifikan. Penyakit tersebut biasanya ditularkan hewan (zoonosis) yang terjadi bersamaan dengan domestikasi hewan. Beberapa contoh pandemi yang pernah tercatat dalam sejarah: Pes (tha’un), Kolera, TBC, Cacar (Variolla), Polio dan Influensa, termasuk varian Flu Burung (H5N1) dan Ebola. Penyakit pes paling sering merenggut nyawa puluhan juta orang sejak zaman Yunani kuno hingga abad-19 di Eropa.

===

Di masa Khilafah Islam, Negara mengerahkan segenap daya upaya untuk mengatasi pandemi.

Semula, para ahli menduga pandemi cukup diatasi dengan kebersihan dan gaya hidup sehat. Namun ternyata, banyak orang yang sudah melakukan itu tetap saja tertular penyakit. Karena itu kemudian dicari cara untuk mencegah kuman atau virus menulari kita.

Di zaman Nabi, suatu wilayah yang terkena wabah penyakit menular hanya bisa diisolasi. Penghuninya tidak boleh keluar, dan orang dari luar tidak boleh masuk. Sampai berapa lama? Tidak ada batasan yang jelas. Tentunya sampai wabah itu reda atau hilang. Di masa lalu, wabah tha'un bisa merenggut jutaan jiwa. Sebagian karena penyakitnya langsung. Sebagian lainnya karena kelaparan, akibat berkurangnya pasokan makanan setelah wilayah itu diisolasi.

Sangat menarik untuk mengetahui, bahwa umat Islam terdahulu mengembangkan ikhtiar baru mengatasi pandemi, yakni vaksinasi. Cikal bakal vaksinasi itu dari dokter-dokter muslim zaman Khilafah Turki Utsmani, bahkan mungkin sudah dirintis sejak zaman Abbasiyah. 

Vaksinasi adalah proses memasukkan kuman yang telah dilemahkan ke dalam tubuh untuk mengaktifkan sistem kekebalan spesifik yang sebenarnya sudah ada didalam tubuh tapi belum aktif. Kekebalan itu tidak muncul sendiri meski saat baru lahir bayi ditahnik dan selama dua tahun mendapatkan ASI.
 
Tanpa vaksinasi, kekebalan itu baru muncul setelah orang terserang penyakit, bila dia selamat. Namun yang sering terjadi, sebelum kekebalan itu muncul, pasien sudah terlanjur meninggal atau cacat. Jadi vaksinasi ini cara merangsang kekebalan dengan risiko minimal. Tentu saja yang dirangsang hanya kekebalan untuk penyakit tertentu, yang dianggap sedang amat berbahaya karena fatal dan sangat menular, seperti cacar, polio, difteri atau meningitis. Penyakit meningitis tidak ada di Indonesia, tetapi ada di Saudi Arabia, sehingga para jama’ah haji atau umrah diwajibkan oleh pemerintah Saudi untuk vaksinasi meningitis.

Lady Mary Wortley Montagu (1689-1762), istri dari duta besar Inggris untuk Turki saat itu, membawa ilmu vaksinasi ke Inggris untuk memerangi cacar. Namun Inggris perlu menunggu setengah abad, sampai tahun 1796 Edward Jenner mencoba teknik itu dan berhasil. Cacar yang pernah membunuh puluhan juta manusia hingga awal abad-20, akhirnya benar-benar berhasil dimusnahkan di seluruh dunia dengan vaksinasi yang massif. Kasus cacar ganas terakhir tercatat 1978. 

Cina adalah negara dengan teknologi dan standar kesehatan yang sudah tinggi. Namun ada sebagian kebiasaan rakyat Cina yang belum sehat, seperti toilet yang jorok dan makan hewan liar. Seperti diberitakan, ada dugaan virus Corona berasal dari kelelawar, yang di kota Wuhan biasa disantap.
 
Namun ada pula dugaan virus itu senjata biologi yang bocor. Seperti negara-negara adidaya lainnya, selain nuklir, China juga mengembangkan senjata kimia, biologi dan antariksa.

Sebagian muslim menganggap wabah virus Corona ini adalah teguran atas kesombongan Cina, atau balasan atas kebijakan mereka memenjarakan jutaan muslim Uyghurs di Turkistan Timur (Xinjiang). Kini belasan kota-kota Cina dengan puluhan juta penduduknya laksana penjara. Penduduknya tidak boleh keluar, karena dikhawatirkan menyebarkan virus. Padahal tetap di dalam kota terancam kematian.

Sebagai muslim, kita semestinya waspada dan optimis sekaligus. Waspada, bahwa virus Corona ini bisa juga menyebar ke negeri-negeri muslim yang lambat mengantisipasi. Namun juga optimis, bahwa untuk setiap penyakit, Allah pasti juga menurunkan obatnya.

Kalau Khilafah tegak berjaya, ia akan mengintensifkan upaya menemukan vaksin Corona, lalu menawari Cina bantuan mengatasi pandemi Corona, baru kemudian memaksa Cina mengubah politiknya terutama atas muslim Uyghurs, sekaligus agar Cina membuka pintu untuk dakwah Islam yang seluas-luasnya.

—————————————
Sumber : Muslimah News ID 
banner zoom