Menanamkan Adab Berbicara Kepada Anak

Oleh : Noor Afeefa

Diantara perkara yang cukup merepotkan orangtua dari perilaku anak-anaknya adalah kebiasaan buruk dalam berbicara. Padahal berbicara adalah aktivitas yang paling banyak dilakukan manusia. Berbicara pula yang pertama-tama dilakukan bayi saat baru lahir, melalui tangisannya. Betapa bahagia sang Ibu tatkala mendengar kata pertama yang diucapkan buah hatinya. Selanjutnya, seiring perjalanan waktu, sang anak pun mulai tumbuh, berkembang dan menyerap berbagai informasi yang diterimanya. Saat itulah sang anak mulai banyak mengatakan segala sesuatu yang pernah ia dengar. Sayang tak jarang kebahagiaan ibu harus tergantikan oleh rasa prihatin terutama saat sang buah hati mulai berbicara tanpa adab, sopan santun, bahkan bertentangan dengan syariah.

Rasa prihatin kian mendalam bila ternyata meski anak sudah mulai menginjak usia baligh, adab berbicara justru semakin ditinggalkan. Tak jarang ditemui mereka berani membantah nasihat orang tua atau guru,  makin pintar berbohong,  tak merasa berdoa saat mencaci atau mengolok-olok temannya dan berani mengungkapkan aib temannya Bahkan mereka tak ragu mengucapkan kata-kata kotor, kasar sumpah serapah atau menisbatkan pada sesuatu yang tak layak bagi manusia 

Mengapa mereka bisa tumbuh menjadi seperti itu? inilah sebagian permasalahan yang dialami orang tua. Kelihatannya sepele, namun sebenarnya sangat berat karena persoalan lisan (perkataan) bisa berimplikasi surga atau neraka. Karena itu, orangtua seharusnya memiliki kepekaan mendalam dan ilmu yang mumpuni dalam mengarahkan buah hatinya agar amanah yang Allah berikan itu bisa menjadi penuntun orang tuanya menuju surga bukan malah menghalanginya dari tempat termulia itu 

Bagian dari akhlak Islam 

Betapa Agung Islam yang mengatur aspek akhlak. Sebagai bagian yang tak bisa dilepaskan dari bangunan Islam,  pengaturan akhlak dalam Islam memiliki nilai untuk memberikan keunggulan atau keluhuran bagi yang melaksanakannya. Syariah Islam telah memerintahkan kaum muslimin untuk menghiasi setiap perilakunya dengan akhlak mulia, baik dalam beribadah, bermuamalah dengan orang lain maupun dalam perilaku yang sifatnya pribadi sekalipun. Sebaliknya Syariah telah melarang kaum muslimin dari akhlak tercela. Abdullah bin Amr radhiyallahu Anhu berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda “sesungguhnya orang yang terbaik diantara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya (Muttafaq Alaihi)

Diantara ahlak Islam yang diperintahkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah adab. Bahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah ditanya tentang perkara yang paling banyak menjadi penyebab masuknya manusia ke neraka, lalu Beliau bersabda “perkara itu adalah mulut dan kemaluan” (hadits riwayat Tirmidzi Ibnu Hibban Al Bukhari Ahmad dan Al Hakim) 
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah orang yang paling baik . Dalam berbicara beliau memang selalu dibimbing wahyu. Namun, sebagai suri tauladan sebagai suri teladan bagi seluruh manusia, perilaku beliau adalah contoh nyata bagi setiap muslim 

Cara Menanamkan Adab Bicara Pada Anak 

Menanamkan adab berbicara harus dimulai sedini mungkin, karena berkait dengan kebiasaan. Sebaliknya membiarkan kebiasaan buruk itu pada anak-anak akan menjadi sebuh karakter yang sulit diubah. Berikut tips umum untuk menanamkan adab bicara pada anak :

Pertama:  Tanamkan akidah yang kuat aqidah yang kuat. Aqidah yang kokoh akan  menanamkan keyakinan bahwa sebagai hamba Allah kita wajib mengikuti semua aturanNya. Salah satu aturan tersebut adalah akhlak dalam berbicara (menjaga lisan). Melalui pendekatan ini, akan tertanam sikap keikhlasan melaksanakan akhlak tersebut semata-mata karena Allah SWT. Sedini mungkin anak harus mulai belajar melaksanakan kebaikan dalam berbicara, bukan untuk mengharapkan imbalan materi, atau pujian orang lain. Sikap ini juga akan memberi imunitas yang tinggi manakala ia terancam oleh lingkungan yang kurang baik
Kedua : Ajarkan keteladanan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam berbicara.  Beberapa contoh keteladanan Rasul diantaranya: selalu menyatakan kebenaran, tidak , jujur dalam , berbicara dengan lemah lembut, apalagi kepada orang tua, tidak banyak , dsb. Semuanya menunjukkan betapa berharganya nilai berbicara itu 

Ketiga : Jangan  bosan memberi keteladanan. Anak akan meniru kebiasaan berbicara lingkungannya. Oleh karena itu, sebaiknya orang tua dan seluruh penghuni rumah menjaga . keteladanan juga akan memberikan lingkungan yang baik bagi anak sehingga anak akan lebih mudah menemukan pola kebiasaan berbicara yang baik 

Keempat : Biasakanlah mengucapkan kalimat thayyibah. Dengan kebiasaan ini,  anak tidak punya kesempatan untuk mengatakan kata-kata kotor dan sia sia. Diantara kalimat toyyibah yang biasa diajarkan, misalnya kalimat bismillah untuk memulai setiap perbuatan baik. Astagfirullah bila anak melakukan kesalahan. Subhanallah bila melihat pemandangan yang bagus, Masya Allah bila mendapatkan sesuatu yang menakjubkan, Innalillahi jika mendapatkan musibah dan sebagainya. Membiasakan hal ini kepada anak sekaligus juga untuk menghindari kebiasaan latah yang sia-sia.  Tanamkan pula bahwa mengatakan kalimat thoyyibah jauh lebih baik dan berpahala dibandingkan kata-kata sumpah serapah seperti gila!, busyet!, monyet, dasar bodoh dan sebagainya. Selain kalimat toyyibah, biasakanlah sejak kecil anak mengungkapkan kata-kata sopan dalam berinteraksi; misalnya Terima kasih atau jazakallah, maaf, tolong, permisi dan sejenisnya 

Kelima : Jauhkan anak dari lingkungan yang tidak baik. Tidak diterapkannya sistem Islam memang memaksa keluarga muslim untuk ekstra hati-hati menjaga buah hatinya. Meski di rumah sudah terbentuk kebiasaan berbicara yang baik, di luar rumah belum tentu. Padahal anak-anak secara alami juga membutuhkan ‘dunia luar’ untuk belajar dan sosialisasi. Oleh karena itu, orangtua khususnya,  harus bisa mengarahkan dengan siapa sebaiknya anak kita bermain. Jauhkan anak dari berteman dekat dengan anak-anak yang punya kebiasaan berbicara yang buruk. Berikanlah penjelasan yang bijak kepada anak sehingga anak tidak protes mengapa harus memilih milih teman. 
Orang tua juga harus selektif memilihkan program tayangan media. Jangan biarkan anak-anak menonton film orang dewasa apalagi beradegan kekerasan dan sering melontarkan kata-kata kasar.  Sebaliknya, berikan tontonan edukatif yang merangsang anak-anak berbicara yang baik. Jika terpaksa si anak kedapatan mendengar kata-kata kotor dari media, maka tugas orang tua adalah menjelaskan hakikat kata-kata kotor tersebut dan mengajaknya untuk menjauhinya. 

Keenam : Bijak dalam memberi peringatan atau nasihat.Bila anak mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan syariah, maka orang tua berkewajiban menasehatinya. Selayaknya orang tua bersikap bijak dengan menghindari olok olok saat menassehati. Selain kata-kata itu bisa menjadi doa bagi anak-anak, sebenarnya pada saat itu orangtua tengah mengajar jenis perkataan buruk kepada anaknya. Nasehat yang benar seharusnya juga disertai dengan penjelasan dalil syariah, terutama bagi anak yang sudah mulai besar. Ini penting untuk memunculkan sikap bersalah karena sudah melanggar ketentuan Allah dan rasulNya. Diharapkan anak-anak tidak mengulanginya dilain waktu. 

Ketujuh : Menciptakan lingkungan sekitar rumah yang selalu menjaga lisan. Diantaranya adalah dengan  tidak membiarkan anak tetangga yang mempunyai kebiasaan berkata buruk sehingga mereka meninggalkan kebiasaannya. Kesalahan yang sering terjadi di masyarakat saat ini adalah menyerahkan pendidikan akhlak anak tetangga kepada ibunya sendiri. Padahal jika keburukan nyata-nyata di depan mata, maka amar ma'ruf nahi mungkar kepada anak tetangga tentu menjadi kewajiban kita. Hanya saja,  harus dicari metode yang baik agar tidak menyulut konflik antartetangga. Inilah yang dimaksud kontrol sosial yang harus ada untuk menjaga pelaksanaan syariah Islam 

Penutup 

Sesungguhnya anak dapat memiliki adab bicara  sesuai syariah bila mendapat bimbingan yang mumpuni dari orang tuanya. Meski tidak mudah, semua itu dapat terwujud dengan kesungguhan dan tanggung jawab yang besar dari orang tua 
Selain itu, sebagaimana kita ketahui, buruknya kebiasaan berbicara pada anak tidak lepas dari kesalahan pola asuh orang tua, lingkungan yang tidak Islami, juga sistem pendidikan yang kurang menekankan pelaksanaan syariah secara kaffah, termasuk dalam perkara akhlak. Oleh karena itu, upaya penanaman adab berbicara kepada anak juga harus dibarengi dengan upaya memperjuangkan syariah dan Khilafah. Dengan demikian, upaya orang tua mengemban amanah pendidikan anaknya akan selangkah lebih mudah. Wallahu A'lam Bishawab[]

Sumber :
Majalah Al Wa'ie

banner zoom