Jangan Meniru Budaya Kufur

Oleh: M. Taufik NT

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar r.a bahwa Nabi ShallalLaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Dalam kitab Bughyatul Mustarsyidîn dijelaskan bahwa meniru dan menyerupai kaum kafir bisa menjatuhkan pelakunya kedalam kekafiran jika dilakukan dalam rangka turut menyemarakkan kekafirannya. Adapun jika sekedar meniru, tanpa disertai untuk turut menyemarakkan kekafiran mereka, maka tidaklah menjadikan pelakunya sebagai kafir, namun mereka berdosa, sementara jika tidak sengaja meniru, namun kebetulan sama dengan mereka, maka tidaklah berdosa.[1]

Tasyabbuh (menyerupai) orang kafir yang dibolehkan hanyalah dalam hal dan perbuatan yang tidak ada kaitannya dengan pemahaman hidup mereka, dan perbuatan tersebut memang dibolehkan dalam Islam. Meniru dalam hal teknik komputer, akuntansi, pengarsipan, teknik pertanian, kelautan dan berbagai macam perkembangan teknologi tidaklah tercela, bahkan seharusnya kaum muslimin mengambil hal tersebut tanpa memandang apa latar belakang agamanya.

Adapun dalam perayaan-perayaan yang terkait dengan pemahaman agama dan keyakinan mereka, maka haram bagi kaum muslimin menyerupai mereka.

Khalifah Umar Ibnul Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berucap :

إِيَّاكُمْ وَرِطَانَةَ الأَعاَجِمِ، وَأَنْ تَدْخُلُوْا عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ يَوْمَ عِيْدِهِمْ فِيْ كَنَائِسِهِمْ، فَإِنَّ السُّخْطَةَ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِم

“Tinggalkanlah bahasa kaum ajam (non-Arab). Janganlah kalian memasuki (perkumpulan) kaum Musyrik dalam hari raya mereka di gereja-gereja mereka. Karena murka Allah akan diturunkan kepada mereka.” (HR. Al-Baihaqi)

Imam As-Suyuthi (w. 911H), seorang Ulama Madzhab Syafi’i, penulis Tafsir Jalalain, berkata :

واعلم أنه لم يكن على عهد السلف السابقين من المسلمين من يشاركهم في شيء من ذلك.

”Dan ketahuilah bahwa tidak pernah ada seorang pun pada masa generasi salaf terdahulu dari kaum muslimin yang ikut serta dalam hal apa pun dari perayaan mereka”(Haqiqat As-Sunnah wal-Bid’ah, hal. 125)

Oleh sebab itu, kaum muslimin tidak perlu ikut-ikutan meniru adat dan perayaan non muslim, baik itu natal maupun tahun baru, terlebih lagi jika dibarengi dengan hal-hal maksiyat atau tidak berguna. Hanya saja tidak boleh mengganggu mereka, cukup menjauh saja, sebagaimana perkataan Umar Ibnu Khattab r.a:

إِجْتَنِبُوْا أَعْدَاءَ اللهِ فِيْ عِيْدِهِمْ

Jauhilah dirimu dari musuh-musuh Allah pada hari raya mereka (Sunan Al Baihaqi al Kubra, 9/392).

===

[1] (مسألة: ي): حاصل ما ذكره العلماء في التزيي بزي الكفار أنه إما أن يتزيا بزيهم ميلاً إلى دينهم وقاصداً التشبه بهم في شعائر الكفر، أو يمشي معهم إلى متعبداتهم فيكفر بذلك فيهما، وإما أن لا يقصد كذلكبل يقصد التشبه بهم في شعائر العيد أو التوصل إلى معاملة جائزة معهم فيأثم، وإما أن يتفق له من غير قصد فيكره كشد الرداء في الصلاة.

===
Sumber:
https://mtaufiknt.wordpress.com/2018/12/24/jangan-meniru-budaya-kufur/


banner zoom