-->

POSISI MENGHAFAL DALAM PROSES BERPIKIR ANAK

Oleh : Ustazah Yanti Tanjung

Baru-baru ini Menteri Pendidikan kita membuat statement bahwa dunia tidak membutuhkan anak jago menghafal . Mantan CEO Gojek ini juga mengkritisi konsep belajar menghafal yang dinilai kurang memberi solusi pada anak, terutama kebutuhan expresi berkreasi dan berInovasi.
.
“Mohon maaf, dunia tidak membutuhkan anak-anak yang jago menghafal," jelas Nadiem saat rapat bersama Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan pada Kamis, 12 Desember 2019.
.
Awal perkara kehidupan anak sejatinya adalah proses menghafal, menghafal adalah cara anak dalam menyerap informasi baik melalui pendengaran, membaca dan pengalaman hidup. Tanpa menghafal akan sulit melakukan proses berpikir, karena untuk menyerap memori di otak harus proses menghafal apapun itu. Menghafal nama-nama benda,nama uminya, nama abinya, seluruh nama keluarganya, nama aktifitasnya semisal makan, minum, pipis,duduk,lari dsb. Hampir tidak ada nama apapun tanpa menghafal bahkan.
.
Terlebih jauh lagi dalam pembelajaran anak ketika membangun aqidah misalkan,anak harus menghafal nama Rabbnya, nama nabinya,nama para malaikat dsb. Sungguh sangat berbahaya jika anak tidak bisa menghafalkan nama Allah dan nama nabi Muhammad ﷺ Kalau kita bicara lebih luas lagi dalam perkara menghafalkan seluruh bacaan shalat, ayat-ayat Alquran yang dibaca saat shalat, gerakan shalat,urutan shalat harus dihafalkan dan seluruh doa-doa yang diucapkanpun harus dihafal. Jadi dunia pendidikan Islam sangat membutuhkan jago menghafal karena Allah.
.
Menghafal adalah pintu informasi,sedangkan informasi merupakan syarat mendasar dalam proses berpikir, jika informasi itu tidak dihafalkan maka akal anak tidak akan aktif. Karena berpikir adalah memindahkan fakta ke otak melalui panca indera disertai dengan informasi terdahulu. Informasi terdahulu merupakan hafalan anak yang diapaki nanti untuk menilai fakta, menilai amal dan menilai peristiwa Informasi itu harus terjalin dengan fakta,barulah terjadi proses berpikir. Informasi merupakan komponen berpikir,tanpa informasi tidak terjadi proses berpikir.
.
Memang betul jika hanya menghafal saja tanpa disertai komponen berpikir lainnya anak tidak akan sampai pada derjat mufakkiir (pemikir) tapi dia hanya menyimpan informasi otak sampai anak bisa mengaitkan informasi itu dengan fakta. Untuk sampai derjat paham anak harus mengikatkan informasi yang dia hafal dengan fakta yang dia indera barulah aktif berpikir anak. Misalkan anak hafal Alquran 30 juz kalau hanya sekedardihafal, ia tidak menggunakan hafalannya tadi untuk menilai fakta maka dia hanya anak penghafal bukan pemikir. Maka disinilah peran ayah bunda guru untuk melatih anak untuk mengikat hafalannya dengan fakta agar hafalanitu berguna bagi kehidupannya. 
Wallaahu a’lam bishshowab
_________________
Sumber : Wadah Aspirasi Muslimah