Natuna: Absurdnya Nasionalisme Di antara Dua Kepentingan Global

Bukan hanya di natuna saja kedaulatan negara ini dipertanyakan, diamnya rezim ini terhadap perampokan SDA, intervensi asing dan aseng dalam pengambilan kebijakan, tidak mandirinya rezim neolib saat ini dalam merencanakan anggaran pembangunan, adalah sisi lain yang menggambarkan tergadainya negeri.
________________________________________
Oleh: Juanmartin

Tensi politik di sekitar Laut Cina Selatan kembali memanas, terutama setelah kapal Cina memasuki Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia. Hal tersebut membuktikan bahwa konflik kepentingan negara-negara di sekitar LCS memang seutuhnya tak pernah padam. Meski motif Cina memasuki wilayah Indonesia tak memiliki dasar hukum sama sekali,namun diluar dugaan, respon Prabowo sebagai menteri Pertahanan dan keamanan juga Luhut B. Pandjaitan kontras dengan persiapan perang yang ditunjukkan Tentara Nasional Indonesia. 

Gemas melihat respon pejabat pemerintahan, sejumlah tokoh pun angkat bicara. Mereka menuding bahwa diamnya Indonesia disebabkan karena besarnya utang yang diberikan Cina. Disamping hitung-hitungan kekuatan militer berikut perangkatnya, Indonesia jelas sangat jauh di bawah Cina. Dari sisi manapun, Indonesia ibarat macan ompong yang melawan Singa, si Raja hutan.

Manuver Cina di wilayah Laut Cina Selatan bukan satu fakta tunggal yang hanya dilihat memiliki gesekan dengan Indonesia. Sebab LCS adalah zona perebutan pengaruh kepentingan global antara AS dan Cina. Saat merespon tindakan Cina yang memasuki ZEE dengan mengatakan bahwa Cina melanggar hukum internasional, Indonesia sebenarnya tengah mencari upaya perlindungan ke pihak AS. Mengapa? Sebab dalih hukum internasional sejak awal adalah klaim Amerika untuk ikut campur dalam permasalahan LCS.

Sebagaimana diketahui, secara geografis AS tidak memiliki satupun hak di wilayah yang disengketakan di Laut Cina Selatan. Negara-negara yang kerap bersengketa langsung dalam kasus ini adalah Cina, Vietnam, Filipina, Thailand, Brunei Darussalam, dan Malaysia. Namun arogansi Amerika sebagai polisi dunia begitu nampak saat melemparkan berbagai dalih yang kemudian dijadikan justifikasi untuk mengintervensi apapun yang terjadi di LCS.  

Beberapa tahun terakhir AS sudah memperlihatkan kehendaknya untuk turut campur dengan dalih fundamentalnya untuk menegakkan hukum internasional, menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan.

===

LCS memang wajar untuk diperebutkan. Menurut US Energy Information Agency (EIA) peranan Laut Cina Selatan sangat penting sebagai jalur distribusi minyak dunia. Hampir sepertiga dari minyak mentah dunia dan lebih dari setengah gas alam cair global (LNG) melewati Laut Cina Selatan setiap tahun. 

Laut Cina Selatan juga merupakan salah satu jalur perdagangan bagi negara anggota ASEAN dan negara Asia Timur lainnya seperti Cina. Tidak hanya sebagai jalur perdagangan penting dunia, Laut Cina Selatan juga kaya sumber daya alam. Vietnam, Malaysia dan Brunei memiliki sejarah panjang perkembangan di Laut Cina Selatan. Negara-negara tersebut telah berinvestasi dalam teknologi lepas pantai, jaringan pipa dan pengeboran minyak. Akibatnya negara-negara tersebut memiliki cadangan minyak dan gas tertinggi.

Laut Cina Selatan adalah bagian dari Samudera Pasifik yang membentang dari Selat Karimata dan Selat Malaka, hingga Selat Taiwan. Dengan luas mencapai 3,5 juta kilometer persegi, perairan ini menjadi jalur utama bagi sepertiga pelayaran dunia. 

AS dan juga Cina sangat memahami betul bahwa penguasaan terhadap jalur perdagangan dunia adalah modal untuk menguasai dan mengendalikan ekonomi dunia. 

===

Sebelumnya, hubungan perang dagang keduanya telah mengalami pasang surut. Manuver Cina di LCS pun tak bisa dilepaskan dari sikap AS beberapa waktu lalu yang mencoba menggalang dukungan negara dunia untuk mengucilkan Cina dari pergaulan internasional atas tindakan biadabnya terhadap muslim Uighur. 

Di antara dua kepentingan kapitalisme barat dan timur, ada Natuna yang dijaga Indonesia dengan modal setengah hati. Nasionalisme yang didengung-dengungkan untuk menjaga kedaulatan wilayah, pada akhirnya terlacurkan dalam deal-deal politik dan jebakan utang berkedok investasi. 

Dari peristiwa Natuna kita dapat melihat, absurdnya menjaga wilayah dengan ruh nasionalisme. Sebab di alam sekuler kapitalisme, semua akan dikonversi dalam hitungan materi. Materi jualah yang menjerat negara ini hingga kedaulatan wilayahnya sedikit demi sedikit tergadaikan. 

Bukan hanya di Natuna saja kedaulatan negara ini dipertanyakan, diamnya rezim ini terhadap perampokan SDA, intervensi asing dan aseng dalam pengambilan kebijakan, tidak mandirinya rezim neolib saat ini dalam merencanakan anggaran pembangunan, adalah sisi lain yang menggambarkan tergadainya negeri. Lucunya, mereka masih mengaku paling pancasilais, paling nasionalis, meski disaat yang sama menyerahkan negeri ini untuk dicaplok asing dan aseng.

 ===

Menjaga Wilayah Dengan Ruh Islam

Islam sebagai ideologi sempurna, memiliki pandangan yang khas dalam menjaga wilayah perbatasan (tanah ribath) Khilafah. Syekh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Syaksiyyah Islamiyah jilid II menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ribâth sendiri adalah tinggal berjaga-jaga di tapal batas untuk menguatkan agama dan melindungi kaum Muslim dari kejahatan orang-orang kafir. Dengan demikian, tinggal di tempat mana pun yang diduga dapat terjadi serangan musuh, dengan tujuan mencegah (bahayanya), dianggap sebagai aktivitas ribâth. Keutamaan ribâth sangat agung dan pahalanya sangat besar. 

Karena, ribâth adalah perlindungan terhadap kaum Muslim dan kehormatan mereka, serta kekuatan bagi penduduk tapal batas dan para pejuang. Dan ribâth adalah pokok jihad sekaligus cabangnya. 

Terdapat beberapa nash yang menyebutkan keutamaan ribâth. Disebutkan dalam Shahih Muslim dari hadits Salman ra., dia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:

“Melakukan ribâth sehari semalam di jalan Allah lebih baik dari puasa dan shalat sebulan. Jika dia mati, maka amalnya yang diperbuatnya terus mengalir untuknya, rezkinya terus mengalir untuknya, dan dia aman dari siksa (kubur).” At-Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang tsiqah (terpercaya), dalam sebuah hadits marfu’:“Barangsiapa mati sebagai murâbith di jalan Allah, maka dia aman dari ketakutan yang paling besar (di hari kiamat).”

===

Disisi lain, Visi politik islam yang melekat pada setiap arah kebijakan Khalifah adalah untuk menunjukkan ketinggian Islam, juga umat Islam hingga tak ada satupun negara penjajah yang akan berani meski untuk sekedar bermanuver di sekitar perbatasan wilayah Khilafah. Negara Khilafah sendiri adalah negara mandiri yang tak akan bergantung terhadap negara luar. Entah itu dari segi ekonomi, politik, militer maupun yang lainnya. 

Ruh jihad yang mewarnai penjagaan wilayah-wilayah Islam, tak hanya bertujuan mengamankan negara di wilayah perbatasan tapi juga merupakan wujud kepatuhan terhadap perintah Allah subhanahu wa ta'ala. Kepatuhan ini tak akan mampu ditukar dengan materi apapun, sebab jihad adalah bagian dari syariat. 

Bahkan Allah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk berjaga-jaga dan menyiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang, (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh-musuh Allah dan musuh-musuh kalian.” (QS. Al-Anfâl [8]: 60). 

Sungguh, ruh Islam menuntut untuk tidak berkompromi dengan siapapun, dan dalam bentuk apapun. Tidak dalam bentuk perjanjian kerjasama, utang berkedok investasi atau jebakan lainnya sebab penjagaan hak atas setiap jengkal wilayah Khilafah, kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Adakah mental ini dimiliki rezim yang mengkriminalisasi ajaran Islam? Wallaahu a’lam.

—————————————
Sumber : Muslimah News ID 
banner zoom