Ketakwaan; Sebab Pertolongan

Demikianlah perhatian dan kekhawatiran Khalifah Umar terhadap kemaksiatan pasukannya. Bahkan bukan hanya kemaksiatan, hal yang halal namun dikhawatirkan akan menyebabkan disorientasi hidup; hidup hanya sekedar mengejar kenikmatan duniawi saja juga beliau risaukan.
________________________________________
Oleh: M. Taufik NT

Salah satu musibah terbesar yang menimpa suatu bangsa, organisasi, partai, maupun individu adalah hilang/berkurangnya ketakwaan. Menyebar luasnya kedustaan, kecurangan, suap, menuruti syahwat, mengabaikan shalat, itu semua adalah bencana yang lebih besar dibandingkan sekedar bencana alam.

Ibn ’Abd Rabbih al-Andalusi (w. 328 H) dalam Al-’Aqd al-Farîd menyatakan bahwa Khalifah ‘Umar r.a sangat mengkhawatirkan terjadinya perbuatan maksiat yang dilakukan oleh umat Islam. Beliau menganggap hal itulah yang akan menghalangi datangnya pertolongan dari Allah Ta’ala. Umar menulis surat kepada Sa’ad bin Abi Waqqash dan pasukannya:

أما بعد؛ فإني آمرك ومن معك من الأجناد بتقوى الله على كل حال؛

“Amma ba’du, Sesungguhnya aku memerintahkan kepadamu dan kepada seluruh pasukan yang bersamamu agar bertakwa dalam segala keadaan,

فإن تقوى الله أفضل العدّة على العدوّ، وأقوى المكيدة في الحرب

karena takwa kepada Allah merupakan seutama-utamanya persiapan dan strategi paling kuat dalam menghadapi pertempuran.

وآمرك ومن معك أن تكونوا أشدّ احتراسا من المعاصي منكم من عدوّكم،

Aku perintahkan pula kepadamu dan pasukan yang bersamamu agar lebih besar kewaspadaan kalian kepada kemaksiatan kalian daripada kewaspadaan kalian kepada musuh-musuh kalian.

فإن ذنوب الجيش أخوف عليهم من عدوّهم،

Karena dosa-dosa yang dilakukan pasukan lebih aku khawatirkan daripada musuh mereka,

وإنما ينصر المسلمون بمعصية عدوّهم لله،

Dan bahwasanya kaum muslimin ditolong karena kemaksiatan musuh mereka kepada Allah,

ولولا ذلك لم تكن لنا بهم قوة؛ لأن عددنا ليس كعددهم، ولا عدّتنا كعدّتهم،

Jika tidak demikian kita tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi mereka, sebab jumlah kita tidaklah sebanyak jumlah pasukan mereka, persiapan kita juga tidak sebagus persiapan mereka

فإذا استوينا في المعصية كان لهم الفضل علينا في القوة، وإلا ننصر عليهم بفضلنا لم نغلبهم بقوتنا

Jika kemaksiatan kita setara dengan kemaksiatan mereka, sementara kekuatan musuh lebih hebat daripada kekuatan kita, kalau kita tidak ditolong karena keutamaan (ketakwaan) kita, kita tidak akan bisa mengalahkan mereka sekedar dengan kekuatan kita.

واعلموا أن عليكم في مسيركم حفظة من الله يعلمون ما تفعلون، فاستحيوا منهم، ولا تعملوا بمعاصي الله وأنتم في سبيل الله

Dan ketahuilah bahwa dalam perjalanan kalian, senantiasa ada malaikat penjaga dari Allah, mereka tahu apa yang kalian lakukan, jadi malu lah kalian terhadap mereka, dan janganlah bertindak maksiat kepada Allah saat kalian berjuang di jalan Allah.

ولا تقولوا إن عدوّنا شر منا فلن يسلّط علينا وإن أسأنا؛ فربّ قوم سلّط عليهم شر منهم، كما سلط على بني إسرائيل لما عملوا بمساخط الله كفّار المجوس فَجاسُوا خِلالَ الدِّيارِ وَكانَ وَعْداً مَفْعُولًا

Janganlah kalian berkata, “sesungguhnya musuh kita itu lebih buruk daripada kita, maka mereka tidak akan bisa menguasai kita walaupun kita berbuat buruk juga”, berapa banyak golongan yang dikuasai oleh golongan lain yang lebih buruk prilakunya dari golongan tersebut, sebagaimana Allah kuasakan Bani Israil, saat mereka melakukan apa yang dimurkai Allah, kepada orang-orang Majusi hingga Majusi tersebut merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana

واسألوا الله العون على أنفسكم كما تسألونه النصر على عدوّكم

Mintalah pertolongan Allah agar kalian mengalahkan diri kalian sendiri sebagaimana kalian memintanya untuk menang atas musuh kalian.“ [1]

===

Demikianlah perhatian dan kekhawatiran Khalifah Umar terhadap kemaksiatan pasukannya. Bahkan bukan hanya kemaksiatan, hal yang halal namun dikhawatirkan akan menyebabkan disorientasi hidup; hidup hanya sekedar mengejar kenikmatan duniawi saja juga beliau risaukan.

Beliau pernah bertemu seseorang di jalan yang perutnya sangat besar, sambil menunjuk perut tersebut beliau bertanya “apa ini?”, “Ini karunia dari Allah,” jawab orang tersebut. “Ini bukan karunia, tapi ‘azab’ dari Allah!”, seru Umar.

Umar pun melanjutkan:

إيَّاكُمْ والبِطْنَةَ، فَإِنَّهَا مِكْسَلَة عَن الصَّلَاة، مُفْسِدَة للجسم، مؤدية إِلَى السقم، وَعَلَيْكُم بِالْقَصْدِ فِي قوتكم فَهُوَ أبعد من السَّرف، واصح للبدن، وَأقوى على الْعِبَادَة، وَإِن العَبْد لن يهْلك حَتَّى يُؤثر شَهْوَته على دينه

“Hindarilah perut yang besar (sebab rakus makan), karena ia membuat kalian malas menunaikan shalat, merusak organ tubuh, menimbulkan banyak penyakit. Hendaklah kalian makan secara sedang-sedang saja, karana itu jauh dari berlebihan, lebih menyehatkan badan, dan lebih menguatkan untuk beribadah, sesunguhnya seseorang tidak akan binasa hingga dia lebih mengutamakan syahwatnya dibandingkan agamanya.”[2]

Inilah pemimpin sejati, visinya jauh ke depan, tidak hanya visi 5 tahun atau 10 tahun ke depan, namun visi menyelamatkan rakyat hingga negeri akhirat. 

===
Sumber: https://mtaufiknt.wordpress.com/2019/10/17/ketakwaan-sebab-pertolongan/


banner zoom