Kebenaran Bukan Berdasarkan Kesepakatan
Oleh : Fajri al-Abqary
Kita sering mendengar, jika ingin menerapkan syariat Islam, Indonesia bukanlah negara Islam, melainkan negara Pancasila yang dibentuk berdasarkan kesepakatan para ulama dan para pendiri bangsa (founding fathers).
Oke, jika isi kesepakatan tersebut keliru bagaimana? Misalnya ada dua pihak membuat kesepakatan jual-beli motor tetapi sistem leasing. Dari namanya saja sudah keliru, sistem leasing bukan aqad jual-beli melainkan aqad sewa-jual. Pada ajaran Islam tidak boleh ada dua aqad dalam satu transaksi. Beli ya beli, sewa ya sewa.
Adapun fakta leasing, jika pihak pembeli tidak sanggup membayar cicilan (kredit macet), maka pihak penjual boleh mengambil kembali motor yang sudah dibeli, jadi aqad jual-beli berubah menjadi aqad sewa-menyewa. Keliru berdasarkan aqadnya.
Contoh yang lain, satu aqad tapi dosa, misalnya aqad transaksi ribawi, pinjam uang satu juta harus diganti lebih dari satu juta. Misalnya dua pihak sepakat pengembalian pinjamannya sebesar Rp. 1.200.000. Dalam ajaran Islam aqad seperti ini tidak sah alias batal (bathil).
Contoh lain lagi, dua pihak remaja putra dan putri sepakat untuk menjalin hubungan pacaran, apakah hubungannya sah atau halal? Tentu saja haram.
Lalu, bagaimana kesepakatan dua pihak antara pemerintah dengan rakyat untuk menerapkan sistem peraturan kehidupan yang bertentangan dengan syari'at Islam, apakah kesepakatan tersebut sah atau halal?
Sebagai contoh dalam syari'at Islam hukum cambuk bagi pezina yang belum menikah (ghairu muhsan) adalah 100 kali cambukan. Apakah boleh karena kasihan hukumnya dikurangi menjadi 50 cambukan saja? Atau apakah boleh karena kebencian hukumnya ditambahkan menjadi 150 kali cambukan? Tentu saja tidak boleh, jika dikurangi atau ditambah saja tidak boleh, apalagi hukumnya diganti dengan yang lain! Itulah Indonesia.
Muncul beberapa pertanyaan, kenapa di negara Indonesia khususnya dan di seluruh dunia pada umumnya, banyak terjadi kerusakan? Allah 'azza wa jalla menjawab: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kepada Allah)” (TQS ar-Rum: 41).
Kenapa penghidupan masyarakat terasa sempit? Allah 'azza wa jalla menjawab: “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta” (TQS. Thaha: 124).
Kenapa lebih banyak yang mengikuti hukum buatan manusia, sedangkan yang menginginkan syari'at islam cuma sedikit? Allah 'azza wa jalla menjawab: "Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat dusta (kebohongan)" (TQS al-An'am: 116).
Kenapa kebanyakan orang merasa dirinya paling benar?Allah 'azza wa jalla menjawab: "Kebenaran itu datangnya dari Allah, maka janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang ragu" (TQS al-Baqarah: 147).
Begitu juga Indonesia terdiri dari banyak agama (majemuk), kenapa harus menerapkan syari'at Islam? Allah 'azza wa jalla menjawab:*
"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad saw.), melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira (surga) dan sebagai pemberi peringatan (neraka)" (TQS Saba': 28).
Bagaimana caranya memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi agar menjadi kebaikan kehidupan yang penuh keberkahan? Allah 'azza wa jalla menjawab: "Dan sesungguhnya jika penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, maka pasti Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan" (TQS al-A'raf: 96).
Jadi, apakah sistem atau hukum berdasarkan hasil kesepakatan manusia harus diganti dengan hukum Allah? Allah 'azza wa jalla menjawab: "Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang beriman?" (TQS. Al-Ma'idah: 50).
Wahai Allah, saksikanlah bahwa sesungguhnya saya sudah menyampaikan peringatan, masalah mereka menerima atau menolak peringatan tersebut, itu urusan mereka dengan Allah! []

Posting Komentar