-->

Downgrade ; Mode Bertahan dari Ancaman Kemiskinan


Oleh : Siti Rohmah, S. Ak
(Pemerhati Kebijakan Publik). 

Baru -baru ini ramai netizen berbagi pengalamannya di media sosial tentang keputusan menurunkan gaya hidup atau downgrade. Penurunan gaya hidup yang dilakukan dari barang dan kendaraan yang sebelumnya digunakan ke pilihan yang lebih terjangkau, atau memilih untuk mengeleminasi budget nongkrong maupun hobinya.

Telah terjadi penurunan penduduk kelas menengah dari 60,8 juta orang (23 persen) pada 2018 menjadi 46,7 juta orang (16,6 persen) pada 2025. Sedangkan untuk penduduk kelas ekonomi yang rapuh/rentan miskin semakin mendominasi piramida ekonomi, dari 68,5 persen pada 2018 menjadi 74,5 persen pada 2025. Republika.co.id, (10-10-2026). 

Gejala downgrade pada kelas menengah makin ramai dilakukan. Dahulu ketika terjadi tekanan finansial orang akan makan tabungan (mantab), tetapi sekarang tidak sedikit orang makan dari utang (maut).

Kemiskinan Struktural

Kapitalisme yang memang dasar pemikirannya adalah (modal/ uang) mendorong masyarakat mengejar gaya hidup mewah serta mengedepankan gengsi. Terkadang demi ingin terlihat kaya orang sampai rela punya barang mewah dengan berhutang. Namun kapitalisme juga melahirkan kemiskinan struktural. Sekalipun masyarakat sudah bekerja tapi hanya cukup untuk makan, kekayaaan tidak merata membuat yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. 

Downgrade merupakan dampak dari kebijakan dengan dalih efisiensi oleh pemerintah, kenaikan harga kebutuhan pokok, penarikan pajak sana sini, hingga banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK). Menekan masyarakat menengah kebawah dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup. Saat ini alih-alih memilih kualitas barang yang bagus dengan harga tinggi untuk memenuhi kebutuhan pokok saja masyarakat lebih memilih harga yang paling terjangkau. Yang terpenting kebutuhan tercukupi. 

Politik ekonomi kapitalis memenghasilkan krisis finansial dan ancaman kemiskinan yang meluas. Dengan banyaknya masyarakat menengah yang mulai melakukan gaya hidup downgrade membuktikan ekonomi saat ini sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana tidak, kebutuhan pokok yang semakin hari semakin naik harganya tetapi penghasilan tidak cukup untuk kebutuhan. Hal ini membuat rakyat terhimpit hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja. 

Negara yang menerapkan sistem kapitalisme sekuler akan berlepas tangan dalam hal menjamin kesejahteraan rakyatnya. Negara tidak mau tahu bagaimana caranya terpenuhi kebutuhan rakyatnya. Abainya negara dalam menyediakan lapangan pekerjaan, melambungnya kebutuhan pokok masyarakat, adalah bukti tidak berpihaknya sistem yang diterapkan saat ini kepada rakyat. Maka, tak heran kemiskinan semakin bertambah. 

Islam Menjamin Kebutuhan

Islam memandang persoalan gaya hidup untuk mengutamakan kebutuhan berdasarkan prioritas bukan memenuhi semua keinginan. Tidak mendorong masyarakat untuk gaya hidup yang berlebihan apalagi hanya demi hobi maupun ikutan tren. Karena syariat melarang perilaku berbuat boros. 

Negara menjamin ketersediaanya lapangan kerja yang memadai dengan gaji yang layak dan tidak membebani rakyat dengan pungutan pajak. Negara akan membuka banyak lapangan pekerjaan bagi para kepala keluarga sehingga bisa menafkahi keluarga yang ditanggungnya. Ketika sumber daya alam yang melimpah dikelola oleh negara sesuai syariat maka otomatis akan mendorong tersedia banyaknya lapangan pekerjaan. 

Islam akan menjamin kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dan kemananan sehingga meminimalisir akan terjadinya tekanan finansial secara massal. Negara senantiasa menjalankan tugasnya sebagai ra'in, yaitu melayani rakyat secara keseluruhan. Ketika semua kebutuhan pokok dasar terpenuhi. Maka rakyat akan merasa nyaman tanpa harus tertekan dengan pekonomiannya. Maka, hanya dengan kembali menerapkan sistem Islam secara menyeluruh, segala masalah akan teratasi. Waallahu'aalam bisshawab.