-->

KECANGGIHAN AI, ANTARA HARAPAN DAN KEKHAWATIRAN


Oleh : A. Salsabila Sauma

Sebuah riset berjudul “Bagaimana jika otomatisasi R&D AI memicu ledakan kecerdasan?” melibatkan 22 peneliti termasuk Yoshua Bengio dan Geoffrey Hinton yang dianggap sebagai Bapak AI modern. Riset yang juga melibatkan Jack Clark, salah satu pendiri Anthropic dan Jakub Pachocki, kepala ilmuwan OpenAI tersebut mendesak para pembuat kebijakan untuk bertindak segera sebelum terjadi ledakan kecerdasan yang tak terkendali dari teknologi ini. _(cnnindonesia)_

DAMPAK AI DALAM KEHIDUPAN

Dalam perkembangannya, Artificial Intelligence/Akal Imitasi (AI) sudah memasuki berbagai bidang. Mulai dari pendidikan, kesehatan, keuangan, hinggs pemerintahan. Teknologi yang awalnya dibuat untuk mekanisasi pekerjaan, kini sudah ditahap mendukung penemuan obat, analisis risiko keuangan, hingga membantu dalam pangambilan keputusan. _(kompas)_

Pada bidang pendidikan, AI amat membantu pekerjaan guru dalam personalisasi pembelajaran. Teknologi ini memudahakn guru dalam memetakan pola belajar yang dibutuhkan siswa agar tepat sasaran sehingga membantu siswa belajar dengan lebih efektif. AI juga meringankan peran guru dalam mengolah administrasi siswa seperti nilai, rekap data dan rekap absen melalui otomatisasi yang dimiliki AI. Akses belajar untuk guru dan murid juga menjadi lebih luar karena internet memudahkan pengguna memperoleh segala bahan ajar yang dibutuhkan.

Lain lagi dalam bidang kesehatan. Penggunaan AI dalam bidang kesehatan sudah ditahap penemuan obat, penelitian gen, dan uji klinis. Teknologi ini dapat mempercepat proses identifikasi, klasifikasi dan analisis set data klinis. Urusan administrasi pelayanan kesehatan pun menjadi mudah dengan menggunakan AI. Pasien lebih cepat dalam membuat janji temu dan pekerjaan dokter menjadi ringan karena ada asisten AI yang membantu. Pun halnya dalam bidang keuangan. Teknologi AI sudah mendominasi juga pada sektor ini. 

KEKHAWATIRAN TERHADAP AI

Meskipun AI dapat mengasilkan dampak positif, baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, keuangan, dan bidang-bidang lainnya, ledakan kecerdasan yang dihasilkan AI membawa tiga bahaya utama. Pertama, kemampuan AI bisa berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan masyarakat untuk beradaptasi. Kedua, manusia bisa kehilangan kendali atas sistem AI yang kemampuannya melampaui manusia. Ketiga, keseimbangan kekuasaan antarnegara, antarperusahaan, hingga antarlembaga pemerintahan bisa terganggu. Pun termasuk ancaman biologis dan siber serta ancaman perang antarnegara. _(kompas)_

Penggunaan AI juga sangat mungkin digunakan untuk kejahatan. Sudah banyak kejahatan media sosial yang disebabkan oleh teknoogi ini, seperti penyebaran informasi yang salah, pelanggaran privasi, dan manipulasi sosial. AI juga membuat bentuk kejahatan semakin variatif. Mulai dari peretasan identitas, mencuri uang, hingga mengganggu sistem kelistrikan dan komunikasi

Dalam hal tersebut, para peneliti mendesak pembuat kebijakan untuk segera bertindak. Pembuat kebijakan harus menyiapkan cara untuk mengerem ledakan kecerdasan dari AI ini serta membantuk masyarakat bersiap siaga menghadapi dampaknya.

PARADIGMA ISLAM TERHADAP AKAL IMITASI (AI)

Semakin jauh perkembangannya, penggunaan AI bukan lagi dianggap sebagai alat bantu, melainkan sumber utama. Kemudahan dalam mendapatkan jawaban “sempurna” dari AI membuat manusia mengalami kemalasan berpikir. Hasil yang didapat secara instan ini perlahan-lahan mengikis daya pikir dan kritis manusia sehingga malah membuat manusia semakin tertinggal dengan kemajuan teknologi ini. AI adalah alat bantu manusia untuk beprikir, bukan mesin pengganti proses berpikir.

Islam tidak mengajarkan untuk menolak kemajuan teknologi. Islam memahami bawah teknologi dapat dimanfaatkan untuk kebaikan selama penggunaannya sesuai dengan hukum Allah SWT. Sebagaimana manusia dimuliakan dengan akal, umat muslim harus mewaspadai kemajuan teknologi yang dilepaskan dari akidah dan syariat. Sebab orientasi kehidupan yang berlandaskan selain islam pasti hanya berputar pada kepentingan, keuntungan, dan kekuasaan manusia semata

Seseorang yang memiliki akidah Islam yang kokoh dan terikat dengan syariat akan menjadikan halal dan haram sebagai pertimbangan dalam memanfaatkan teknologi. AI tidak akan digunakan untuk untuk menipu, merusak kehormatan manusia, atau mencelakakan orang lain. Sebaliknya, teknologi akan diarahkan untuk membantu manusia memenuhi kebutuhan hidup dan menyelesaikan persoalan umat. _(kompasiana)_

Namun, level individu saja tidak cukup. Diperlukan pengaturan masyarakat dan negara yang menjamin teknologi tidak digunakan untuk kejahatan. Negara harus menetapkan kebijakan yang melindungi masyarakat, mencegah penyalahgunaan AI, dan mengawasi penggunaan teknologi berisiko tinggi. Negara memastikan inovasi tidak mengorbankan keselamatan dan hak manusia. Negara menjalan seluruh pengaturan kehidupan berdasarkan syariat Islam, bukan yang lain. 

Oleh karena itu, sistem kehidupan harus diatus oleh syariat Islam agar selamat dan sejahtera, bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat.

Wallahua'lam bi showab