-->

GEN Z Terhimpit Antara Kerja Keras dan Harga Hidup


Oleh : Yulia Ummu Farzan

“Anak zaman sekarang manja, dikit-dikit healing. Gaji 5 juta masih saja ngeluh.”
Kalimat itu mungkin sering kita dengar. Stigma ”Gen Z pemalas” sudah seperti mantra. Padahal jika diteliti kembali, pertanyaan itu justru berbalik: benarkah mereka malas? Atau mereka sedang terhimpit oleh sistem yang tidak pernah berpihak?

Data tidak berbohong. Survey Deloitte 2026 menyebut lebih dari 48% Gen Z di Indonesia tidak merasa aman secara finansial. Di sisi lain, survey Kompas sendiri mencatat alokasi belanja Gen Z untuk self-reward, healing dan gaya hidup justru meningkat tajam.

Di satu sisi terhimpit, di sisi lain tetap belanja. Inilah paradoks yang harus kita bedah dan bukan sekadar dihakimi.

Gen Z Terjepit Di Antara Biaya Hidup Dan Gaji Yang Jalan Di Tempat

Coba bayangkan jadi Gen Z hari ini. Lulus kuliah usia 22-23 tahun. Gaji pertama UMR Jakarta sekitar 5,3 juta. Potong kontrakan 1,5 juta, makan 1,5 juta, transport 500 ribu, internet, pulsa, BPJS, sehingga sisanya hanya 1 juta. Itupun kalau tidak ada acara keluarga dan tidak ada cicilan.

Negara hari ini seolah lepas tangan. Pendidikan mahal, lapangan kerja formal seret. Akhirnya Gen Z dipaksa menjadi 'pejuang serabutan', pagi kerja kantoran, sore hari menjadi driver ojol sore, malam hari jualan online dan membuat konten di sela-sela waktu.

Mereka bukan malas, mereka justru bekerja 12-14 jam sehari. Akan tetapi sistem saat ini membuat kerja keras itu tidak pernah cukup.

Ketika Healing Dijual Sebagai Obat

Nah di sinilah paradoks kedua muncul. Di tengah tekanan-tekanan itu, mengapa belanja untuk self–reward justru naik?

Jawabannya sederhana, karena sistemlah yang menjual 'obatnya'. Ekonomi hari ini berjalan di atas konsumsi media sosial, influencer, dan industri gaya hidup yang bekerja 24 jam. Ada pesan yang tanpa sadar ditanamkan: ”kamu berhak bahagia, kamu berhak memanjakan diri, kamu tertinggal jika tidak ikut tren ini.” Muncullah FOMO, di mana mereka takut ketinggalan nongkrong di kafe estetik, takut ketinggalan i-phone terbaru, takut ketinggalan liburan ke Bali dan semacamnya.

Self–reward dan healing berubah fungsi. Dari yang tadinya hadiah karena prestasi, menjadi mekanisme bertahan hidup secara mental. ”Kalau tidak jajan, aku stres. Kalau tidak liburan, aku burnout.”

Kapitalisme dengan cerdik menciptakan masalah, lalu menjual solusinya. Menekan, lalu menawarkan pelarian dan Gen Z yang paling rentan terjebak di dalamnya.

Krisis yang Paling Sunyi: Kehilangan Arah

Tapi ada luka yang tidak terlihat di laporan keuangan, yaitu krisis makna.

Sistem Pendidikan dan ruang publik hari ini jarang sekali bicara tentang “tujuan hidup”. Yang diajarkan hanya “kerja keras, cari uang, sukses, lalu nikmati hidup.”

Akibatnya banyak Gen Z tumbuh dengan kompas yang rusak. Bahagia diukur dari jumlah followers. Sukses diukur dari besaran gaji. Harga diri diukur dari barang yang dimiliki.

Tidak heran angka anxiety, depresi dan burnout di kalangan anak muda melonjak. Mereka lelah, bukan karena bekerja melainkan karena tidak tahu di mana garis finisnya.

Lalu, Apa Jalan Keluarnya?

Menyalahkan Gen Z tidak akan menyelesaikan apa-apa. Menyuruh mereka berhemat juga tidak cukup. Yang harus kita ubah adalah sistemnya.

Pertama, negara harus hadir menjamin kebutuhan dasar. Ini bukan soal bansos melainkan jaminan negara atas kebutuhan dasar tiap warganya. Negara wajib memastikan pendidikan dan kesehatan yang terjangkau dan berkualitas. Negara wajib memastikan ketersediaan rumah murah dan transportasi publik. Negara wajib menciptakan lapangan kerja layak dengan upah manusiawi.

Selama kebutuhan dasar masih diserahkan ke mekanisme pasar, maka Gen Z akan terus terhimpit.

Kedua, bentengi ruang publik dari racun konsumerisme. Pemerintah dan masyarakat sipil perlu membuat regulasi dan literasi media yang lebih kuat. Industri tidak boleh sebebasnya menarget anak muda dengan iklan konsumtif dan budaya hedonis. Sekolah dan kampus harus kembali menguatkan pendidikan karakter, literasi, finansial.dan kesehatan mental.

Ketiga, kembalikan percakapan tentang tujuan hidup. Kita perlu ruang-ruang dialog yang mengajak anak muda bertanya: ”Hidup ini untuk apa?” “Sukses itu seperti apa?” “Bagaimana berkontribusi, bukan hanya mengonsumsi?”

Tanpa arah, generasi ini akan terus berputar-putar di lingkaran: kerja-stress–healing-kerja lagi dan seterusnya.

Penutup: Hentikan Menyalahkan Korban

Gen Z bukan generasi yang lemah. Buktinya mereka bertahan di tengah sistem yang tidak bersahabat. Mereka kreatif, kritis, dan paling melek teknologi dan isu sosial.

Tapi sekuat-kuatnya manusia, jika sistemnya menjepit, maka semua orang akan merasa lemah.
Sudah saatnya kita berhenti bertanya :”kenapa Gen Z malas?” Dan mulai bertanya:” sistem apa yang membuat mereka harus berjuang sekeras ini hanya untuk hidup layak?”
Karena negara yang kuat bukanlah negara yang menyalahkan rakyatnya. Negara yang kuat adalah negara yang mengurus dan mensejahterakan rakyatnya, terutama generasinya.
Gen Z berhak mendapatkan masa depan, bukan sekedar bertahan hidup.
Negara yang kuat itu pernah dicontohkan oleh sistem Islam, bentuknya adalah kekhilafahan Islam yang pernah tegak berdiri selama 13 abad. Dalam sistem Islam, kaum muda dan tua bersatu padu menegakkan Islam sebagai sistem, tidak ada yang dibiarkan bertopang dagu, semuanya bergerak masif di bawah arahan Khalifah (pemimpin kaum muslimin). Sistem Islam adalah sistem satu-satunya yang mampu membangun peradaban agung yang menaungi umat manusia, sehingga kewajiban bagi kaum muslimin untuk berupaya menegakkannya kembali. 

Wallahu'alam bishshowwab.