-->

Potret Buram Hari Anak Nasional

Oleh : Kanti Rahayu (Aliansi Penulis Rindu Islam)

Peringatan hari anak tahun ini masih diiringi banyak harapan, semoga anak-anak Indonesia ke depannya mendapatkan hak-hak mereka sebagai seorang anak dari segi kesehatan dan pendidikan. Diharapkan pula anak-anak dapat tumbuh berkembang di lingkungan yang baik, karena anak adalah penerus bangsa ini. Pada peringatan tahun ini mengangkat tema "Sayangi Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan". Banyak harapan yang disisipkan pada tema HAN tahun ini, yaitu agar anak mendapatkan perlindungan dan lingkungan yang ramah anak.

Sayangnya, itu hanyalah sebuah tema. Faktanya, anak-anak masih banyak yang mengalami tindak kekerasan, pelecehan sosial, perundungan (bullying), serta kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Menurut Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Kendari, selama Januari sampai Juni 2026, tercatat sebanyak 34 korban anak dan 21 korban perempuan. Kebanyakan korban mengalami pelecehan seksual dan hal ini telah dilaporkan kepada pihak dinas, sebagaimana dilansir dari Antara, 24 Juli 2026. Sedangkan menurut Dinas Sosial Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, tercatat selama enam bulan terakhir terdapat 18 kasus, di antaranya adalah pembuangan bayi dan penelantaran anak, dikutip dari Kompas, 24 Juli 2026.

Banyaknya kasus kejahatan yang dialami anak-anak dan perempuan saat ini merupakan dampak dari penerapan sistem sekuler kapitalis yang dianut oleh bangsa ini, karena dalam sistem tersebut agama dipisahkan dari kehidupan. Agama tidak boleh mengatur kehidupan manusia; agama cukup hanya untuk ibadah saja seperti salat, zakat, dan puasa. Sedangkan dalam kehidupan sosial, masyarakat dibebaskan bertindak sesuai dengan keinginan individunya. Maka, jangan heran jika setiap hari di media sosial kita banyak mendengar berita tentang bayi baru lahir yang dibuang, anak remaja yang terjangkit HIV/AIDS, serta pelecehan seksual yang dialami anak-anak. Bahkan, kebanyakan pelakunya adalah orang terdekat mereka.

Dalam sistem sekuler saat ini, banyak keluarga yang mengalami tekanan ekonomi yang luar biasa sehingga hal tersebut memengaruhi pola asuh keluarga. Sungguh miris, Indonesia yang kaya akan sumber daya alamnya—dari segi batu bara, hutan, hingga lautnya—masih menyisakan banyak rakyat yang hidup di garis kemiskinan.

Menurut KPAI, banyak anak Indonesia yang melakukan bunuh diri karena tekanan ekonomi. Seperti yang terjadi di Nusa Tenggara Timur pada bulan Februari 2026, seorang anak SD bunuh diri karena tidak mampu membeli kebutuhan sekolah, dikutip dari Jawa Pos, 12 Februari 2026.

Di sisi lain, media sosial mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan sosial anak-anak saat ini. Kehidupan mewah yang sering dipertontonkan di media sosial ternyata memengaruhi pola pikir dan pandangan hidup anak-anak, sehingga banyak anak remaja mengalami FOMO (takut ketinggalan tren) terhadap kemewahan tersebut. Akhirnya, banyak anak yang melakukan pinjaman online. Seperti yang disampaikan oleh OJK, generasi Z banyak yang melakukan pinjaman online karena mengikuti gaya hidup, bukan karena kebutuhan hidup, dikutip dari Media Indonesia, 11 Mei 2026.

Di sisi lain, dalam sistem sekuler kapitalis saat ini, negara tidak mampu memberi rasa aman dan nyaman terhadap kehidupan anak-anak Indonesia. Memang setiap tahun pemerintah mengeluarkan program untuk melindungi anak-anak, seperti tema Hari Anak Nasional tahun ini, yang bertujuan supaya anak-anak mendapat ruang hidup dan lingkungan yang sehat.

Namun, semua itu hanyalah sebatas program, karena faktanya masih banyak anak Indonesia saat ini yang tidak mendapatkan haknya, baik dari segi pendidikan, kesehatan, maupun rasa aman. Semua masalah yang menimpa anak Indonesia ini tidak akan terjadi jika negara menerapkan sistem Islam. Sebab, dalam pandangan sistem Islam, negara memposisikan diri sebagai penjaga bagi rakyatnya, sehingga akan dipastikan dengan sungguh-sungguh keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan rakyatnya.

Di sisi lain, orang tua harus berfungsi sebagaimana mestinya, yaitu memastikan bahwa setiap anak mendapatkan hak-haknya dengan baik. Seperti pendidikan, kesehatan, tumbuh kembang yang baik, lingkungan yang baik, nafkah yang cukup, serta ilmu agama mulai dari dalam kandungan sampai ia baligh. Pendidikan agama adalah fondasi yang paling penting dalam menjaga dan melindungi anak. Islam bukan sekadar agama, melainkan juga aturan dalam kehidupan. Oleh karena itu, Islam memastikan kepada semua orang tua bahwa anak merupakan titipan Allah. Untuk itu, sistem Islam memastikan bahwa akidah Islam merupakan asas pertama dalam mengasuh dan mendidik anak, serta memiliki pandangan yang khas dalam rangka memastikan perlindungan anak.

Karena anak adalah manusia, sistem Islam memastikan jiwa, harta, dan akal anak di dalam sebuah keluarga terjaga dengan baik. Maka dari itu, negara menjamin kebutuhan setiap keluarga tercukupi dari segi sandang, pangan, dan papan. Agar dapat menjadi orang tua yang mampu menjaga titipan Allah dengan baik, diperlukan sebuah sistem negara yang mampu menggerakkan aturan kehidupan di dalam masyarakat. Pemerintahan dalam sistem Islam bertugas menjaga tatanan di masyarakat dari segi sosial, ekonomi, dan hukum.

Sistem Islam menjamin setiap kebutuhan hidup terpenuhi supaya tidak ada alasan bagi seseorang untuk melakukan kekerasan terhadap anak dan keluarga atas dasar alasan ekonomi. Pemerintah menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat. Dari media sosial sendiri, dipastikan setiap konten yang dimuat tidak mengandung kekerasan fisik, tontonan pornografi, dan dipastikan tidak ada yang namanya judi online, karena semua aktivitas tersebut haram dalam aturan Islam.

Pemerintahan Islam membentengi setiap warganya dari tindak kejahatan. Sistem Islam menghukum setiap pelaku kejahatan untuk memberikan efek jera pada pelaku kriminal. Semua itu dilakukan oleh negara Islam untuk memberi rasa aman di tengah masyarakat. Negara juga menciptakan lapangan kerja bagi setiap kepala keluarga supaya anak terlindungi dari kejahatan sosial. Negara menciptakan tatanan sosial yang sesuai dengan pendidikan Islam yang membentuk setiap anak mempunyai keimanan dan ketakwaan kepada Allah secara kuat dan benar, sehingga dapat mewujudkan pemahaman Islam dalam setiap diri warga negaranya. 

Namun, semua itu hanya bisa tercipta jika negara menerapkan sistem Islam, karena mustahil rasa aman dan kecukupan ekonomi itu tercipta di dalam sistem sekuler. Untuk itu, demi keselamatan anak-anak kita, mari kita perjuangkan tegaknya sistem Islam di dunia ini.