-->

Obsesi Kulit Sempurna, Krisis Peradaban Mengintai Generasi Kita


Oleh : Evi Derni, S.Pd

Trend skin care kini tidak lagi hanya digemari remaja dan orang dewasa, anak-anak pun mulai ikut menggunakan berbagai produk perawatan kulit demi mendapatkan wajah mulus seperti yang sering mereka lihat di media sosial. Namun dibalik tren tersebut para ahli mengingatkan adanya fenomena yang disebut kosmetik koreksia. Dari sisi kesehatan penggunaan skin care tanpa pengawasan berisiko merusak kulit anak yang masih sensitif. Produk dengan kandungan bahan aktif tertentu dapat memicu iritasi kemerahan hingga dermatitis kontak jika digunakan terlalu dini. Tak hanya berdampak pada kesehatan kulit kosmetik koreksia juga dapat mempengaruhi kondisi mental anak yang terus membandingkan dirinya dengan orang lain berisiko mengalami rasa tidak percaya diri kecemasan bahkan dikaitkan dengan body dysmorphic disorder (BDD) yaitu gangguan yang membuat seseorang terus merasa tidak puas terhadap penampilannya. (Info radar ID Rabu 15 Juli 2026).
Para produsen kosmetik memanfaatkan pengaruh media sosial dan para influencer untuk meraup keuntungan besar dan pasar kosmetik dengan tagline fast beauty. Masuknya iklan kosmetik lewat medsos dan pengaruh para influencer telah berhasil mengangkat posisi kosmetik menjadi seperti kebutuhan pokok terutama bagi perempuan. Tidak sedikit dari mereka yang tidak percaya diri jika belum bermake up. Seperangkat kosmetik pun menjadi barang wajib yang senantiasa dibawa kemanapun mereka pergi. Fenomena kosmeticoreksia ini diperkenalkan oleh dermatologis dan akademisi yang mengamati meningkatnya penggunaan Skin Care pada anak-anak dan remaja. Profesor Giovanni damiani dermatologis dari University of Milan Italia melakukan penelitian terhadap 5 pasien usia 8 sampai 14 tahun. Anak-anak yang menunjukkan tanda kosmeti corexia diketahui menghabiskan banyak waktu menonton konten Skin Care di medsos. Mereka juga menggunakan hingga 10 produk perawatan kulit setiap hari dan merasa tidak percaya diri bersosialisasi tanpa memakai kosmetik. Survei juga pernah dilakukan merk Skin Care pie terhadap 1500 anak usia 9 sampai 12 tahun. Mereka menemukan hampir setengah responden menggunakan beberapa produk Skin Care setiap pekan. Peneliti media sosial dari Cornel University Brook Erin dupply menilai tren ini menunjukkan perubahan besar dalam cara industri kecantikan mempengaruhi anak-anak.
Ketika anak-anak terobsesi dengan kulit sempurna sejak dini. Hal tersebut mengalihkan perhatian dari hal-hal penting sesuai usianya. Semestinya mereka yang masih dalam fase lanjutan tumbuh kembang anak fokus pada menempa dirinya sebagai aset Generasi masa depan Gemilang. Fokus dalam penanaman keimanan yang kokoh yang akan menjadi landasan bagi pola pikir dan pola sikap sehingga terbentuklah cikal bakal generasi dengan kepribadian yang tangguh demi terwujudnya peradaban yang agung. Alhasil, para kapitalis produsen kosmetik berhasil menciptakan obsesi berlebihan terhadap produk atau prosedur kecantikan yang seringkali bermula dari kecemasan akan penampilan. Dalam jeratan kapitalisme fenomena ini didorong oleh korporasi yang mengeksploitasi rasa cemas demi keuntungan mengubah kebutuhan dasar kesehatan dan perawatan diri menjadi konsumerisme yang ekstrem bahkan menargetkan remaja dan anak-anak.
Perhatian terhadap kebersihan dan perawatan diri adalah bagian yang dianjurkan dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda dalam beberapa hadisnya antara lain dari Abdullah bin Mas'ud dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda "Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala itu baik dan menyukai kebaikan Maha bersih dan menyukai kebersihan" HR Tirmidzi. Berhias diri adalah bagian dari menjaga kesehatan penampilan dan perawatan diri. Penggunaan kosmetik yang dapat menunjang kesehatan serta menjaga penampilan dan perawatan diri dalam batas yang wajar adalah hal yang diperbolehkan tentu dengan memperhatikan halal dan toyyibnya bahan baku kosmetik tersebut. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman "Wahai sekalian manusia makanlah yang halal lagi baik (Toyib) dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu" (QS al-baqarah: 168).
Selain kehalalan bahan baku juga harus diperhatikan keamanan bahan kandungannya ini karena tidak sedikit kosmetik yang mengandung bahan yang berbahaya.Islam hadir dengan seperangkat hukum syara sebagai aspek preventif yang melindungi rakyat khususnya dalam hal ini anak-anak dan remaja dari obsesi terhadap ilusi kesempurnaan tampilan diri individu rakyat memahami batas-batas yang telah ditetapkan dalam syariat. Keluarga menjadi pilar pertama yang memberikan perlindungan terhadap generasi, menanamkan pondasi aqidah yang kokoh dan ketundukan pada syariat. Masyarakat sebagai pilar kedua menjalankan fungsi kontrol sosial ketika anak-anak dan generasi berinteraksi di lingkungan sosial agar tetap dalam mode syar'i. Pilar ketiga negara menjadi pilar yang paling utama karena negara selain berperan dalam aspek preventif juga berperan dalam aspek kuratif untuk menyempurnakan perlindungan bagi rakyat termasuk bagi anak-anak dan remaja. Jika ada pelanggaran terhadap Syariat Islam yang diterapkan termasuk terkait dalam urusan berpenampilan baik yang melibatkan individu pengguna maupun Para produsen kosmetiknya maka negara hadir menegakkan sanksi uqubat sesuai dengan jenis pelanggarannya. Dengan berjalannya semua pilar dalam sistem Islam remaja dan anak-anak tidak akan terperangkap pada kosmetik correksia, mereka akan fokus dalam mempersiapkan dirinya sebagai generasi agen peradaban Islam. 
Wallahu a’lam bishawab.