Dua Cara agar Tidak Terjatuh dalam Istidraj
Di hadapan para jemaah, Mubalighah Kota Depok, Ustadzah Rizka Fauziah menegaskan, setidaknya ada dua cara agar seseorang tidak terjatuh ke dalam istidraj (tipudaya berupa nikmat yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang berdosa).
Hal tersebutnya disampaikan dalam Kajian Muslimah Shalihah, Makna Istidraj, Sabtu (11/07/2026) di Cipayung, Depok.
Menurutnya, kedua cara itu yakni: Pertama, hendaknya seorang hamba selalu melakukan muhasabah atau instropeksi, apakah dirinya dalam kondisi taat atau maksiat kepada Allah SWT.
Ia pun mengutip hadist riwayat Ahmad yang artinya, “Hendaklah kalian menghisab diri-diri kalian sendiri, sebelum kalian dihisab (oleh Allah di hari Kiamat). Dan hendaklah kalian menimbang-nimbang (amal baik dan amal buruk kalian), sebelum amal kalian ditimbang (oleh Allah di Hari Kiamat).”
Kedua, hendaknya seorang hamba selalu merasa takut kepada Allah, yakni takut akan kemurkaan dan keridakridhaan Allah kepadanya.
“Rasa takut kepada Allah inilah yang akan dapat mengerem atau mengendalikan seseorang untuk berbuat maksiat kepada-Nya,” terangnya.
Menurutnya, hal tersebut sebagaimana yang disebutkan dalam hadits. “Ada dua macam mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka; mata seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata seseorang yang bermalam yang sedang berjaga-jaga dalam rangka berjihad fi sabilillah” (HR al-Baihaqi).
Nikmat yang Menipu
Ia pun menegaskan, sesungguhnya istidraj itu adalah nikmat yang menipu. Ia pun memberi contoh seorang pemimpin atau tokoh yang jahat tapi diberikan kekayaan yang melimpah.
"Maka dari itu, tidak usah heran dan takjub, jika kita melihat ada pemimpin atau tokoh Muslim yang sangat jahat yang membenci Islam, suka berbohong, korupsinya gila-gilaan, jarang shalat, suka minum, suka berzina, suka riba, suka menipu masyakarat, tetapi kelihatannya dia kaya raya, uang triliunan, fine-fine saja, tidak penyakitan, tidak kudisan, tidak ditangkap atau dipenjara, seolah-olah kebal hukum atau bahkan dapat mengatur penegak dan penegakan hukum,” bebernya.
Memang, lanjutnya, pada hakikatnya, Allah akan memberikan hukuman kepada manusia yang tidak taat kepada-Nya, baik hukuman di dunia, seperti sakit, kecelakaan, kerugian bisnis, atau musibah-musibah gempa bumi, banjir, dan sebagainya, maupun hukuman di akhirat.
“Akan tetapi, adakalanya Allah tidak memberikan hukuman itu langsung di dunia, tetapi menundanya. Hamba yang bermaksiat itu dipenuhi semua keinginan dan kebutuhannya di dunia, seperti harta, tahta, wanita, dsb namun semua itu bukan karena ridha Allah, melainkan azab untuknya Kondisi hamba yang seperti inilah yang disebut istidraj,” sebutnya.
Ia pun mengutip hadist riwayat Ahmad yang artinya, “Apabila kamu melihat Allah memberikan kepada seorang hamba dari (berbagai kenikmatan) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus menerus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa itu adalah istidraj dari-Nya.
“Hendaknya seorang Mukmin selalu bermuhasabah dan intreospeksi diri akan amalan-amalannya serta merasa tidak aman, selalu khawatir Allah belum ridha dan tidak menerima semuanya agar yang timbul adalah kehati-hatian dan tidak meremehkan maksiat sehingga diri terhindar dari terjatuh ke alam kondisi istidraj,” pungkasnya.[] Mega Marlina

Posting Komentar