Trend Freestyle Membawa Petaka, Dimana Peran Negara?
Oleh : Fatimah Abdul (Aktivis Muslimah)
Semenjak dunia digital berkembang dan media sosial diperkenalkan, banyak sekali bermunculan berbagai fenomena di kalangan masyarakat. Baik itu dikalangan remaja, orang tua maupun anak-anak. Baru-baru ini muncul tren yang sangat viral di kalangan anak muda berupa aksi handstand atau gerakan freestyle ekstrem yang berakibat fatal yaitu cedera serius seperti patah tulang leher bahkan bisa berujung pada kematian.
Aksi gerakan ini dipengaruhi oleh trend digital dan terinspirasi dari game popular seperti Free Fire. Fenomena ini menjadi sangat mengkhawatirkan begitu terjadi kasus-kasus tragis pada anak-anak yang meniru aksi berbahaya pada game berbasis digital. Betapa serius dampak konten digital termasuk game online terhadap perilaku anak sehingga apabila tidak ada pengawasan yang ketat akan menjadi sebuah senjata yang memakan tuannya.
Di Lombok Timur Nusa Tenggara Barat, seorang bocah yang duduk di bangku taman kanak-kanak (TK) dikabarkan meninggal dunia setelah meniru aksi freestyle (salto) dari media sosial. Ia mengalami patah tulang leher yang serius sehingga tidak dapat bertahan hidup. Kasus serupa juga terjadi pada seorang siswa Sekolah Dasar kelas 1 di Lombok Timur. Aksi nekat yang terinspirasi dari game Garena Free Fire telah mengakibatkan tulang leher nya patah dan berakhir tragis.
Dari sini pihak kepolisian, sekolah, dinas pendidikan, psikolog anak hingga KPAI menghimbau agar para orang tua lebih waspada dalam melakukan pengawasan terhadap anak-anak. Terlebih dalam bermain HP, penggunaan media sosial serta tontonan yang hendak dilihat oleh anak-anak mereka.
Pengawasan Saja Tidak Cukup
Sungguh miris memang masalah yang tengah dihadapi masyarakat saat ini. Bertubi-tubi masalah datang silih berganti. Masih segar dalam ingatan kasus anak yang melakukan aksi bunuh diri lantaran tidak memiliki biaya untuk sekolah dan membeli alat tulis. Kali ini masalah nya juga tak kalah mind blowing. Pengaruh game online berakibat hilangnya nyawa yang disinyalir akibat kurangnya pengawasan yang dilakukan oleh pihak orang tua terhadap anaknya dalam bermain.
Sebenarnya masalah pengaruh media sosial tidak bisa serta merta menyalahkan posisi orang tua saja yang dinilai lalai dalam mengawasi anak-anak. Ada banyak faktor yang mengakibatkan masalah hilangnya nyawa anak karena trend di media sosial. Peran terpenting justru karena kurang ketatnya regulasi dalam pembatasan konten-konten di media sosial. Terlebih lagi dalam sistem kapitalisme sekuler saat ini konten-konten yang ada bebas dinikmati oleh masyarakat luas.
Nalar anak yang belum berkembang dengan sempurna memungkinkan mereka untuk mudah mengikuti atau meniru begitu saja segala sesuatu yang mereka anggap menarik baik di media sosial maupun di dalam game online sekalipun tanpa banyak berpikir. Faktor lainnya yaitu kurangnya pendampingan para orang tua terhadap anak sehingga anak-anak dengan mudah dapat mengakses segala informasi yang berbahaya dan berpotensi dapat merusak mental mereka bahkan dapat berakibat fatal yaitu terenggutnya nyawa.
Selain itu, kurangnya kontrol sosial/ lingkungan juga menambah potensi yang dapat mengancam keselamatan anak terlebih kurangnya pengawasan dari masyarakat. Anak-anak cenderung dibiarkan untuk bermain sendiri tanpa adanya pengawasan. Dari sisi pemerintah, belum efektifnya aturan pembatasan akses terhadap konten-konten online yang berbahaya dan kurang bermanfaat menambah daftar hitam betapa rentan kondisi anak-anak saat ini terhadap bahaya penggunaan gadget dan pengaruh media sosial bagi generasi.
Bagaimana Islam Mengatasi Masalah Seputar Pengaruh Gadget pada Anak-anak
Islam adalah agama sempurna yang mengatur segala aspek kehidupan manusia, termasuk mengatur bagaimana orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Dalam sistem islam, anak-anak yang belum baligh tidak dibebankan taklid hukum pada mereka karena akalnya belum berkembang dengan sempurna. Dengan demikian perlu adanya pendampingan dari orang tua untuk mengarahkan mereka kepada kebaikan dan keimanan.
Orang tua/wali memiliki tanggung jawab untuk mendidik dan mengasuh serta melindungi anak-anak dari bahaya terutama dalam dunia digital. Kemudian dalam hal pendidikan, sistem islam bertumpu pada tiga pilar utama yaitu peran orang tua, lingkungan, serta negara. Dengan adanya tiga pilar ini, maka dapat terwujud ekosistem yang kondusif untuk tumbuh kembangnya anak secara optimal.
Selain itu, negara daulah islam juga akan membatasi secara ketat informasi-informasi yang tidak penting dan tidak bermanfaat bahkan cenderung berbahaya terhadap generasi bangsa. Negara lebih banyak memproduksi konten-konten edukasi, mendorong para konten creator untuk membuat konten-konten yang mendidik serta mencerdaskan generasi muda sehingga akan terwujud generasi yang memiliki peradaban cemerlang, bermartabat dan penuh keimanan. Wallahu'alam bishawab.[]

Posting Komentar