-->

Telur Gratis dari Peternak, Alarm untuk Ketahanan Pangan Rakyat


Oleh : Neni Moerdia 

Aksi peternak ayam petelur di Tulungagung yang membagikan telur gratis bukan sekadar aksi berbagi kepada masyarakat (16/05/2026). Di balik itu, ada kegelisahan besar yang sedang mereka rasakan. Para peternak kecil khawatir semakin sulit bertahan setelah masuknya investor besar ke sektor perunggasan.

Bagi masyarakat biasa, mungkin muncul pertanyaan, “Bukankah investasi bagus untuk ekonomi?” Memang, dalam sistem hari ini investasi sering dianggap jalan utama untuk mempercepat pertumbuhan. Namun persoalannya, ketika modal besar masuk ke sektor pangan tanpa perlindungan yang kuat untuk usaha rakyat, persaingan menjadi tidak seimbang.

Perusahaan besar memiliki modal, distribusi, dan jaringan yang jauh lebih kuat. Mereka mampu membeli pakan dalam jumlah besar, memiliki kandang modern, hingga menguasai rantai pasar. Sementara peternak kecil hanya bertumpu pada modal terbatas dan usaha mandiri. Akibatnya, sedikit demi sedikit peternak rakyat bisa tersingkir.

Dampaknya bukan hanya dirasakan peternak. Ibu rumah tangga juga bisa ikut merasakan akibatnya. Mungkin di awal harga telur tampak murah, tetapi ketika pasar mulai dikuasai segelintir korporasi, harga pangan menjadi lebih mudah dikendalikan. Rakyat akhirnya bergantung pada perusahaan besar untuk kebutuhan dapur sehari-hari.

Inilah yang sering terjadi dalam sistem ekonomi kapitalisme, ketika pangan dipandang sebagai komoditas bisnis yang orientasinya keuntungan. Siapa yang memiliki modal paling besar, dialah yang paling kuat menguasai pasar. Sementara usaha kecil perlahan melemah.

Padahal pangan bukan sekadar urusan bisnis. Telur, ayam, beras, dan kebutuhan pokok lainnya adalah kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu negara seharusnya tidak hanya menjadi penonton ketika peternak kecil kesulitan bertahan.

Islam mewajibkan negara menjaga keseimbangan pasar dan melindungi rakyat dari praktik ekonomi yang menimbulkan kezaliman. Monopoli serta dominasi pasar yang merugikan masyarakat merupakan kejahatan. Sektor pangan termasuk kebutuhan dasar yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Negara wajib memastikan distribusi dan produksinya tidak dikuasai segelintir pihak yang dapat menimbulkan kezaliman pasar. Negara harus memastikan produksi pangan tetap kuat di tangan rakyat, bukan sepenuhnya tunduk pada kepentingan modal besar.

Tujuan ekonomi bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan, melainkan menghadirkan keadilan dan keberkahan. Ukurannya bukan hanya banyaknya investasi yang masuk, tetapi apakah rakyat mudah mendapatkan kebutuhan pokok dan apakah usaha kecil tetap bisa hidup dengan layak.

Karena itu, aksi para peternak di Tulungagung seharusnya menjadi pengingat bahwa persoalan pangan bukan hanya soal untung-rugi pasar. Ini tentang siapa yang menguasai kebutuhan hidup rakyat. Jika negara tidak hadir melindungi peternak kecil, bukan tidak mungkin suatu saat masyarakat akan kehilangan kedaulatan atas pangannya.

Perlindungan terhadap pangan dan peternak rakyat tidak cukup hanya dengan kebijakan sementara, tetapi membutuhkan sistem yang benar-benar berpihak kepada masyarakat. Islam memiliki aturan yang jelas dalam menjaga keadilan pasar dan melindungi kebutuhan dasar rakyat dari dominasi pemilik modal. Karena itu, pengelolaan pangan yang adil dan menenteramkan hanya dapat terwujud ketika negara menerapkan hukum Islam secara menyeluruh dalam kehidupan. Dengan penerapan syariat Islam secara totalitas, negara akan berfungsi sebagai pelindung dan pengurus umat, bukan sekadar pengawas pasar.