-->

Rupiah Melemah, Beban Masyarakat Menengah Bawah Makin Berat


Oleh: zuxy

Kenaikan harga BBM dan pelemahan nilai tukar rupiah tidak dapat dibaca sebagai peristiwa ekonomi biasa. Keduanya bukan sekadar urusan harga minyak dunia, tekanan dolar AS, atau mekanisme pasar. (kompas.com, 14/06/26)

Pasalnya, pelemahan nilai rupiah ini akan menyebabkan kenaikan harga kebutuhan pangan dan barang di mana hampir semua pasokan pangan berasal dari impor. Belum lagi kenaikan harga BBM semakin memberikan dampak bagi ekonomi masyarakat kelas menengah, industri, dan pelaku usaha.(kompasiana.com, 14/06/26)

Dalam ilmu ekonomi sendiri, dampak kenaikan harga biasanya diukur melalui berbagai indikator seperti inflasi, daya beli, tingkat konsumsi, atau pertumbuhan ekonomi. (ugm.ac.id, 14/06/26)

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berdampak fatal pada kehidupan masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah. Saat rupiah melemah, biaya impor barang dan bahan baku otomatis melonjak. Kondisi ini memicu  inflasi akibat impor yang mengerek harga kebutuhan pokok dan energi di pasar domestik.
Kenaikan harga tersebut membuat daya beli masyarakat langsung menurun. 

Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, keadaan ini sangat berat karena porsi pendapatan mereka habis digunakan untuk konsumsi dasar. Ketika biaya hidup melonjak sementara pendapatan tetap, surplus ekonomi mereka menjadi minus. Akibatnya, terjadi efek domino sosial. Sebagian orang terpaksa mengambil langkah ekstrem seperti mengurangi porsi makan, terjebak dalam lingkaran utang pinjaman online, atau mencari penghasilan tambahan yang tidak pasti demi bertahan hidup.

Dalam pandangan ekonomi Islam, masalah struktural tersebut diantisipasi dengan sistem yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat riil, bukan sekadar pertumbuhan angka produk domestik bruto (PDB). Sistem ekonomi Islam menekankan larangan riba dan praktik spekulasi, mendorong kemandirian ekonomi, serta mengatur pengelolaan harta secara bertanggung jawab.

Dalam Islam, uang murni berfungsi sebagai alat tukar, bukan komoditas yang diperdagangkan. Dengan melarang transaksi spekulatif asing, nilai tukar mata uang akan jauh lebih stabil karena pergerakannya mencerminkan produktivitas riil di pasar, bukan akibat permainan modal asing jangka pendek.

Solusi mendasar adalah mengelola sumber daya alam (SDA) untuk kepentingan rakyat. Sektor strategis seperti energi dan tambang tidak boleh dimonopoli pihak swasta atau asing. Hasil pengelolaannya harus dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk subsidi energi yang tepat sasaran atau fasilitas publik gratis, sehingga mengurangi beban biaya hidup harian.

Islam mendorong penguatan sektor riil seperti pertanian dan industri agar perekonomian mandiri dan tidak rentan terhadap gejolak eksternal. Ketika krisis melanda, instrumen  Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf berfungsi sebagai jaring pengaman sosial otomatis yang mendistribusikan kekayaan dari kelas atas langsung ke kelas bawah guna menopang daya beli mereka.

Pelemahan rupiah adalah alarm bahwa struktur ekonomi domestik masih rapuh. Melalui pengelolaan negara yang amanah, penghentian spekulasi moneter, serta distribusi kekayaan yang adil melalui prinsip ekonomi Islam, perekonomian dapat bertransformasi menjadi lebih stabil sehingga kesejahteraan masyarakat menengah ke bawah dapat terpenuhi dengan baik.