Muharram, Momentum Hijrah Peradaban
Oleh : Ida Nurchayati
Umat Islam memperingati dan menyambut tahun baru Hijriyah, 1 Muharam 1448 H. Muharam awal pergantian tahun hijriyah bagi kaum muslim. Momen untuk mengenang perjuangan Baginda Nabi SAW, bagaimana beliau memperjuangkan tegaknya sebuah peradaban yang dibimbing oleh wahyu. Sebuah peradaban yang mampu menyinari dunia dengan cahaya Islam. Peradaban yang mampu membebaskan manusia dari segala macam bentuk penghambaan, hanya menghamba pada Allah SWT saja.
Realitas Umat Islam
Allah SWT berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 110, bahwa Umat Islam adalah umat terbaik.
"Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah".
Namun fakta umat Islam saat ini sungguh menyesakkan dada. Nasib rakyat di Gaza masih sangat menderita. Mereka berjuang sendirian melawan kebengisan dan kebiadaban Isr4el. Tiap hari nyawa melayang, kehormatan direnggut tanpa pembelaan. Nasib Umat Islam di Uighur, Myanmar, India juga tidak kalah menyedihkan.
Kondisi umat di negeri-negeri mulsim juga tidak kalah memprihatinkan. Rakyat bergulat dengan kemiskinan, hidup diatur dengan tatanan sekuler yang jauh dari petunjuk wahyu. Pergaulan bebas, aborsi, LGBT, pinjol, judol, membunuh, juga bunuh diri tiap hari terjadi silih berganti. Umat jauh dari kebaikan dan keberkahan. Sementara para penguasa bersibuk mempertahankan kekuasaan dengan menjilat penguasa musuh-musuh Islam yang tangannya berlumuran darah kaum muslim.
Kondisi ini terjadi karena Umat Islam berpaling dari peringatan Allah, dengan mencampakkan tatanan kehidupan yang Allah telah turunkan dan Baginda Nabi SAW wariskan. Umat Islam diatur dengan tatanan sekuler. Seharusnya umat hidup diatur dengan syariat. Nasib umat seperti ikan yang ditaruh di daratan, hidup segan mati tak mau. Umat terpuruk dan terhinakan.
Hijrah Peradaban
Syekh Taqiyuddin An Nabhani menegaskan bahwa Umat Islam selamanya akan mundur, terbelakang, menderita dan terhinakan ketika umat diatur dengan sistem sekuler kapitalisme.
Sudah saatnya umat Islam meninggalkan tatanan kehidupan sekuler yang menjauhkan umat dari ajaran agamanya dan hijrah menuju peradaban Islam. Suatu tatanan kehidupan yang diatur dengan syariat Islam, aturan yang menjaga manusia tetap dalam fitrahnya. Aturan yang mampu menciptakan peradaban yang mengantarkan Umat Islam menjadi umat terbaik, menebarkan rahmat bagi alam semesta.
Meneladani Dakwah Nabi SAW
Imam Malik bin Anas mengatakan bahwa kondisi umat di akhir zaman tidak akan pernah bisa menjadi lebih baik, melainkan dengan sesuatu yang telah memperbaiki generasi awalnya.
Selain sebagai teladan, Rasulullah SAW sudah terbukti dengan dakwahnya mampu merubah masyarakat jahiliyah menjadi khoiru umat. Maka tidak ada pilihan lain bagi kita, selain meneladani tariqah dakwah beliau.
Dakwah Rasulullah bersifat la madiyah, yakni bersifat non-materiil, fokus pada pemikiran. Menurut Syekh Taqiyuddin An Nabhani, bangkitnya suatu umat ditentukan pemikirannya. Dakwah Nabi juga bersifat siyasiyah, yakni bersifat politis karena berkaitan dengan pengaturan urusan umat. Rasul SAW juga berdakwah di luar sistem. Meski saat itu sudah ada perkumpulan seperti parlemen, "Darun Nadwah" namun beliau memilih berdakwah diluar sistem.
Tariqah atau tahapan dakwah Nabi meliputi tiga tahapan, yakni pembinaan dan pengkaderan, berinteraksi bersama umat, serta penerapan Islam dalam pemerintahan.
Untuk mewujudkan tariqah dakwah tersebut harus ada kutlah, kelompok dakwah ideologis yang senantiasa bergerak ditengah-tengah umat untuk membina dan memahamkan umat dengan Islam kaffah hingga terbentuk kesadaran umum dan opini umum. Kesadaran dan kerinduan untuk diatur dengan syariat yang datang dari Penciptanya. Tatanan kehidupan yang mampu mewujudkan kebaikan, keadilan, keberkahan yang tidak hanya di dunia, juga selamat di akhirat.
Wallahu a'lam

Posting Komentar