-->

UPDATE PALESTINA, REFLEKSI PERINGATAN NAKBA


Oleh : A. Salsabila Sauma

Tragedi Nakba yang terjadi pada 15 Mei 2026 masih begitu membekas. Sudah 78 tahun berlalu dan nyatanya Nakba tidak pernah benar-benar berakhir. 

Menurut Biro Statistik Palestina, pada tahun 1948, Israel merampas 774 desa dan kota Palestina. Zionis Israel juga menghancurkan 531 wilayah dan melakukan lebih dari 70 pembantaian yang mengakibatkan lebih dari 15.000 warga Palestina terbunuh. (kompas)

Zionis Israel tidak pernah berhenti. Kini pun, mereka terus melakukan penghancuran, perampasan, dan pembantaian terhadap warga Palestina, baik di Gaza maupun di Tepi Barat. Tercatat sejak Oktober 2023, serangan Israel telah membunuh lebih dari 72.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 172.000 lainnya. Nakba masih terus berlanjut karena nyatanya memang belum pernah berakhir. (suaraislam)

PENJAJAHAN YANG DIAMINI SISTEM

Sejak awal kumunculannya, zionis Israel tidak pernah bekerja sendiri. Ada entitas lain yang turut ikut camput dalam pembentukannya di atas tanah Palestina: Inggris, Amerika Serikat, dan organisasi PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). 

Kesepakatan rahasia antara Prancis dan Inggris dalam Perjanjian Sykes-Picot mengawali kolonialisme di wilayah Syam (sekarang lebih dikenal Timur Tengah). Pasca perang dunia 1, mereka membagi wilayah kekuasaan Kesultanan Ustmaniyah dan menyisakan wilayah Palestina “tanpa tuan”. Namun, beberapa bulan setelahnya Inggris memberi mandat bahwa wilayah Palestina boleh dipakai oleh “bangsa Yahudi” untuk membangun negera sendiri. Mandat ini tercatat dengan nama Deklarasi Balfour. (Wikipedia)

Organisasi PBB sempat mengusulkan pembagian wilayah untuk Israel dan Palestina, yang mana keputusannya sudah berat sebelah. Namun dengan arogannya pemimpin zonis saat itu, David Ben-Gurion malah mendeklarasikan kemerdekaan zionis Israel pada 14 Mei 1948 dan kedaulatan ini langsung diakui oleh PBB. Hanya Israel, tanpa kedaulatan untuk Palestinan. (bbcindonesia)

Sejatinya kolonialisme Barat tidak pernah benar-benar berakhir. Mereka hanya mengubah strategi. Sebab seiring perkembangan zaman, penjajahan militer dlarang keras untuk dilakukan karena bertentangan dengan hak asasi manusia. Mereka memulai dengan memberi sekat nasionalisme pada seluruh wilayah kekuasaan muslim. Wilayah kekuasaan Utsmani dibagi-bagi dan dijadikan negara sendiri untuk melemahkan posisi dan kekuatan sehingga tidak ada pilihan selain mengikuti apa yang diinginkan negara penjajah.

Sebab itulah, saat ini kesadaran harusnya muncul bahwa kemerdekaan Palestina tidak bisa diharapkan dari negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat maupun Inggris. Pembebasan Palestina dan penghukuman kepada Israel juga mustahil untuk bergantung pada lembaga-lembaga Internasional seperti PBB. Negara Barat dan lembaga Internasionalnya itulah pihak yang mengamini kejahatan dan kriminalitas yang dilakukan Israel hingga hari ini. Sistem dunia yang mereka jalankan saat ini memang berdiri di atas penjajahan bangsa lain.

PERSATUAN DAN KEPEMIMPINAN ISLAM

Seperti yang dipaparkan di atas, penjajahan yang terus berlangsung hingga saat ini terjadi karena wilayah muslim terpisah oleh sekat nasionalisme. Urgensi ini harus dipahamkan kepada seluruh umat Islam, bahwa tanpa bersatu mustahil untuk bisa bangkit dan menang melawan negara-negara kafir. Kebangkitan tidak pernah lahir dari penguasa yang tunduk, melainkan dari umat sadar. 

Makanya penting untuk disadari bahwa kesatuan umat di bawah satu kepemimpinan Islam itu diperlukan. Jika kekuatan militer, ekonomi, dan politik umat berada di bawah satu kepemimpinan yang independen, kemungkinan peta dunia akan berubah secara fundamental. Umat Islam bukan lagi objek permainan melainkan akan menjadi penentu arah sejarah dunia. 

Kepemimpinan Islam akan menyatukan dan menggerakan kekuatan umat Islam tanpa mengharap dari entitas global manapun. Kewibawaan umat ini kembali dan umat Islam siap melawan kolonialisme. Bukan hanya untuk pembebasan Paletina, namun juga menebar rahmat ke seluruh alam. Jadi agenda utama umat sedunia yang sangat strategis ialah menyatukan seluruh potensi neger-negeri muslim menjadi satu kekuatan politik dalam satu institusi pemerintahan Islam global (khilafah Islam)

Wallahu’alam bi showab