-->

Tragedi Daycare, Kapitalisme Merampas Fitrah Ibu


Oleh : Asha Tridayana

Anak merupakan amanah yang dititipkan Allah swt kepada pasangan suami istri yang telah menikah. Menjadi kebahagiaan luar biasa ketika anak itu hadir di tengah-tengah keluarga. Bahkan tidak sedikit yang rela menghabiskan banyak biaya demi mendapatkan buah hati. Tidak sedikit pula yang bertahun-tahun menunggu kehadirannya. Begitu besar anugerah Allah swt, namun sering kali terjadi kelalaian dalam memenuhi amanah-Nya. Terlihat dari banyaknya anak terlantar tanpa pengasuhan yang benar karena orang tua sibuk bekerja, anak tidak mendapatkan pendidikan yang layak atau tercukupi kebutuhan hidupnya. Termasuk anak-anak yang terpaksa bekerja demi membantu orang tuanya. Lebih-lebih menjadi korban genosida seperti di Palestina dan beragam kisah pilu anak-anak baik di negara ini maupun di belahan dunia lainnya. 

Belum lama ini, kenestapaan anak-anak terungkap. Mereka yang belum cukup usia untuk mengutarakan keluhan apalagi memberontak, telah menjadi korban selama bertahun-tahun di sebuah daycare Jogjakarta. Padahal beberapa kali orang tua mencurigai ketidakberesan tetapi dengan sigap disanggah oleh pengelola daycare bahwa luka, lebam atau benjolan hanyalah ulah sesama anak di daycare tersebut. Hingga mantan pekerja daycare melaporkan ke pihak berwajib terkait perlakuan terhadap anak-anak yang tidak manusiawi. Kemudian ditindaklanjuti dengan melakukan penggerebekan dan ditemukan anak-anak dalam kondisi terikat tanpa busana hanya mengenakan popok. Hal ini diungkapkan oleh Kasatreskrim Polres Yogyakarta, Rizki Adrian. Diduga anak-anak telah mengalami penelantaran ekstrim dan dibiarkan saja sekalipun sakit bahkan ada yang menjadi korban kekerasan fisik (www.bbc.com 27/04/26).

Sementara itu, Pimpinan Pusat Tunas Indonesia Raya (PP TIDAR) mendesak agar sistem daycare nasional segera dibenahi. Melalui Ketua Umumnya, Rahayu Saraswati D. Djojohadikusumo menjelaskan peristiwa yang menimpa anak-anak di daycare Yogyakarta menjadi tamparan keras bagi negara untuk meningkatkan pengawasan secara menyeluruh hingga level terbawah. Selain itu, kasus daycare ini menunjukkan lemahnya pengawasan dan standar operasional yang belum terintegrasi dalam sistem perlindungan anak. Padahal anak-anak berhak atas jaminan rasa aman termasuk di ruang publik seperti tempat penitipan/pengasuhan. TIDAR pun menghimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan aktif melaporkan demi memastikan terbentuknya ekosistem pengasuhan anak yang aman dan berintegritas (tirto.id 29/04/26).

Kasus penelantaran dan penganiayaan terhadap anak sudah berkali-kali terjadi, baik oleh pengasuh yang bekerja di rumah ataupun di tempat penitipan anak. Hal ini jelas bukan masalah sepele dan harus segera diselelesaikan. Apalagi terkait sistem yang mendasarinya, karena tragedi ini terstruktur bertahun-tahun tanpa diketahui siapapun. Nampak jelas adanya kelalaian negara dan pihak berwenang dalam menjalankan peran dan tanggung jawabnya. Tidak lain akibat sistem yang diemban negara memang tidak memprioritaskan periayahan terhadap rakyatnya. Hanya menjadikan manfaat dan keuntungan sebagai tujuan dalam setiap program/kebijakan yang dijalankan. Termasuk dalam administratif perijinan daycare yang dapat dinilai alakadarnya tanpa penelurusan atau pengecekan mendetail. Bahkan tidak sedikit daycare tanpa legalitas.

Sistem kapitalis liberal telah merusak tatanan kehidupan. Siapa saja menjadi bebas bertindak tanpa batasan aturan asalkan untung apapun dapat dilakukan. Apalagi tolok ukur kebahagiaan saat ini telah beralih pada pencapaian yang dimiliki. Daycare salah satunya yang disalahgunakan, menjadi tempat mencari cuan dengan memanfaatkan kesibukan orang tua yang tidak memungkinkan melakukan pengasuhan penuh. Minimnya peran orang tua sendiri juga dampak dari penerapan sistem rusak tersebut. Para orang tua, khususnya ibu terpaksa menghabiskan waktunya untuk bekerja dalam rangka mencukupi kebutuhan hidup yang semakin bertambah nilainya. Dari bahan pokok hingga jaminan pendidikan dan kesehatan menjadi tanggungan masing-masing keluarga.

Begitulah wajah asli kapitalis liberal yang telah merenggut fitrah perempuan yang semestinya dapat mengasuh dan mendidik anak-anak, kini beralih peran menjadi tulang punggung yang menanggung beban keluarga. Akhirnya anak pun dititipkan dengan harapan terjamin pengasuhannya justru menjadi korban penganiayaan. Peristiwa semacam ini akan terus terulang selama sumber kerusakan masih diemban. Tidak cukup hanya meningkatkan pengawasan dan standar operasional. Apalagi tidak adanya kesadaran individu dalam mempertanggungjawabkan setiap perbuatan. Satu-satunya jalan dengan mengubah sistem kapitalis liberal dengan sistem shohih yang bersumber dari Allah swt. Tentu bukan manfaat sesaat tapi benar-benar menjamin kelangsungan hidup manusia hingga akhir hayat, terlebih bagi perempuan dan anak-anak.

Islam memandang pengasuhan anak menjadi salah satu bentuk pendidikan dasar dalam keluarga. Sehingga orang tua khususnya ibu yang berperan penting dalam prosesnya. Setiap pertumbuhan dan perkembangan anak menjadi momen istimewa yang tidak tergantikan. Melalui keluarga pula dibentuk kepribadian Islam pada anak, dari penanaman akidah, penerapan syariat hingga kewajiban utuh seorang muslim yang nantinya menjadi bekal menjalani kehidupan. Hal ini tidak mungkin diperoleh di daycare yang faktanya sering kali banyaknya pengasuh tidak sebanding dengan jumlah anak. Tentu potensi terjadi kelalaian semakin besar. Berbeda dengan pola pengasuhan seorang ibu untuk anaknya yang akan benar-benar memastikan tercukupi seluruh kebutuhan anak. Bahkan ibu akan rela berkorban demi anaknya.

Sehingga Islam senantiasa menjaga fitrah perempuan. Melalui peran negara yang bertanggung jawab menyediakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya untuk para suami/ayah agar perempuan tidak turut membanting tulang dan meninggalkan anaknya dalam waktu lama. Hal ini dapat terwujud saat sistem ekonomi Islam diterapkan yang menjadikan negara mampu menopang perekonomian tanpa intervensi pihak lain.

Ditambah lagi, sistem pemerintahan yang dipimpin oleh penguasa yang menyadari amanah kepemimpinannya sehingga tidak berlaku zalim kepada rakyat. Negara benar-benar memprioritaskan kemaslahatan seluruh rakyat bukan mencari keuntungan dari setiap kebijakan. Termasuk meminimalisir pihak tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan keadaan demi materi semata. Sehingga bukan hal mustahil, penerapan sistem Islam akan membawa kebaikan pada setiap aspek kehidupan. Bahkan terjamin kualitas hidup khususnya bagi perempuan dan anak-anak.

Wallahu'alam bishowab.