Amerika Vs Iran, siapakah Pemenangnya?
Oleh : Heni Satika (Pengamat Pendidikan)
Berlangsungnya perang Amerika dan Iran sudah berlangsung hampir 2 bulan. Memasuki masa genjatan senjata ada fakta menarik yang perlu diperhatikan. Dilansir dari CNBC Indonesia sampai bulan April ini, 37 pesawat Amerika hancur dan rusak sehingga potensi kerugian mencapai 28 Triliun. Jika perang berlangsung lebih lama, kemungkinan Amerika mengalami kerugian yang lebih besar dan bisa menembus angka 17 ribu Triliun. Linda Belmes, seorang professor kebijakan public dari Harvard university mengingatkan bahwa biaya real perang akan jauh lebih besar daripada itu dan membawa dampak bagi penduduk Amerika.
Disisi lain Amerika tidak bisa memaksa sekutunya untuk perang bersama melawan Iran. Walaupun Inggris, Perancis dan Jerman mengatakan mereka mendukung Amerika untuk melawan Iran, akan tetapi hingga hari ini tidak pasukan yang dikirim untuk membantu Amerika. Hanya Inggris saja yang memperbolehkan pangkalan militernya digunakan Amerika. Sementara itu negara seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Bahrain mengatakan kalau sampai Iran menyerang pangkalan militer Amerika yang berada di negara mereka. Maka mereka akan membalas Iran.
Bukankah ini sebuah ironi, negeri muslim berdiri bersama penguasa kafir untuk memerangi kaum muslim lainnya. Sungguh tindakan yang tidak bisa dibenarkan oleh akal sehat manapun. Keberpihakan mereka terhadap negeri kafir pada hakekatnya hanyalah melemahkan kesatuan kaum umat. Padahal potensi bersatunya kaum muslim di bawah naungan panji Khilafah menjadi kekuatan global baru yang akan mengalahkan Amerika dan sekutunya.
Amerika mengambil langkah melakukan gencatan senjata yang menurut beberapa pengamat politik menjadi jalan untuk mengambil napas. Karena penolakan terhadap perang juga dilakukan warga Amerika sendiri. Perundingan yang dilakukan pada masa genjatan senjata ini., membahas diantaranya adalah penghentian serangan kepada Iran secara permanen termasuk kepada seluruh kawasan, pemberian ganti rugi kepada Iran, pembukaan selat hormus sebagai imbalannya Iran tidak akan berupaya memiliki senjata nuklir.
Kalau kita mengamati perang tersebut, sebenarnya militer Amerika tidak sekuat kelihatannya. Hanya melawan Iran saja Amerika sudah kewalahan, bahkan dilansir dari Kabar Cirebon.com persenjataan Amerika sudah mulai menipis sehingga memaksanya untuk menunda bahkan tidak bisa memenuhi pesanan dari negara-negara yang selama ini mendapatkan persenjataan dari Amerika. Negara-negara yang diawal berkomitmen kuat berada di belakang Amerika untuk melawan Iran nyatanya hanya menjadi penonton. Karena pada benak mereka tidak aka nada kawan sejati yang ada hanyalah kepentingan yang abadi.
Dari peristiwa tersebut sebenarnya ada satu poin penting yang harus segera diwujudkan yakni membangun kesadaran umat bahwa kesatuan kaum muslim tidak bisa ditunda lagi. Amerika sudah kesulitan melawan satu negara. Apalagi kalau seluruh negeri muslim bersatu, maka tidak akan ada lagi kesombongan Trump dan pengikutnya. Persatuan kaum muslim akan menjaga marwah agama dan pengikutnya. Sehingga tidak akan ada lagi yang berani menyakiti kaum muslim apalagi sampai berani mengusik ketenangannya. Hanya persatuan melalui Khilafah yang akan membebaskan penderitaan negeri kaum muslim yang terjajah. Kalau bukan Khilafah, apakah anda punya opsi lain. Berharap pada BoP? Ataukah kepada OKI? Jauh panggang daripada api. Ataukah berharap pada mediasi yang dilakukan presiden RI agar kaum muslim bisa bebas dari penjajahan Amerika?
Tidak ada jalan lain selain dari persatuan kaum muslim melalui tegaknya Khilafah. Memang kesannya agak jauh tetapi ini satu-satunya pilihan paling masuk akal dan realistis selain memang ini jalan yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Semoga Allah memberikan kesadaran dan keterbukaan mata hati kepada semua kaum muslim.

Posting Komentar