Algoritma Freestyle Merasuk, Merusak, Merenggut Anak, Dimana Peran Negara?
Oleh : Dewi Poncowati
Aktivis Muslimah Peduli Generasi
Media elektronik bukanlah sesuatu yang tabu untuk mendampingi sarana edukasi, tetapi memiliki nilai yang sangat efektif jika dengan pengawasan orang tua. Saat ini derasnya platform hiburan jauh lebih banyak dan lebih mudah diakses oleh anak anak dibandingkan dengan platform edukasi. Sehingga besar kemungkinan konsumsi hiburan lebih diminati ketimbang platform edukasi. Sebelum terjadinya kasus meniru adegan freestyle, pada tahun 2014, seorang anak terjun dari apartemen lantai 19 meniru adegan spiderman, menurut laporan dari liputan6.com. Ini membuktikan tontonan jadi tuntunan.
Bukan hanya tontonan film, aksi viral gaya FreeSyle dari game online Garena Free Fire telah memotivasi anak usia 8 tahun bernama Hamad Izan Wadi yang masih duduk di SDN 3 kelas 1 wilayah Lombok Timur. Bocah itu mengalami cidera patah tulang dan telah menjalankan operasi, namun kondisi Kesehatan semakin buruk sehingga meninggal pada hari minggu, sumber berita kumparanNews, 7 Mei 2026. Fenomena konten digital freesyle bukan hanya memakan korban siswa SD namun miris telah menambah korban yang masih usia dini, siswa taman kanak kanak (TK) berinisial F. Pada saat kejadian kedua orang tua F ada di luar negeri sebagai Tenaga Kerja Indonesia, Sumber berita online tribunpontianak.co.id 17 Mei 2026.
Jika menilik lebih dalam kasus jatuhnya korban anak anak akibat paparan game online merupakan peringatan keras bagi orang tua, sekolah dan masyarakat bahkan negara bahwa ini bukanlah sesuatu kondisi yang normal. Fenomena viralnya adegan freestyle yang memakan korban anak anak usia dini membuat keprihatinan Dinas Pendidikan kabupaten Lombok Timur memberikan kebijakan dengan mengeluarkan surat edaran kepada seluruh sekolah dan UPTD yang berisi pembatasan penggunaan telepon genggam pada anak anak usia dini agar selalu dalam pengawasan orang tua. Pihak sekolah pun juga dilibatkan untuk senantiasa melakukan pengontrolan perilaku siswa. Kasus kasus kekerasan siber, akibat dampak dari paparan digital dan anak retan menjadi korban sebelumnya sudah pernah terjadi.
Berbagai upaya mengatasi kasus ini dari pengontrolan, pembatasan dan penghampusan situs situs yang berbahaya juga telah diterapkan negara dan belum menyelesaikan permasalahan sampai pada akarnya, ini menunjukkan lemahnya aturan sistem negara dan kurang serius dalam menyelesaikan masalah. Sistem kapitalisme yang diemban oleh negara melihat permasalahan bukan pada sumber masalah. Paradigma kapitalistik pada prakteknya lebih berfokus mendapatkan keuntungan material. Penyelesaian masalah kasus ini negara seharusnya membuat aturan yang tegas pada perusahan perusahan platform raksasa yang selalu mengeksploitasi tayangan media demi rating. Pembatasan usia bagi pengguna gadget merupakan solusi yang bersifat teori atau wacana himbauan.
Pada praktik penghapusan situs atau platform hanya bersifat sementara nyatanya perusahaan masih tetap produktif menyajikan dalam permainan dan hiburan yang berbeda tapi tetap berunsur merusak. Hadirnya Islam ditengah tengah kehidupan menjaga nilai eksistensi kehidupan, manusia dan alam sekitar sesuai fitrahnya yang sarat dengan perwujudan kemaslahatan manusia karena itu Islam bukan sekedar agama ritual. Sejatinya manusia hidup terkait taklif hukum Syariah Islam. Islam dalam menyingkapi kasus anak meniru adegan free style maka keberadaan orang tua, masyarakat dan negara adalah hal yang wajib. Kehadiran anak di dunia digital yang belum memiliki akal yang sempurna, standar perbuatan benar dan salah maka bagaikan pisau bermata dua, akan lebih banyak sisi merusak.
Tugas utama orang tua adalah bukan sekedar mencukupi kebutuhan fisik akan tetapi kehadiran orang tua adalah wajib dalam tumbuh kembang anak. Makna yang terkandung dalam Al Qur’an surat At Tahrim ayat 6 bahwa orang tua wajib membekali pondasi keimanan berupa pendidikan agama agar terhindar dalam perbuatan maksiat. Dalam dimensi pendidikan Islam untuk berbagai usia, keberadaan orang tua adalah salah satu elemen dari dua diantaranya masyarakat dan terpenting adalah kekuatan negara. Islam memandang dampak besar dari pendidikan adalah membentuk karakter hamba Allah yang beriman dan bertakwa.
Generasi generasi yang lahir dari pendidikan Islam adalah generasi yang bertakwa kepada Allah maka dalam masyarakat pun senantiasa akan selalu nampak aktivitas mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran. Kecil kemungkinan berbagai aktivitas kemaksiatan akan terjadi. Dalam halnya negara berparadigma Islam memposisikan pemimpin sebagai Junnah atau perisai yang memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk menjaga dan melindungi rakyatnya, hadist riwayat Bukhari dan Muslim. Begitu kebanyakan kejahatan di dunia digital yang memakan korban dalam hal ini anak adalah posisi yang rentan.
Kekuatan negara adalah garda terdepan karena periayahan atas rakyatnya akan dimintai pertanggungjawaban di yaumil akhir nanti. Dalam hal tata Kelola dunia digital negara mengkounter perusahaan platform. Negara akan memastikan keselamatan masa depan generasi dari platform yang merusak moral. Negara memfasilitasi secara gratis Platform dengan konten khusus diperuntukan pada hal hal sarana pendidikan, kesehatan, perkembangan teknologi dan industri perdagangan yang menunjang pertumbuhan ekonomi negara berbasis perekonomian sistem Islam.

Posting Komentar