-->

Kekerasan Remaja Dampak Normalisasi Gaul Bebas


Oleh : Rokani (Aliansi Penulis Rindu Islam)

Terjadi kasus pembacokan di UIN Sultan Syarif Kasim Riau saat mahasiswa sedang menunggu sidang proposal. Pelaku sesama mahasiswa menyerang dengan senjata tajam hingga korban terluka dan dirawat di RS. Motif diduga terkait persoalan percintaan yang ditolak saat keduanya mengikuti KKN, yang berujung pada aksi penyerangan di kampus (kumparanNEWS, 26/02/2026).

Perilaku anak pemuda saat ini jauh dari aturan Islam, karena aktivitas mereka dekat dengan kekerasan dan pergaulan bebas. Ini menunjukkan kegagalan sistem pendidikan sekuler yang membentuk generasi yang jauh dari berakhlak mulia. Krisis generasi saat ini bukan sekedar soal kenakalan remaja, kekerasan, pornografi, judol, pinjol atau merosotnya adab. Semua itu hanya gejalanya saja. Namun, akar masalahnya jauh lebih mendalam, yaitu hilangnya sistem Islam sebagai panduan hidup yang benar. Inilah akibat generasi yang dibesarkan dalam sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, maka wajar saja arah pandang mereka kabur, tidak tau salah benarnya, dan makna bahagia juga ditentukan dengan validasi manusia dan materi.

Dalam pandangan Islam, generasi bukan sekedar aset masa depan, tetapi amanah peradaban. Karena itu, Islam menyelamatkan generasi tidak bersifat tambal sulam, melainkan totalitas (kaffah), contohnya membentuk kepribadian yang shohih, membenahi cara berpikir dan menegakkan sistem yang sesuai dengan fitrah manusia.

Penyebab remaja saat ini banyak yang nakal. Ada dua penyebab yang menjadikan anak itu nakal yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Untuk faktor internal, terjadinya anak nakal melakukan penyimpangan karena mengalami krisis identitas. Masa pubertas mengakibatkan anak mencapai identitas peran sesuai imajinasi mereka. Kemudian kontrol diri yang lemah, sehingga anak berpotensi melakukan kejahatan atau berperilaku nakal. Tidak bisa mengontrol emosional mengakibatkan anak kurang mampu memahami atau menilai konsekuensi apa yang akan terjadi setelah melakukan tindakan tersebut. Jadi tindakan mereka dipengaruhi oleh hawa nafsu, bukan oleh berfikir yang jernih.

Sementara dari faktor eksternal ialah anak menjadi nakal karena merasa kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya. Anak yang mendapatkan kasih sayang yang cukup dari orang tua, akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Sementara anak - anak yang kurang kasih sayang maka akan mencari perhatian di luar keluarga. Bahkan, mereka ada yang mendapatkan kasih sayang dari orang yang salah, yang bisa menjerumuskan dalam lingkaran kejahatan. 

Dan anak yang mengalami trauma psikologis yang pernah mengalami korban kekerasan akan mengalami perubahan perilaku. Anak kesulitan mengatasi emosi dan traumanya, sehingga menjadikan kenakalan untuk melepaskan perasaan tersebut.

Dan tempat pendidikan sekolah juga lingkungan sekitar bisa mempengaruhi perilaku kenakalan pada anak remaja saat ini. Mereka akan merekam dalam memorinya bagaimana dia melihat, mendengar dan meniru kebiasaan orang - orang yang berada di sekelilingnya. Kemudian pertemanan yang buruk dapat merusak dan menjerumuskan. Dan bisa juga karena tontonan anak sekarang yang kurang bermutu, yang malah bisa mendorong untuk melakukan tawuran, kekerasan, kemudian permasalahan perceraian kedua orang tuanya, itu juga bisa menjadi sebab kenakalan remaja saat ini.

Jadi masalahnya kompleks, karena kita hidup di sistem kapitalisme yang membuat banyak problem karena memang dari sistem yang rusak akan melahirkan kerusakan.

Karena anak hanya di didik bagaimana aku bisa lulus sekolah dapat pekerjaan yang bisa menghasilkan uang yang banyak, gimana cara biar mudah terkenal meskipun dengan konten yang enggak bermutu. Mereka tidak tau bagaimana cara mengatasi suatu persoalan, sehingga kekerasan dan amarahlah yang ada dibenak mereka.

Padahal manusia butuh jawaban eksistensial, "Siapa aku? Untuk apa aku hidup di dunia ini ? Mau kemana setelah kematian?" Kalau tiga persoalan mendasar ini belum bisa kejawab, wajar jika anak - anak mudah frustasi, mudah marah, tidak bisa mengontrol hawa nafsu dan gampang mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan dengan matang, konsekuensi apa yang bakalan terjadi ketika mereka mengambil keputusan dengan amarah.

Islam adalah agama yang sempurna dan tak ada sedikitpun keraguan di dalamnya. Islam datang untuk membawa petunjuk, bahwasannya hidup ialah untuk beribadah dan mencari ridho Allah.

Allah berfirman dalam Al- Qur'an surah Adz-Dzariyat ayat : 56 " Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku".

Dan Rasulullah SAW juga bersabda, "Barangsiapa yang dunia menjadi niat terbesarnya, maka Allah akan cerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran selalu di pelupuk matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali sekedar yang ditakdirkan. Dan barangsiapa yang niat terbesarnya adalah akhirat, maka Allah akan menghimpun kan urusannya, menjadikan kaya hatinya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan hina." (HR. Ibnu Majah)

MasyaAlloh, ayat dan hadist di atas bisa kita jadikan pegangan, bahwasannya kita harus mengutamakan akhirat maka dunia akan mengikuti. Ketika seseorang itu berkepribadian Islam maka akan otomatis pola pikir dan pola sikap akan sesuai dengan syariat Islam. Berarti cara mikir kita harus Islam, cara sikap juga harus Islam, maka akan lahir dari generasi yang beriman dan berakhlak yang baik, ketika ada masalah maka kita akan mencari jalan keluar sesuai dengan aturan Islam, tidak sesuai dengan hawa nafsu kita.

Masalah hari ini bukan lagi masalah individu, melainkan masalah sistemik. Dan solusinya sendiri bukan sekedar konseling atau healing trip, tapi mengubah cara pandang hidup, yang harus dibangun sistem yang membuat remaja paham visi hidupnya, yaitu taat Allah, meraih surga dan siap memimpin peradaban mulia.

Islam solusi dari semua persoalan kehidupan Yakni:
Yang Pertama, negara akan menerapkan sistem pendidikan Islam berasaskan akidah Islam. Akidah bukan hanya sekedar urusan ibadah ritual, tetapi standar menilai hidup. Dengan akidah, generasi tahu untuk apa mereka hidup di dunia, kepada siapa mereka bertanggung jawab dan akan kemana mereka kembali.

Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan bahwa akidah adalah qi'idah fikriyah (landasan berfikir) yang akan melahirkan seluruh aturan kehidupan. jika akidahnya rusak atau dipisahkan dari kehidupan, maka akan lahir generasi yang cerdas secara teknis tetapi kosong secara moral. Inilah yang terjadi saat ini, pintar tapi bingung. Tujuan kritis, tapi kehilangan arah. Islam membentuk generasi yang berpikir dengan standar Wahyu, bukan hawa nafsu atau tren. dengan begitu penerapan sistem pendidikan Islam ini akan melahirkan generasi yang berkepribadian Islam.

Yang kedua, keluarga menjadi benteng pertahanan untuk anak-anaknya, orang tua dijadikan teladan contoh yang baik, baik keimanannya dan akhlaknya.

"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." ( HR. Bukhari dan Muslim )

Dan juga kontrol masyarakat sosial yang kuat. Masyarakat saling beramar makhruf nahi Munkar, mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran. Tidak hanya diam ketika melihat kemaksiatan, tapi mencegahnya dan mengajak dan mengingatkan untuk berbuat kebaikan.

Yang ketiga ini adalah peran yang sangat penting yakni negara wajib menjadi periayah umat, bukan hanya melihat. Negara dalam sistem Islam (khilafah) wajib menjamin sekolah gratis, berobat ke RS gratis juga berkualitas, dan kontrol media nggak jadi biang kerok. Negara juga harus mengelola sumber kekayaan alam hanya untuk rakyat, agar kesejahteraan bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat bukan hanya segelintir orang saja, tapi rata menyeluruh baik orang itu miskin atau kaya.

Dengan sistem yang Islam akan membuat anak tidak mudah marah bisa mengontrol hawa nafsunya. Ketika dia tau bahwasannya kehidupan ialah ujian dan ujian itu akan menjadikan dia semakin taat atau bermaksiat. Maka dia mudah untuk menyelesaikan masalah, contoh ketika anak pengen hp baru, maka dia akan bersabar dan menabung, bukan malah menindas orang tua. Ketika di amanahi untuk menjadi bendahara maka dia akan menjaga uang itu sebaik- baiknya, bukan malah menghabiskannya. 

Jadi kita ubah cara pandang hidup. Didik anak dengan tujuan akhirat, bahwasannya dunia ini fana dan akhirat yang kekal. Hanya di sistem Islam yang akan melahirkan generasi tangguh, kuat mental, cerdas, dan siap memimpin peradaban.

Wallahu'alam bishowab.